RADARBANYUWANGI.ID - Kabar mengejutkan datang dari dunia sepak bola Banyuwangi. Klub Liga 4 asal Banyuwangi, Banyuwangi Putra (BP) sejak Rabu (14/1) resmi berpindah kepemilikan kepada Elkisi FC Mojokerto.
Dengan berpindahnya kepemilikan BP, secara otomatis klub berjuluk Naga Jawa itu akan berpindah home base dari Banyuwangi ke Mojokerto pada Liga 4 musim depan.
Kabar penjualan BP sebenarnya sudah mencuat sejak lama.
Klub yang didirikan almarhum Fathul Muin pada 2009 lalu itu ditawar beberapa orang, termasuk bos Mitra Surabaya, Decky Firmansyah.
Klub tersebut juga sempat ditawar beberapa pengusaha lokal Banyuwangi, namun belum mendapat kata sepakat, hingga akhirnya dikabarkan terjual ke Mojokerto.
Sekretaris Banyuwangi Putra Rony Nurdiansyah membenarkan jika klubnya dijual.
Keputusan itu diambil melalui komunikasi internal keluarga besar pendiri klub dan pihak pembeli dengan pertimbangan keberlanjutan klub dan arah pembinaan sepak bola ke depan.
“Yang membeli itu pondok di Mojokerto. Mereka punya rencana mendirikan pondok pesantren sepak bola. Jadi konsepnya memang pembinaan,” kata Rony.
Pembeli BP, yaitu klub Elkisi FC Mojokerto, memiliki rekam jejak pembinaan usia muda, khususnya di kelompok usia 17 tahun.
Bahkan, tim binaan mereka sempat menembus partai final dan meraih peringkat kedua dalam ajang Porprov Jawa Timur.
“Jebolan Elkisi ini juga banyak tampil di Popda. Setelah itu pembinaannya dilanjutkan. Anak-anak usia remaja dari pondok pesantren nanti akan disalurkan ke Liga 4. Ini sesuai dengan tujuan pembinaan kami," jelasnya.
Rony menegaskan, pembeli tidak memasang target prestasi jangka pendek. Fokus utama adalah pengembangan pemain hasil pembinaan sendiri.
Meski demikian, ke depan masih terbuka peluang kerja sama, terutama jika Elkisi FC membutuhkan tambahan pemain senior.
“Kalau nanti butuh pemain tambahan, kita bisa bantu rekomendasikan pemain-pemain senior. Komunikasinya sebatas itu,” ujarnya.
Terkait proses administrasi, Rony menyebut legalitas kepemilikan masih dalam tahap pengurusan dan mulai berjalan per 14 Januari 2026.
Dia memastikan seluruh proses dilakukan secara terbuka dan melibatkan pihak keluarga pendiri klub.
“Kami sudah komunikasi dengan ibu pendiri dan keluarga. Yang menandatangani ada tiga pihak, termasuk ibu dan Mas Pepdi (Ketua Klub). Kita ambil jalan terbaik supaya tidak ada yang dirugikan,” katanya.
Rony menyampaikan keputusan melepas Banyuwangi Putra tidak lepas dari pertimbangan kemanusiaan.
Sebab, pihak pembeli merupakan lembaga pondok pesantren sehingga diharapkan ada nilai kebermanfaatan yang terus mengalir bagi almarhum pendiri klub.
“Karena yang membeli pondok, ada nilai jariah yang masih berjalan untuk almarhum (Pendiri BP). Di sisi lain, keluarga juga terbantu (secara finansial),’’ pungkasnya. (fre/aif)
Editor : Ali Sodiqin