Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Pendukung Suriname dan Curaçao di Belanda Siap Begadang: Laga Penentuan Piala Dunia 2026 Picu Euforia Besar

Ali Sodiqin • Rabu, 19 November 2025 | 18:57 WIB
Suriname selangkah lagi menuju Piala Dunia 2026.
Suriname selangkah lagi menuju Piala Dunia 2026.

RADARBANYUWANGI.ID - Belanda tengah bersiap menghadapi malam paling panjang bagi komunitas Suriname dan Curaçao.

Rabu dini hari pukul 02.00 waktu setempat, dua pertandingan krusial kualifikasi Piala Dunia 2026 bakal digelar dan menentukan nasib kedua negara yang berpeluang mencetak sejarah: lolos ke Piala Dunia untuk pertama kalinya.

Atmosfer euforia terasa di berbagai kota. Nonton bareng digelar di Rotterdam, Dordrecht, Duivendrecht, hingga Amsterdam-Oost. P

ara pendukung sudah siap tak memejamkan mata demi menyaksikan laga yang bisa mengubah sejarah sepak bola Suriname dan Curaçao.

Suriname di Ambang Sejarah Besar

Suriname datang dengan modal kuat. Mereka memuncaki Grup G dengan sembilan poin—sama dengan Panama—namun unggul selisih gol tiga kali lebih baik.

Menghadapi Guatemala, tim berjuluk Natio hanya perlu menyamai hasil Panama, selama Panama tidak menang dengan margin tiga gol lebih besar.

Harapan Suriname membubung tinggi setelah menang telak 4-0 atas El Salvador. Tjaronn Chery membuka keunggulan lewat penalti di menit ke-44, disusul dua gol cepat Richonell Margaret pada menit ke-74 dan 76, sebelum Dhoraso Moreo Klass menutup pesta gol di menit ke-83.

Berkat hasil tersebut, Suriname tetap tak terkalahkan dan mengantongi sembilan poin—kondisi yang menempatkan mereka selangkah lagi dari Piala Dunia.

Prestasi ini terasa makin monumental mengingat Suriname terakhir tampil di putaran final kualifikasi pada 1978.

“Seberapa sering Suriname punya peluang lolos ke Piala Dunia?” kata Ray Semmoh, penggagas nonton bareng di The Extra Mile, Zuidoost, yang hingga kini sudah menerima 50–60 peserta terdaftar. “Kalau tidak begadang untuk ini, kamu bukan fan sepak bola sejati.”

Semmoh, yang juga memiliki sekolah sepak bola, percaya momentum Suriname masih sangat kuat. “Tidak akan mudah. Tapi melihat performa mereka pada Kamis lalu, saya optimistis.”

Di Amsterdam-Oost, klub sepak bola Real Sranang juga bersiap menggelar nonton bareng, meski belum dapat memperkirakan berapa banyak suporter yang akan hadir.

Antusiasme kian terasa di kalangan warga Suriname yang tinggal di Belanda, terutama dengan jarangnya kesempatan historis seperti ini.

Curaçao Kuasai Nasib Sendiri di Kingston

Sementara itu, di Rotterdam dan Dordrecht, warna biru Curaçao mendominasi. Laga Jamaika vs Curaçao akan disiarkan di layar besar di Villa Thalia, ’t Fust, dan De Mansion.

Di De Mansion, penyelenggara Edson Rafael—warga Curaçao—memperkirakan sekitar 50 pendukung akan hadir.

“Semuanya berubah jadi biru. Semua membicarakannya,” ujar Rafael. “Ini pertama kalinya kami bisa menyaksikan momen seperti ini.”

Optimisme itu bukan tanpa alasan. Curaçao baru saja menang telak 7-0 atas Bermuda melalui brace Jordi Paulina dan gol dari Leandro Vacuna, Juninho Vacuna, Sontje Hansen, Ar’ Jany Martha, hingga Roshon van Eijma.

Dengan 11 poin, mereka memimpin Grup B, unggul atas Jamaika yang bermain imbang 1-1 kontra Trinidad dan Tobago.

Dilatih Dick Advocaat—pelatih kawakan yang pernah membesut Belanda, Rusia, Belgia, dan Korea Selatan—Curaçao kini hanya membutuhkan hasil imbang di Kingston untuk mengamankan tiket Piala Dunia pertama mereka.

Meski begitu, Advocaat dipastikan tidak dapat hadir karena alasan pribadi. Justru hal ini disebut Rafael membuat motivasi pemain berlipat ganda.

“Apa yang dicapai tim sepak bola sekarang benar-benar legendaris. Biasanya kita dikenal lewat bisbol, tapi kini sepak bola yang berbicara.”

Euforia yang Menyatukan Komunitas

Di berbagai sudut Belanda, pendukung kedua negara menyiapkan diri menghadapi malam panjang.

Di Duivendrecht dan Zuidoost, para fan telah memesan tempat jauh hari. Di Rotterdam, venue hiburan berskala besar bersiap memutar laga hingga dini hari.

Bagi sebagian besar warga keturunan Suriname dan Curaçao yang tinggal di Belanda, pertandingan ini lebih dari sekadar sepak bola. Ini adalah momen identitas, kebanggaan, dan sejarah.

Ray Semmoh bahkan mengaku siap meninggalkan dukungannya kepada Oranje jika Suriname lolos.

“Saya fan Belanda dan kemarin hadir di Johan Cruijff ArenA ketika mereka memastikan tiket ke Piala Dunia. Tapi kalau Suriname bertemu Belanda, saya dukung tanah kelahiran. Tanah kelahiran selalu nomor satu.”

Persaingan Grup Lain Masih Sengit

Di luar dua laga tersebut, situasi ketat juga terjadi di Grup C. Honduras dan Haiti sama-sama mengantongi delapan poin.

Kosta Rika masih punya peluang dengan enam poin, sementara Nikaragua tersingkir setelah kalah 0-2 dari Honduras. Seluruh hasil penentu baru akan diketahui pada Selasa mendatang.

Dini Hari Penentu: Akankah Sejarah Ditulis?

Malam panjang menanti para pendukung Suriname dan Curaçao di Belanda. Dari Rotterdam hingga Amsterdam, dari Dordrecht hingga Zuidoost, euforia menyelimuti komunitas diaspora yang berharap menyaksikan sejarah besar.

Rabu dini hari nanti, dua negara kecil dari Karibia dan Amerika Selatan itu berpotensi mengguncang dunia sepak bola.

Lolos ke Piala Dunia bukan hanya soal tiket ke turnamen terbesar, tetapi juga tentang kebanggaan dan identitas.

Semua mata kini tertuju pada dua pertandingan: Guatemala vs Suriname dan Jamaika vs Curaçao. Dua laga yang mungkin menjadi awal babak baru dalam sejarah sepak bola mereka.

Begadang tak lagi terasa berat—karena sejarah tak datang dua kali. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#suriname #Lolos Piala Dunia #laga penentuan #di ambang sejarah #belanda #Euforia #kualifikasi piala dunia