Laga tersebut menjadi pertandingan wajib menang bagi pelatih Renee Slegers. Sebelum duel di Meadow Park, Arsenal berada di ambang keluar dari persaingan babak playoff Liga Champions.
Namun keputusan Slegers memulangkan pencetak gol terbanyak Women’s Super League musim lalu itu ke posisi favoritnya sebagai striker murni terbukti menjadi penentu.
Russo Tidak Efektif Ketika Dipasang Sebagai No. 10
Dalam tiga pertandingan sebelumnya, dua hasil imbang melawan Chelsea dan Tottenham, serta kekalahan 3-2 dari Bayern Munich, Russo ditempatkan sebagai gelandang serang di belakang Stina Blackstenius. Arsenal membutuhkan gol, tetapi peluang datang dan hilang tanpa penyelesaian.
Russo terlalu sering turun membantu pertahanan, sehingga tidak berada di posisi ideal untuk menerima umpan silang atau bola panjang. Ketiadaan Kim Little karena cedera serta penempatan Mariona Caldentey lebih dalam kemungkinan membuat Slegers memilih formasi tersebut.
Namun strategi ini mematikan taring Arsenal. Tanpa Russo sebagai target utama di lini depan, serangan Arsenal kehilangan efisiensi, terlihat dari mandeknya gol di laga melawan Spurs serta kegagalan mencuri poin dari Chelsea dan Bayern.
Kembali ke Posisi Asli, Russo Tak Terbendung
Meski Blackstenius pemain berkualitas, gaya bermainnya tidak sesuai dengan sistem yang ingin dibangun Arsenal. Justru saat Russo kembali naik menjadi No. 9 di pertengahan babak kedua, seperti saat melawan Chelsea, Arsenal mendapatkan peluang terbaik.
Melawan Real Madrid, keputusan Slegers bermain dengan Russo sebagai striker murni berubah menjadi kunci kemenangan. Kecepatan, gerakan tanpa bola, serta instingnya di kotak penalti membuat pertahanan Madrid kewalahan.
Russo menyundul masuk umpan melengkung Chloe Kelly untuk menyamakan kedudukan setelah gol pembuka Caroline Weir. Ia kemudian menuntaskan kebangkitan Arsenal melalui sundulan presisi memanfaatkan sepak pojok Caitlin Foord.
Menariknya, Russo pernah mengaku pada 2023 bahwa ia jarang mencetak gol lewat sundulan, namun latihan ekstra dengan pelatih bola mati membuktikan perkembangan pesatnya.
Pujian Setinggi Langit dari Pelatih Renee Slegers
“Alessia bekerja keras setiap hari. Semua orang tahu kualitasnya sebagai No. 9, kemampuan menahan bola, pressing, penyelesaian akhir, dan kehadirannya di kotak penalti,” ujar Slegers.
Pelatih asal Belanda itu mengakui bahwa terkadang sulit menentukan posisi terbaik Russo karena ia memiliki banyak kualitas. Namun cara Russo memimpin tim, baik sebagai pemain maupun pribadi, membuat Slegers menjadikannya pusat permainan.
Russo dinilai sebagai sosok yang rendah hati, pekerja keras, sekaligus teladan bagi rekan-rekannya. Intensitas latihan yang selalu berada di level pertandingan membuatnya menjadi elemen vital dalam strategi Arsenal.
Musim Buruk Arsenal Masih Bisa Diselamatkan
Arsenal hanya menang empat kali dari sembilan pertandingan liga, disertai empat hasil imbang dan kekalahan menyakitkan dari Manchester City, menjadikannya start terburuk klub sejak 2014. Namun kemenangan atas Real Madrid memberi ruang napas di Eropa.
Musim lalu, Arsenal juga menunjukkan mental baja dengan membalikkan defisit dua gol dari Real Madrid di perempat final. Dengan Russo memimpin lini depan, peluang untuk mengulang performa gemilang itu tetap terbuka.
Jika Arsenal ingin kembali bersaing di liga dan di Eropa, satu langkah wajib dilakukan: menempatkan Alessia Russo sebagai penyerang utama sejak menit pertama.
Kemenangan atas Real Madrid menjadi bukti, dan jika sentuhan magis itu terus berlanjut, The Gunners berpeluang besar membalikkan musim yang sempat berjalan suram. (*)
Editor : Niklaas Andries