“Jika saya bisa membantu seorang pemain menjadi pelatih dengan memperkaya pengembangannya, saya akan senang. Johan Cruyff melakukan itu untuk saya,” ucap Guardiola kala itu.
Alonso mempelajari banyak hal dari sang maestro. Ia kemudian menorehkan sejarah bersama Bayer Leverkusen sebelum akhirnya kembali ke Santiago Bernabeu sebagai kandidat ideal pengganti Carlo Ancelotti. Namun kini, status pelatih Real Madrid itu semakin terancam seiring performa buruk Los Blancos.
Dalam wawancaranya dengan Coaches’ Voice, Alonso mengakui bahwa dua tahun bersama Guardiola membentuk cara pandangnya terhadap sepak bola. Namun ironi muncul ketika reuni pertama antara “guru dan murid” ini justru terjadi di tengah krisis besar yang membelit Madrid.
Kondisi Madrid Memburuk Jelang Hadapi City
Tidak ada persiapan yang lebih buruk bagi Madrid sebelum bertemu Manchester City di Liga Champions selain rangkaian hasil negatif yang mereka alami.
Los Blancos hanya menang sekali dalam lima laga domestik, kebobolan tiga gol konyol dari Olympiacos, kalah tanpa perlawanan dari Celta Vigo, hingga harus melihat tiga pemainnya mendapat kartu merah.
Cedera Eder Militao yang kembali absen lama serta keberhasilan Barcelona membalikkan selisih poin juga memperburuk situasi menjelang laga besar ini.
Tidak heran jika masa depan Alonso diprediksi akan ditentukan oleh hasil melawan Manchester City. Meski demikian, sang pelatih menegaskan bahwa dirinya memahami betul karakter klub tempat ia bekerja.
“Saya tahu di mana saya berada,” ujarnya.
Realitas Keras Bernabeu
Ucapan Alonso merujuk pada budaya Real Madrid: kesabaran adalah barang langka. Presiden Florentino Perez dikenal tidak segan memecat pelatih, bahkan hanya dalam hitungan bulan. Sejak ia kembali memimpin klub, sudah ada 10 pelatih yang berhenti dalam kurun tiga bulan hingga satu tahun.
Namun kondisi ini tidak otomatis berarti bahwa Manchester City akan menenggelamkan Alonso. Rekor Madrid menghadapi City di Bernabéu cukup superior, hanya sekali kalah dan punya kebiasaan mencetak tiga gol ke gawang klub Inggris tersebut.
Menariknya, City sendiri baru saja kalah 0-2 dari Bayer Leverkusen yang dulunya pernah menjadi asuhan Xabi Alonso. Kekalahan itu menjadi salah satu kejutan terbesar musim Eropa ini.
Artinya, laga ini tidak sepenuhnya mengarah pada kesimpulan bahwa City pasti mendominasi. Tetapi ada fakta keras: kondisi Madrid saat ini jauh dari ideal.
Madrid Tak Terhubung, Bergantung pada Mbappe
Baca Juga: Warung di Bangorejo Banyuwangi Terbakar Akibat Kompor Lupa Dimatikan, Kerugian Capai Rp 10 Juta
Los Blancos kini tampak tidak solid, ceroboh, dan sangat bergantung pada Kylian Mbappe. Mereka hanya menang dua kali dari 21 laga ketika sang bintang gagal mencetak gol.
Serangkaian cedera, tekanan mental, hingga kondisi lapangan Bernabeu yang memengaruhi gaya bermain membuat Madrid terlihat rapuh. Ketika Thibaut Courtois tidak tampil prima, mereka mudah ditembus.
Sebaliknya, Guardiola meski City sedang tidak berada pada versi terbaiknya, tetap ahli dalam membaca kelemahan lawan dan menyiapkan strategi khusus untuk menghancurkannya.
Warisan Pep dan Tantangan Alonso
Alonso, dalam refleksinya tentang Guardiola, pernah mengatakan, “Dalam hal memahami, menjelaskan, dan mengantisipasi permainan, Pep selalu selangkah lebih maju.”
Ia juga menegaskan bahwa ide sehebat apa pun tidak akan berguna jika para pemain tidak memahami dan menerimanya.
“Saya bisa memiliki gagasan fantastis, tetapi jika tim tidak membenamkannya dalam permainan, ide itu tak akan efektif,” ujarnya.
Dari luar, tampak jelas bahwa beberapa pemain Madrid kesulitan menerapkan filosofi Alonso. Guardiola sendiri diberi waktu dan kesabaran ketika pertama kali melatih Manchester City pada 2016.
Ia diberitahu bahwa klub tidak bisa langsung mendukung penuh revolusi skuad yang diinginkannya, namun ia diminta bersabar. Kesabaran itu terbayar dengan transformasi besar City dalam beberapa tahun.
Real Madrid tidak memiliki budaya seperti itu. Di Bernabeu, pelatih bukan penguasa; presiden dan para pemain berada di posisi lebih tinggi dalam hierarki.
Duel Mesin Gol: Mbappe vs Haaland
Laga ini juga menjadi pertemuan keempat antara dua fenomena sepak bola modern, Kylian Mbappe dan Erling Haaland. Duel mereka menjadi pemanasan menuju bentrokan Prancis vs Norwegia di fase grup Piala Dunia 2026.
Mbappe ingin menyamai Haaland yang sudah menjuarai Liga Champions musim lalu. Sementara itu, Alonso membutuhkan performa istimewa dari sang megabintang untuk meredam turbulensi di klub dan memberi dirinya waktu lebih lama untuk menata Madrid yang masih belum menemukan bentuk terbaiknya. (*)
Editor : Niklaas Andries