Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Menatap Era Baru F1 2026, Dari Lewis Hamilton hingga Manuver Ferrari

Lugas Rumpakaadi • Sabtu, 10 Januari 2026 | 08:51 WIB
Formula 1 2026 diwarnai isu kembalinya GP Jerman.
Formula 1 2026 diwarnai isu kembalinya GP Jerman.

RADARBANYUWANGI.ID - Formula 1 memasuki fase krusial menjelang musim 2026.

Di balik persiapan teknis dan regulasi baru, sejumlah isu strategis mulai mencuat, mulai dari peluang kembalinya Grand Prix Jerman, aktivitas menarik Lewis Hamilton di luar lintasan, hingga sinyal protes Ferrari terhadap rival-rivalnya.

Seluruh dinamika ini mencerminkan betapa padat dan kompetitifnya arah F1 di era modern.

Peluang Kembalinya Grand Prix Jerman

CEO Formula 1, Stefano Domenicali, menyatakan adanya “tanda-tanda optimisme” terkait kemungkinan kembalinya Grand Prix Jerman ke kalender balap.

Jerman memiliki sejarah panjang di Formula 1, pertama kali masuk kalender pada 1951 dan secara rutin menggelar balapan antara 1961 hingga 2006 di Nürburgring dan Hockenheimring.

Grand Prix Jerman terakhir berlangsung pada 2019, sementara balapan terakhir di wilayah tersebut adalah Grand Prix Eifel 2020.

Sejak itu, desakan agar F1 kembali ke Jerman terus muncul, terutama di tengah kalender yang semakin padat di bawah kepemilikan Liberty Media.

Domenicali menegaskan bahwa F1 terbuka untuk diskusi, tetapi hanya dengan penyelenggara dan tawaran yang tepat.

Hockenheim disebut sebagai kandidat terkuat setelah melakukan pembaruan infrastruktur, sementara Nürburgring mengakui kendala finansial sebagai hambatan utama.

Meski demikian, F1 tidak berada dalam posisi terdesak karena tingginya minat tuan rumah dari berbagai negara.

Lewis Hamilton dan Persiapan Tak Biasa Menuju Musim 2026

Di sisi pembalap, Lewis Hamilton menarik perhatian publik lewat cara persiapannya menghadapi musim 2026.

Juara dunia tujuh kali itu terlihat menunggangi motor motocross KTM 250 XC-F, menunjukkan kecintaannya pada dunia roda dua.

Hamilton memang dikenal sebagai penggemar motor.

Ia pernah bertukar kendaraan dengan Valentino Rossi pada 2019 dan terlibat dalam proyek edisi khusus MV Agusta.

Namanya juga sempat dikaitkan dengan investasi tim MotoGP, terutama setelah Liberty Media mengakuisisi MotoGP pada 2024.

Aktivitas tersebut berlangsung di tengah upaya Hamilton bangkit dari musim 2025 yang sulit.

Bersama Ferrari, ia gagal meraih kemenangan maupun podium, tertinggal hampir 90 poin dari Charles Leclerc.

Musim 2026 pun menjadi momentum penting untuk mengembalikan performa dan reputasinya di puncak balap dunia.

Ferrari dan Isu Protes Regulasi 2026

Ferrari tidak hanya fokus pada lintasan, tetapi juga bersiap melakukan manuver strategis.

Menjelang seri pembuka Formula 1 2026 di Australia, tim asal Maranello itu dikabarkan mempertimbangkan protes terhadap sejumlah rivalnya.

Laporan media Swiss menyebutkan bahwa tim-tim dengan mesin Mercedes dan Red Bull diduga menemukan celah regulasi terkait rasio kompresi mesin pembakaran internal.

Interpretasi tersebut disebut mampu memberikan tambahan tenaga signifikan pada unit daya 2026.

Ferrari, yang tidak mengambil pendekatan serupa, bersama produsen mesin lain dikabarkan siap menyampaikan protes resmi kepada FIA.

Langkah ini mengingatkan publik pada sejarah Formula 1, ketika inovasi celah aturan, seperti double diffuser Brawn GP pada 2009, mampu mengubah peta persaingan secara drastis.

Editor : Lugas Rumpakaadi
#formula 1 #lewis hamilton #jerman #ferrari #f1