Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Karier Mohamed Salah di Ujung Tanduk? Komentar Pedasnya Dinilai Hancurkan Reputasi di Liverpool

Niklaas Andries • Senin, 8 Desember 2025 | 15:30 WIB

TINGGALKAN ANFIELD: Mohamed Salah pergi dari LIverpool per 15 Desember 2025
TINGGALKAN ANFIELD: Mohamed Salah pergi dari LIverpool per 15 Desember 2025
RADARBANYUWANGI.ID - Mohamed Salah akhirnya mencatatkan performa signifikan musim ini. Namun, alih-alih menjadi pembicaraan karena aksinya di lapangan, ia justru mencuri perhatian publik lewat pernyataan kontroversial di luar pertandingan, sebuah sinyal kuat bahwa kejayaannya sebagai bintang utama Liverpool mulai memudar.

Setiap pesepak bola besar pasti tidak ingin mengakui kenyataan pahit, ketika komentar mereka lebih banyak menjadi berita ketimbang kontribusi nyata di lapangan, itu adalah pertanda bahwa pengaruh mereka tengah menurun.

Pernyataan Salah usai laga imbang 3-3 melawan Leeds United pada Sabtu lalu, ketika ia kembali menjadi pemain cadangan, menjadi headline yang tak kalah sensasional dibanding 250 golnya sejak tiba dari AS Roma pada 2017. Namun kali ini, kata-katanya lebih menguntungkan dirinya sendiri ketimbang membawa dampak positif bagi tim.

Sindiran Pedas: “Saya Dilempar ke Bawah Bus”

Baca Juga: Harga Emas Perhiasan Turun 7 Desember 2025, Rajaemas dan Lakuemas Kompak Pangkas Harga Jelang Akhir Tahun

Salah menyebut dirinya telah “dilempar ke bawah bus” dan menegaskan bahwa ada pihak yang sengaja menjadikannya kambing hitam. Komentar itu mengingatkan publik pada wawancara eksplosif Cristiano Ronaldo dengan Piers Morgan pada 2022, yang akhirnya membuatnya angkat kaki dari Manchester United.

Seperti Ronaldo, Salah mengemukakan rasa dikhianati dan merujuk pada hubungan retaknya dengan manajer. Jika mengikuti skenario serupa, kata-kata Salah bisa menjadi awal dari akhir masa baktinya di Anfield dan membuka jalan menuju Saudi Pro League.

Dijatuhkan Slot, Salah Merasa Tersingkir

Arne Slot mencadangkan Salah untuk ketiga kalinya secara beruntun. Penyerang 33 tahun itu tak menyembunyikan perasaannya bahwa keputusan tersebut melukai harga dirinya.

Namun faktanya, performa Salah memang jauh dari level terbaiknya. Ia hanya mencetak 5 gol dalam 19 laga musim ini. Slot pun memberikan banyak kesempatan sebelum akhirnya berani mengambil keputusan besar untuk mendepaknya dari starting XI.

Slot sendiri tengah kesulitan mencari formula terbaik. Dalam upaya mengubah peruntungan tim, ia bahkan telah mencadangkan para pemain mahal seperti Florian Wirtz, Alexander Isak, dan Hugo Ekitike, semuanya tanpa hasil. Kini, giliran Salah yang “merasakan” akibatnya.

Salah Menuntut Status Istimewa: “Saya Sudah Menghasilkannya”

Dalam wawancara tersebut, Salah menyiratkan bahwa performa masa lalunya sudah cukup untuk memberinya status yang tak tergantikan.

“Saya tidak perlu memperjuangkan posisi saya setiap hari karena saya telah mendapatkannya,”

“Saya bukan lebih besar dari klub, tetapi saya telah mendapatkannya.”

Pernyataan ini seolah berpegang pada pepatah lama: “Form is temporary, class is permanent.”
Namun realitas sepak bola modern berkata sebaliknya. Klub besar menuntut keduanya, kualitas dan konsistensi.

Ia hanya mencetak 4 gol dalam 14 laga penutup musim, dan secara keseluruhan baru mengemas 9 gol dalam 33 pertandingan terakhirnya untuk Liverpool sejak Februari.

Kontribusi Bertahan Minim, Dampak Buruk Makin Terlihat

Baca Juga: Dibuka Nataru! Tol Senilai Rp10,8 Triliun Ini Siap Tersambung hingga Banyuwangi, Ubah Wajah Konektivitas Tapal Kuda Jatim

Kelemahan Salah dalam bertahan bukan hal baru. Di era ketika lini depan diperkuat Luis Diaz, Darwin Nunez, atau mendiang Diogo Jota, kekurangannya masih tertutupi kerja keras rekan-rekannya.

Namun berbeda dengan Isak dan Wirtz yang belum mampu memberikan kontribusi serupa. Kekurangan Salah kini semakin terlihat dan berperan langsung dalam sejumlah gol yang bersarang ke gawang Liverpool, termasuk dalam kekalahan dari Nottingham Forest dan Chelsea.

Kondisi ini mirip dengan kasus Ronaldo di United, ketika gol mulai mengering, kelemahan lain menjadi lebih menonjol.

Komentar Salah Dinilai Merusak Ruang Ganti

Mungkin Salah belum menjadi beban dalam permainan, tetapi komentarnya berpotensi membawa kerusakan lebih besar. Ucapannya di Leeds dapat diartikan sebagai tantangan terbuka kepada manajemen untuk memilih antara dirinya atau Slot.

Namun Liverpool kecil kemungkinan memilih memihak pada pemain berusia hampir 34 tahun dengan gaji tinggi, dibanding manajer yang membawa klub menjuarai Premier League hanya beberapa bulan lalu.

Andai Salah bermain di level terbaiknya, ia tidak akan kehilangan tempat di tim. Namun kenyataan ini tampaknya belum bisa ia terima.

Dengan performa yang menurun, ekspektasi yang tetap tinggi, dan komentar kontroversial yang memicu gejolak internal, Salah justru menjadi pihak yang “melempar dirinya sendiri ke bawah bus.” (*)

Editor : Niklaas Andries
#Komentar #karier #mohamed salah #Liverpool #ronaldo