RADARBANYUWANGI.ID - Red Bull kembali menjadi sorotan dalam dinamika pasar pembalap Formula 1 menjelang musim 2026.
Meski memiliki empat kursi, dua di tim utama dan dua di Racing Bulls, faktanya ada lima pembalap yang memperebutkan posisi tersebut.
Dengan Max Verstappen hampir pasti tetap bersama Red Bull pada 2026, satu pembalap dipastikan akan berada di luar lingkaran.
Nama-nama seperti Liam Lawson, Yuki Tsunoda, Isack Hadjar, dan Arvid Lindblad menjadi pusat perhatian.
Sementara Verstappen aman, persaingan nyata terjadi dalam tiga posisi tersisa.
Saat ini, konsensus umum menyebutkan bahwa Hadjar berpeluang besar naik ke tim utama Red Bull setelah musim debut gemilang yang ditandai podium di Grand Prix Belanda.
Artinya, Tsunoda diperkirakan akan tersingkir dari posisi pendamping Verstappen karena performanya yang kurang konsisten.
Dengan skenario tersebut, Tsunoda harus bersaing dengan Lawson dan Lindblad untuk dua kursi di Racing Bulls.
Sayangnya, tiga pembalap untuk dua tempat berarti ada satu yang harus tersingkir.
Racing Bulls, yang merupakan penerus langsung dari AlphaTauri dan Toro Rosso, memiliki pola historis yang menarik saat memasuki era regulasi baru.
Pada awal siklus regulasi, performa tim ini cenderung menurun tajam.
Contoh nyata terlihat antara musim 2021 dan 2022.
Pada 2021, duet Pierre Gasly dan Tsunoda mengumpulkan 142 poin dan menempati posisi keenam konstruktor.
Namun pada 2022, ketika regulasi aerodinamika baru diperkenalkan, performa mereka merosot, hanya meraih 35 poin dan turun ke peringkat sembilan.
Pola serupa terlihat pada 2023 dan 2024, hingga akhirnya pada 2025 tim kembali menunjukkan peningkatan signifikan seiring regulasi yang semakin matang.
Kini, Lawson dan Hadjar telah membawa Racing Bulls berada di posisi keenam klasemen sementara dengan 82 poin.
Melihat pola tersebut, kontinuitas dan pengalaman dianggap sangat penting menghadapi perubahan regulasi drastis pada 2026.
Kombinasi Lawson–Tsunoda dinilai paling ideal untuk menjaga stabilitas tim dalam transisi besar tersebut.
Arvid Lindblad memiliki argumen tersendiri, era regulasi baru dianggap sebagai awal yang tepat bagi seorang rookie karena tidak membawa kebiasaan mengemudi dari mobil generasi sebelumnya.
Namun kenyataannya, ia masih membutuhkan satu musim tambahan di Formula 2.
Saat ini ia berada di posisi ketujuh klasemen F2 dan belum menunjukkan dominasi yang biasanya menjadi syarat utama sebelum promosi ke F1.
Kesalahan yang masih cukup sering dilakukan juga menjadi sorotan, meskipun performanya di sesi FP1 bersama Red Bull di Silverstone dan Meksiko mendapat pujian.
Liam Lawson menunjukkan kecepatan yang impresif, meskipun sempat mengalami akhir pekan buruk di Singapura yang merusak momentum positifnya.
Namun, ia berhasil bangkit kembali dengan strategi balap cerdas di Brasil dan finis ketujuh melalui strategi satu pit stop.
Cara Lawson bangkit dari tekanan dan insiden sebelumnya menunjukkan kematangan mental yang layak diapresiasi.
Mengingat peluangnya promosi ke tim utama Red Bull pada masa mendatang sangat kecil, mempertahankannya hingga 2026 menjadi keputusan yang masuk akal sebelum pasar pembalap baru terbuka pada 2027.
Editor : Lugas Rumpakaadi