Namun, ketika Muller resmi merapat ke Vancouver Whitecaps pada musim panas lalu, pelatih Jesper Sorensen mengambil pendekatan berbeda, bukan tim yang mengikuti Muller, tetapi Muller yang menyesuaikan diri dengan Whitecaps.
Alih-alih menjadi pusat sistem permainan, Muller diposisikan sebagai “penumpang kelas satu” dalam pesawat Whitecaps yang sudah lebih dulu terbang tinggi.
Keputusan yang terasa berani itu kini terbukti tepat. Vancouver Whitecaps lolos ke final MLS Cup 2025, di mana mereka akan menghadapi Inter Miami yang juga dihuni bintang-bintang besar.
Muller Datang, Whitecaps Makin Solid
Muller bergabung dengan menyadari bahwa Whitecaps adalah tim yang tampil impresif. Mereka baru saja mencapai final Concacaf Champions Cup dan bersaing di papan atas Wilayah Barat.
“Teamwork makes the dream work,” tulis Muller dalam unggahannya di Instagram, menunjukkan betapa ia menikmati atmosfer tim yang kompak itu.
Dalam wawancara usai kemenangan 3-1 atas San Diego FC, Muller mengungkapkan rasa bangganya:
“Saya bangga dengan tim ini. Perjalanan ini luar biasa. Banyak pemain kuat, banyak kualitas. Kami tumbuh, belajar, dan saya senang bisa membawa pengalaman saya ke dalam grup.”
Sorensen Mengambil Alih Tim dalam Situasi Tak Menentu
Saat Sorensen ditunjuk pada musim dingin lalu, Whitecaps sedang diterpa isu penjualan klub dan rumor hengkang dari British Columbia.
Namun ia menemukan fondasi kuat:
1. Tristan Blackmon, bek terbaik MLS
2. Yohei Takaoka, kiper tangguh
3. Sebastian Berhalter, gelandang yang berkembang pesat
4. Brian White, ujung tombak yang terus tajam
5. Ryan Gauld, kreator peluang yang kini bermain sebagai super-sub
6. Ali Ahmed, kunci permainan melebar dan alur serangan
Sorensen meramu semua potensi itu, lalu menempatkan Muller sebagai “otak tambahan” di lapangan.
Bukan Lagi Mesin Gol, Tapi Mesin Penggerak
Kontribusi Muller tak lagi semata-mata soal mencetak gol. Meskipun ia mencatat 7 gol dalam 7 laga reguler, termasuk hattrick dalam kemenangan 7-0 atas Philadelphia Union, produktivitasnya di playoff menurun menjadi satu gol.
Namun pengaruhnya sangat terasa:
1. progresi bola yang lebih rapi
2. visi permainan penentu serangan
3. instruksi dan arahan untuk rekan setim di setiap menit
4. membantu pertahanan ketika badai cedera melanda
Sebagai kapten, Muller menjadi penyatu ritme permainan Whitecaps dan pendorong moral seluruh tim.
Final MLS Cup: Muller vs Messi, tap bukan soal itu
Menjelang final kontra Inter Miami, semua sorotan tertuju pada dua ikon sepak bola dunia: Thomas Muller dan Lionel Messi.
Nama keduanya terpampang di poster resmi pertandingan, memenuhi media sosial, hingga menjadi topik hangat para penggemar.
Namun Muller menegaskan:
“Ini bukan Messi lawan Thomas Muller. Ini Miami lawan Whitecaps.”
Dalam konferensi pers, ia menambahkan dengan senyum khasnya:
“Mungkin mereka lebih bergantung pada Messi dibanding kami pada saya, karena kami punya tim yang sangat solid.”
Siap Bermain 90 Menit? Muller Tetap Optimistis
Meski sempat diganti lebih cepat pada final Wilayah Barat akibat masalah otot, Muller berharap bisa tampil penuh, bahkan bila pertandingan harus masuk extra time.
Apapun yang terjadi, sikap rendah hati dan komitmennya pada tim membuat Whitecaps berada pada jalur sejarah, final MLS Cup pertama dalam sejarah klub.
Kini, apakah pendekatan Muller yang “mengikuti tim” akan berbuah gelar tambahan untuk lemari trofinya? Jawabannya akan terungkap di final hari Sabtu nanti. (*)
Editor : Niklaas Andries