Celtic sempat unggul lebih dulu lewat sepakan keras Yang Hyun-Jun yang menjadi puncak dominasi mereka di babak pertama. Namun, keunggulan itu tidak mampu dipertahankan. Momentum pertandingan berbalik total ketika Rangers memanfaatkan rapuhnya pertahanan tuan rumah.
Situasi semakin memanas ketika kekecewaan suporter Celtic meledak di tribun. Amarah diarahkan kepada jajaran direksi, memunculkan suasana tidak kondusif yang membuat jalannya pertandingan nyaris menjadi latar belakang dari kekacauan di luar lapangan.
Tekanan Meningkat untuk Wilfried Nancy
Baca Juga: Bulgaria Resmi Hapus Mata Uang Lev, Ini Gantinya
Kekalahan ini menjadi yang keenam dalam delapan laga terakhir bagi manajer Celtic, Wilfried Nancy, yang kini berada di bawah tekanan besar. Sekali lagi, pertahanan yang rapuh menjadi titik lemah utama, setelah performa menjanjikan di awal laga menguap begitu saja.
Sebaliknya, Rangers yang sempat tertinggal delapan poin dari Celtic saat Danny Rohl mengambil alih tim, kini benar-benar kembali ke jalur perburuan gelar. Kemenangan ini bukan sekadar tiga poin, melainkan pernyataan tegas bahwa mereka masih kandidat serius juara.
Babak Pertama Milik Celtic, Babak Kedua Milik Rangers
Taruhannya sangat besar. Rangers ingin menghidupkan kembali peluang juara, sementara Celtic membutuhkan hasil positif untuk meredam tekanan. Di 45 menit pertama, Celtic seharusnya mampu mengamankan kemenangan dengan nyaman.
Yang Hyun-Jun tampil menginspirasi, mencetak gol indah dari sudut sempit. Celtic menciptakan sejumlah peluang emas, namun penyelesaian akhir yang buruk, termasuk kegagalan Auston Trusty dan Johnny Kenny, serta ketangguhan kiper Jack Butland membuat keunggulan tidak bertambah.
Kegagalan itu menjadi titik balik. Rangers menghukum Celtic ketika Nicolas Raskin dengan mudah menusuk sisi pertahanan dan mengirimkan umpan matang yang diselesaikan Chermiti dari jarak dekat.
Gol tersebut membuka keran kepercayaan diri Rangers. Chermiti kembali mencetak gol setelah dibiarkan bebas di sisi kiri, mengecoh Trusty, dan melepaskan tembakan akurat ke sudut jauh gawang. Penyerang mahal yang sebelumnya kerap dikritik itu akhirnya membayar kepercayaan publik Ibrox.
Rangers mencium peluang untuk mengunci kemenangan, dan Mikey Moore memastikan hasil akhir dengan penyelesaian klinis yang memicu euforia besar di tribun pendukung tamu.
Analisis: Celtic Runtuh, Rangers Kian Percaya Diri
Wilfried Nancy membutuhkan kemenangan besar, dan performa besar. Ia hanya mendapatkan satu di antaranya, itu pun hanya bertahan selama satu babak. Penampilan Celtic yang solid di awal berubah menjadi kehancuran total di babak kedua.
Rekor enam kekalahan dari delapan pertandingan menempatkan Celtic dalam situasi krisis. Suporter yang semula menikmati permainan timnya, berbalik meluapkan kemarahan. Pertanyaan besar kini muncul: apakah situasi ini masih bisa diperbaiki?
Laga ini mencerminkan masalah Celtic yang berulang, kesalahan sendiri dari posisi unggul. Rangers tak menyia-nyiakan kesempatan tersebut.
Danny Rohl sebelumnya menyatakan timnya siap menghadapi laga besar ini. Meski awalnya goyah, Rangers tampil matang ketika peluang datang. Manajemen tim yang cermat kini membuahkan hasil: mereka resmi kembali dalam perburuan gelar.
Dengan Celtic yang sedang terjun bebas, momentum kini sepenuhnya berada di tangan Rangers. Kemenangan monumental ini menunjukkan bahwa mereka memiliki mentalitas, kualitas, dan konsistensi yang dibutuhkan untuk menantang gelar Scottish Premiership hingga akhir musim. (*)
Editor : Niklaas Andries