Meski belum ada keputusan resmi, sejumlah klub telah dihubungi untuk dimintai pendapat, dengan Hong Kong dan kota terdekatnya di Tiongkok, Shenzhen, menjadi kandidat kuat tuan rumah.
Turnamen pra-musim dua tahunan ini pertama kali digelar pada 2003 dan secara rutin berlangsung di Asia hingga 2019. Setelah jeda pada 2021 akibat pandemi Covid-19, ajang tersebut kembali digelar dengan nama baru, Summer Series, pada 2023 di Amerika Serikat.
Edisi terbaru berlangsung pada musim panas lalu di tiga kota besar: New York, Chicago, dan Atlanta.
Digelar Berbarengan dengan Turnamen Besar Internasional
Jika rencana tersebut terealisasi, Summer Series 2025 akan menjadi edisi pertama yang digelar di musim panas yang berbarengan dengan turnamen internasional besar—sebuah keputusan yang hampir pasti memicu perdebatan terkait beban kerja pemain.
Serikat pemain dunia, FIFPRO, sebelumnya menyoroti padatnya jadwal kompetisi. Mereka mencatat bahwa penyerang Liverpool dan Timnas Belanda, Cody Gakpo, tampil dalam 71 pertandingan kompetitif pada 2024, jumlah tertinggi dari semua pemain.
Penambahan jumlah pertandingan di level klub maupun internasional semakin meningkat dalam beberapa musim terakhir menyusul ekspansi format turnamen Eropa dan dunia.
Dampak World Cup 2025 dan Celah Jadwal Pra-Musim
Piala Dunia musim panas tahun depan akan menjadi yang pertama dengan format 48 tim, dengan partai final dijadwalkan pada 19 Juli. Di sisi lain, Premier League telah mengonfirmasi bahwa musim 2026–2027 baru akan dimulai pada 22 Agustus.
Dengan sela waktu tersebut, secara teori Summer Series bisa digelar dalam rentang 1–8 Agustus, menyisakan masa pemulihan dua pekan, sebagaimana diberikan kepada Manchester United, Everton, Bournemouth, dan West Ham pada pra-musim tahun ini.
Skema ini memungkinkan pemain yang negaranya tersingkir pada babak 16 besar Piala Dunia mendapat libur wajib selama tiga pekan, lalu kembali ke sesi latihan pramusim selama hampir satu minggu sebelum Summer Series dimulai. (*)
Editor : Niklaas Andries