Maresca membandingkan keputusan tersebut dengan insiden bulan lalu ketika gelandang Tottenham, Rodrigo Bentancur, hanya menerima kartu kuning setelah melakukan pelanggaran terhadap Reece James, yang mana saat itu VAR menyetujui keputusan tersebut.
Namun, pada kasus Caicedo, yang dianggap melakukan pelanggaran serupa pada Mikel Merino, VAR justru melakukan intervensi dan menaikkan hukumannya menjadi kartu merah.
“Itu memang kartu merah. Tapi kenapa Bentancur tidak diberi kartu merah saat melanggar Reece James? Kami sulit memahami mengapa penilaiannya berbeda,” ujar Maresca.
“Moises kartu merah, iya. Bentancur juga harusnya kartu merah. Lalu kenapa dia tidak mendapatkannya? Kami benar-benar tak mengerti.”
Apa yang Membuat Kedua Insiden Itu Berbeda?
Meski terlihat serupa, terdapat sejumlah faktor teknis yang membedakan kedua pelanggaran itu, termasuk:
1. Cara tekel dilakukan, Bentancur hanya menjejak sedikit, sementara Caicedo sedikit meloncat.
2. Titik kontak, Kaki Caicedo menyentuh bagian yang lebih tinggi.
3. Buckle pada pergelangan kaki Merino, tanda yang dianggap VAR sebagai indikasi penggunaan kekuatan berlebihan.
Panel Key Match Incidents (KMI) Premier League sebelumnya mendukung kartu kuning Bentancur dengan suara 4-1, menyebut tekel tersebut “rendah, sedikit terlambat, dan ceroboh.” Namun Caicedo diperkirakan akan mendapat dukungan penuh untuk kartu merahnya.
Meski begitu, panel juga menilai akan ada waktu di mana tekel serupa hanya dianggap kartu kuning, menunjukkan bahwa konsistensi tetap menjadi masalah utama. Sejak musim 2023–2024 dimulai, telah tercatat 12 kesalahan VAR dalam peninjauan tekel berbahaya.
Apakah VAR Meminta Wasit Mengeluarkan Kartu Kuning Lebih Dulu?
Banyak yang bingung ketika Anthony Taylor tampak memberi jeda sebelum menghukum Caicedo. Namun, penjelasannya sederhana:
1. Taylor memberi advantage kepada Arsenal.
2. Ketika bola keluar, ia kembali menghukum Caicedo, yang saat itu sedang dirawat.
3. Protokol wasit mengharuskan kartu diberikan saat pemain sudah berdiri.
Selama itu, VAR memeriksa insiden, tetapi tidak bisa berkomunikasi sampai Taylor membuat keputusan awal (kuning). Begitu kartu kuning diacungkan, VAR langsung memintanya ke monitor.
Karena advantage sebelumnya, restart dilakukan dengan lemparan ke dalam, sebuah situasi yang secara tidak langsung membuat Arsenal “dirugikan” akibat prosedur VAR.
Wasit Tolak Review Kartu Merah: Kasus Langka
Pada laga lain di hari yang sama, terjadi momen langka, wasit Chris Kavanagh menolak rekomendasi VAR untuk mengeluarkan kartu merah kepada Jhon Arias setelah duel dengan Boubacar Kamara.
1. Arias melompat dengan dua kaki, namun tidak menghasilkan kekuatan yang cukup untuk memenuhi standar kartu merah.
2. Kondisi ini mengingatkan pada insiden musim lalu ketika Lisandro Martinez lolos dari kartu merah atas tekel berbahaya ke Daichi Kamada, karena tekel dihentikan sebelum mengenai pemain sepenuhnya.
Menariknya, VAR pada kasus Martínez juga Chris Kavanagh, yang memutuskan tidak menaikkan kartu kuning menjadi merah.
Harusnya Gol Chelsea Dianulir karena Offside?
Gol pembuka Chelsea dari sundulan Trevoh Chalobah juga menimbulkan perdebatan.
Ketika James mengirimkan bola dari sepak pojok:
1. Enzo Fernandez berdiri di posisi offside.
2. Ia berada dekat dengan dua bek Arsenal: Piero Hincapié dan Cristhian Mosquera.
3. Fernandez tidak memainkan bola, namun sempat menempelkan tangan pada punggung Hincapie.
Banyak analis menilai bahwa ini dapat dikategorikan sebagai intervensi offside, sehingga gol seharusnya dianulir. Namun VAR memutuskan tidak ada dampak signifikan pada pergerakan bek.
Kembali lagi, isu konsistensi muncul karena keputusan serupa sebelumnya dihukum secara berbeda.
Haruskah Hincapie Diusir karena Sikut?
Beberapa menit setelah kartu merah Caicedo, terjadi kontak lengan Hincapie ke wajah Chalobah saat duel udara. Maresca mengeluhkan keputusan wasit, sementara Chalobah mengalami memar dan harus mendapatkan es pada babak pertama.
Namun menurut pedoman wasit:
1. Posisi lengan Hincapie dianggap alami saat melompat.2
2. Tidak ada tinju terkepal.
3. Tidak ada gerakan menyiku yang sengaja diarahkan.
Karena itu, keputusan kartu kuning dinilai tepat. Insiden yang lebih jelas adalah kartu merah Lewis Cook di Sunderland, di mana siku diangkat tinggi ke arah kepala lawan.
Inkonsistensi dalam keputusan wasit dan VAR. Dari kartu merah Caicedo, review yang ditolak Kavanagh, offside samar, hingga dugaan sikutan Hincapie, semuanya menunjukkan perlunya standar yang lebih seragam. (*)
Editor : Niklaas Andries