Gol bunuh diri Yerson Mosquera pada menit ke-94 memastikan kemenangan The Gunners, namun performa Arsenal, khususnya di lini serang, menjadi sorotan tajam.
Pasalnya, tuan rumah baru mencatatkan tembakan tepat sasaran pertama pada menit ke-66, sebuah penantian terlama dalam laga kandang Premier League sejak Januari 2019.
Rekor Buruk di Emirates
Sepanjang pertandingan, Arsenal kesulitan membongkar pertahanan rapat Wolves. Peluang tepat sasaran pertama baru tercipta saat Declan Rice melepaskan tembakan jarak jauh di menit ke-66.
Statistik tersebut menandai penantian terlama Arsenal untuk mencatatkan shot on target di kandang sendiri dalam ajang Premier League selama lebih dari lima tahun, sekaligus menjadi rekor terburuk mereka di era kepelatihan Arteta.
Meski sang pelatih akan mengapresiasi daya juang dan mentalitas timnya yang mampu tetap menang saat bermain di bawah standar, ketumpulan di sepertiga akhir lapangan jelas menjadi pekerjaan rumah besar.
Harapan Terselip bagi Manchester City
Penampilan Arsenal ini bisa menjadi angin segar bagi Manchester City. Pasukan Pep Guardiola wajib meraih kemenangan atas Crystal Palace untuk memangkas jarak dengan Arsenal menjadi dua poin.
Walau belum bisa merebut puncak klasemen, City diyakini cukup terdorong melihat Arsenal kesulitan menghadapi Wolves, tim yang baru mengoleksi dua poin dan hanya mencetak sembilan gol dari 16 pertandingan.
Wolves bahkan berada di jalur untuk mencetak rekor kelam sebagai tim dengan jumlah poin terendah dalam sejarah Premier League, melampaui rekor buruk Derby County dengan 11 poin.
Fakta bahwa Arsenal gagal mencetak gol dari permainan terbuka dan bergantung pada dua gol bunuh diri lawan tentu menjadi sinyal bahaya.
Secara defensif, Arsenal memang impresif dengan hanya 10 gol kebobolan musim ini. Namun sejarah mencatat, tim dengan pertahanan terbaik gagal menjuarai Premier League dalam tiga musim terakhir, sesuatu yang tentu disadari betul oleh Guardiola, terlebih City saat ini menjadi tim paling produktif dengan rata-rata 2,3 gol per laga.
Mengapa Viktor Gyokeres Kesulitan di Arsenal?
Sorotan juga mengarah pada Viktor Gyokeres, rekrutan musim panas yang diharapkan menjadi kepingan terakhir puzzle Arteta. Kenyataannya, penyerang asal Swedia itu gagal mencetak gol dalam 13 dari 15 pertandingan terakhirnya bersama Arsenal.
Ironisnya, gelandang Mikel Merino justru terlihat lebih nyaman saat diplot sebagai penyerang tengah. Gyokeres, yang bersinar di Sporting Lisbon dengan memanfaatkan ruang dan membawa bola ke kotak penalti, jarang mendapat kesempatan serupa di Arsenal.
Peran yang diminta Arteta, menjadi target man yang harus berduel langsung dengan bek tengah, terbukti menyulitkan Gyokeres menghadapi fisik keras para bek Premier League.
Situasi ini memunculkan spekulasi bahwa Arteta bisa saja mengembalikan Kai Havertz sebagai penyerang utama setelah pulih dari cedera.
Arsenal memang menang dan tetap berada di jalur juara, tetapi performa kontra Wolves memunculkan alarm serius.
Rekor buruk di Emirates, lini depan yang tumpul, serta mandeknya Gyokeres bisa menjadi faktor penentu dalam perburuan gelar, terutama jika Manchester City mulai menemukan momentum mereka.
Bagi Arteta, kemenangan ini bukan sekadar tiga poin, melainkan peringatan keras bahwa perbaikan harus segera dilakukan. (*)
Editor : Niklaas Andries