RADARBANYUWANGI.ID - Lando Norris menutup musim F1 2025 dengan sebuah pencapaian bersejarah, yakni menjadi juara dunia untuk pertama kalinya.
Hasil tersebut dipastikan setelah ia finis di posisi ketiga pada Grand Prix Abu Dhabi, cukup untuk mengungguli Max Verstappen dengan selisih dua poin dalam pertarungan gelar paling dramatis musim ini.
Momen yang Terasa ‘Seperti Film’
Sesaat setelah memastikan gelar, Norris mengungkapkan bahwa dua putaran terakhir di Yas Marina terasa seperti perjalanan menelusuri kembali seluruh hidupnya.
Ia menggambarkan bagaimana pikirannya melayang menuju hari-hari awal saat pertama kali menyentuh gokart, kemenangan di kejuaraan dunia karting 2014, hingga naik turun kariernya bersama McLaren sepanjang tujuh tahun terakhir.
Menurut pengakuannya, ia seolah menyaksikan dirinya sendiri dari perspektif “bird’s-eye view” ketika memutari trek.
Saat melintasi jembatan menuju putaran terakhir, bayangan tentang ibunya yang menunggu di garasi membuatnya semakin emosional.
Momen melihat bendera finis menjadi titik puncak yang menurutnya “layak untuk disimpan selamanya.”
Selebrasi Semalam Suntuk
Setelah garis finis, perayaan pun berlangsung hingga dini hari.
Norris menghabiskan malam bersama sahabat-sahabatnya di W Hotel yang menghadap langsung ke Yas Marina.
Ia bahkan menutup malam dengan makan di McDonald’s, sebuah keputusan yang diakuinya langsung ia sesali setelah menyantap Sausage McMuffin.
Mengatasi Tekanan dan Kebangkitan Musim Ini
Perjalanan menuju gelar tidak selalu mulus.
Norris harus menghadapi berbagai kesulitan pada awal musim ketika ia kesulitan menemukan rasa percaya diri pada grip bagian depan mobil McLaren.
Situasi ini sempat membuat rekan setimnya, Oscar Piastri, memimpin klasemen melalui serangkaian penampilan solid.
Namun pembaruan pada suspensi depan akhirnya membuat Norris kembali nyaman.
Andrea Stella, kepala tim McLaren, menilai bahwa cara Norris menghadapi periode sulit itu merupakan titik balik yang menentukan.
Pendewasaan menyeluruh, baik teknis, mental, maupun gaya membalap, menjadi kunci keberhasilannya merebut gelar.
Stella juga menyoroti pelajaran besar yang diambil Norris dari pertarungan melawan Verstappen pada musim sebelumnya.
Menurutnya, Norris mulai menyadari bahwa ia benar-benar mampu bertarung di level yang sama dengan sang juara dunia empat kali tersebut.
Insiden dengan Yuki Tsunoda dan Dampaknya
Grand Prix Abu Dhabi tidak luput dari kontroversi.
Yuki Tsunoda, yang kala itu membela Red Bull untuk terakhir kalinya, mendapat instruksi via radio untuk “menyulitkan” Norris demi membantu Verstappen.
Hal tersebut berujung pada manuver bertahan agresif di trek lurus belakang, termasuk beberapa perpindahan jalur yang akhirnya memaksa Norris keluar lintasan.
FIA menjatuhkan penalti lima detik pada Tsunoda serta satu poin penalti pada superlisensinya.
Insiden itu menambah daftar pelanggarannya menjadi delapan poin dalam periode 12 bulan.
Sementara itu, Norris dinyatakan tidak bersalah meski menyelesaikan manuver dengan semua roda melewati batas trek.
Sukses Bersejarah dan Tradisi Nomor 1
Sebagai juara dunia ke-11 asal Inggris, Norris kini berada di jajaran elite F1.
Ia menegaskan bahwa gelar tersebut tidak akan mengubah kepribadiannya, meski mengakui kehidupan eksternalnya mungkin akan berbeda.
Musim depan, ia akan meninggalkan nomor 4 yang telah digunakan sejak debutnya pada 2019.
Sesuai tradisi, ia memilih menggunakan nomor 1, hak eksklusif bagi juara bertahan.
Ia menekankan bahwa nomor tersebut bukan hanya kebanggaan untuk dirinya, tetapi juga untuk seluruh anggota tim McLaren yang berjuang sepanjang musim.
Ucapan Selamat dari Berbagai Tokoh Dunia
Prestasi Norris mendapat apresiasi dari berbagai figur ternama, termasuk Perdana Menteri Inggris Sir Keir Starmer, pemain NBA Jimmy Butler, juara tenis Carlos Alcaraz, hingga juara dunia darts Luke Littler.
Meski begitu, Norris menyampaikan bahwa momen paling berarti baginya tetaplah kebersamaan dengan keluarga dan sahabat dekat.
Akhir Musim Penuh Drama dan Awal Era Baru
Musim ini menutup satu bab penting dalam karier Lando Norris, awal dari status barunya sebagai juara dunia Formula One.
Persaingan sengit dengan Verstappen dan Piastri, perjuangan teknis McLaren, serta insiden-insiden yang mewarnai musim menjadikan gelar ini salah satu yang paling dramatis dalam sejarah modern F1.
Dengan nomor 1 menghiasi mobilnya musim depan dan perubahan regulasi yang memungkinkan fleksibilitas nomor start dari 2026, Norris kini memulai babak baru sebagai pemegang gelar yang harus mempertahankannya.
Namun bagi sang juara, inti dari perjalanan ini tetap sama, yakni kerja keras, kerendahan hati, dan rasa terima kasih kepada semua yang mendampinginya sejak hari pertama.
Editor : Lugas Rumpakaadi