Namun dengan keberadaan bintang kelas dunia seperti Erling Haaland dan Martin Odegaard, muncul satu pertanyaan besar, mengapa butuh waktu selama ini?
Generasi pemain Norwegia saat ini sebagian bahkan belum lahir ketika tim mereka mengalahkan Brasil 2-1 di Marseille pada Piala Dunia 1998.
Tetapi pelatih Stale Solbakken, yang saat itu merupakan gelandang dalam tim Egil “Drillo” Olsen, paham betul bagaimana rasanya membawa negaranya tampil di panggung terbesar sepak bola.
Kini, ia membawa Norwegia versi baru dengan identitas segar yang kuat.
“Sepak bola sudah banyak berubah sejak masa saya bermain. Namun generasi ini punya semangat dan dorongan yang sama,” ujar Solbakken.
Solbakken menekankan bahwa kebersamaan menjadi fondasi utama. Tanpa semangat kolektif itu, taktik sehebat apa pun tidak akan berfungsi.
Perubahan Identitas: Dari Diremehkan Menjadi Kekuatan Baru
Kritik selama bertahun-tahun menyebut Norwegia terlalu rumit dan tidak efektif. Namun kini, mereka tampil penuh kendali dan optimisme. Pendekatan struktural Solbakken, meski sering dianggap keras kepala, akhirnya membuahkan hasil.
Menurut mantan kiper Tottenham dan Norwegia, Erik Thorstvedt,
“Solbakken membangun budaya luar biasa di dalam tim. Mereka melewati banyak kritik, dan itu justru membuat mereka lebih kuat.”
Kebangkitan Norwegia sebenarnya sudah terlihat sejak kampanye UEFA Nations League. Setelah kalah telak 1-5 dari Austria pada Oktober 2024, mereka bangkit dan menjuarai grup untuk promosi ke League A. Kemenangan ini menjadi titik balik mental yang sangat dibutuhkan.
Setelah itu, Norwegia melaju dengan mencatat 11 kemenangan beruntun, termasuk kemenangan 3-0 atas Italia, kemenangan 5-0 atas Israel, dan kemenangan luar biasa 11-1 atas Moldova.
Bahkan pelatih Israel Ran Ben-Shimon sampai berkata,
“Saya percaya Norwegia adalah dua tim terbaik di Eropa saat ini, bersama Spanyol.”
Statistik pun membuktikannya:
37 gol, tertinggi di Eropa.
29 assist, juga tertinggi.
Hanya kebobolan 5 gol dalam 8 laga.
Rekor defensif yang dulu mustahil, mengingat mereka sering kesulitan menemukan penjaga gawang utama.
Fondasi Taktis: Struktur Baru yang Mengubah Wajah Norwegia
Meski Haaland dan Odegaard menjadi pusat perhatian, kunci terbesar dari revolusi Norwegia adalah organisasi taktik.
Solbakken membentuk Norwegia dengan formasi fleksibel 4-3-3 atau 4-2-3-1, sering berubah menjadi pressing diamond. Semua dirancang untuk:
menahan tekanan lawan,
memancing pressing,
lalu meledak dalam serangan cepat.
Pendekatan zonal defending juga memberikan keunggulan tersendiri, terutama dengan duet Kristoffer Ajer dan Torbjørn Heggem.
Sander Berge: Simbol Kebangkitan
Gelandang Fulham ini kembali menemukan permainan terbaiknya. Di tim nasional, ia berperan sebagai gelandang box-to-box sisi kanan yang membantu Odegaard sekaligus masuk ke double pivot ketika bertahan.
Solbakken berkata,
“Kami bisa merancang peran yang sesuai kekuatannya, dan itu membuat tim lebih seimbang.”
Data pun mendukung perubahan gaya bermain Norwegia:
34,7 dribel sukses per 90 menit (terbanyak di Eropa),
26,1 progressive runs per 90 menit (teratas di Eropa).
Haaland: Lebih dari Sekadar Mesin Gol
Erling Haaland mencetak 16 gol dalam 8 kualifikasi, dengan xG hanya 9,86, efisiensi luar biasa. Namun kontribusi terbesarnya bukan gol, melainkan gaya bermain tanpa bola.
Ia menjadi pemimpin pressing, membuka ruang untuk Odegaard dan Antonio Nusa, serta menjalankan peran “team-first” yang ditekankan Solbakken.
Kemenangan Krusial: Norwegia 3-0 Italia
Pertandingan di Oslo melawan Italia menjadi deklarasi kualitas Norwegia. Banyak yang mengira Italia akan mengekspos kelemahan Norwegia. Yang terjadi justru sebaliknya.
Solbakken berkata,
“Yang membuat saya paling puas justru babak kedua. Kami mampu bertahan dengan bola, mengatur tempo, dan membuat Italia kelelahan.”
Inilah bentuk Norwegia baru: tidak panik di bawah tekanan, melainkan menggunakan penguasaan bola sebagai alat bertahan.
Rahasia Keberhasilan: Jarak, Struktur, dan Kepemimpinan Kolektif
Solbakken menyebut satu kata kunci,
“Jarak. Itu fundamental.”
Jarak antar pemain, antar lini, hingga antara keputusan, semua menentukan ritme permainan Norwegia.
Kepemimpinan pun tersebar, bukan hanya bertumpu pada Odegaard dan Haaland.
“Kami membagi tanggung jawab kepemimpinan kepada semua pemain,” ujar Solbakken.
Menuju Piala Dunia 2026: Babak Baru Sepak Bola Norwegia
Solbakken terlihat tenang saat memastikan kelolosan, tetapi ia mengakui ada perasaan lega yang sangat besar.
“Ketika melihat hasil undian, saya hampir yakin Italia yang akan lolos. Tapi kami berhasil. Para pemain memenuhi standar tinggi yang saya tetapkan.”
27 tahun setelah terakhir kali tampil di Piala Dunia, Norwegia kini kembali sebagai tim dengan struktur kuat, mentalitas matang, dan generasi emas yang mulai memikul ekspektasi tinggi.
Solbakken menutup dengan nada emosional,
“Saya tidak yakin akan ada malam yang lebih indah dalam hidup saya. Rasanya benar-benar tak nyata.” (*)
Editor : Niklaas Andries