Namun, lebih dari sekadar kemenangan, Tuchel menegaskan fondasi utama yang menurutnya akan menentukan keberhasilan Inggris di putaran final Piala Dunia tahun depan, kesediaan pemain untuk “meninggalkan ego di belakang pintu.”
Fokus Membangun Tim, Bukan Sekadar Susunan Pemain Utama
Dalam konferensi pers usai pertandingan, Tuchel mengungkapkan bahwa kunci kejayaan Inggris bukan terletak pada sebelas pemain utama, melainkan pada kohesi tim secara keseluruhan.
“Ini bukan soal membangun starting XI, tetapi membangun sebuah tim,” tegas Tuchel.
Baca Juga: Cegah Banjir! PU Banyuwangi Keruk Sedimen Sungai Setail, Petani Ikut Turun Tangan
“Semua pemain adalah bintang di klub masing-masing, semua terbiasa bermain, dan semua bisa kecewa saat tidak menjadi starter. Namun mereka harus menerima konsep ini. Tidak ada jalan lain jika ingin menjadi tim juara.”
Tuchel menyoroti betapa pentingnya reaksi positif dari para pemain yang tidak terpilih sejak menit awal. Untuk laga kontra Serbia,
ia memulai pertandingan tanpa Phil Foden dan Jude Bellingham, yang tampil impresif saat masuk sebagai pemain pengganti di babak kedua, menunjukkan kedalaman skuad yang dimiliki Inggris.
Atmosfer Skuad Jadi Kunci: “Energi yang Tepat”
Baca Juga: Sambut Musim Tanam, Ratusan Petani Gelar Bubak Bumi di Dam Tertua Banyuwangi! Maknanya Bikin Haru
Tuchel memuji suasana kondusif di dalam tim, baik antara pemain inti maupun pelapis.
“Atmosfer selama dan setelah pertandingan selalu penuh energi positif. Para pemain saling menghormati. Mereka yang bermain tahu bahwa mereka dapat mengandalkan pemain yang masuk dari bangku cadangan,” ujarnya.
Nico O’Reilly Bersinar di Laga Perdana Sebagai Starter
Salah satu sorotan di Wembley adalah penampilan gemilang bek sayap Manchester City, Nico O’Reilly. Baru tahun lalu ia belum mencicipi debut Liga Inggris, tetapi kini menjadi andalan di posisi bek kiri menjelang turnamen besar.
Tuchel menyebut O’Reilly sebagai pemain cerdas yang cepat beradaptasi:
“Nico tampak pemalu, tetapi ia sangat cerdas di lapangan. Penampilannya fantastis. Ia bisa tampil sebaik itu karena merasa nyaman dengan kelompok ini.”
Selain itu, Elliot Anderson kembali tampil menonjol dan memperkuat posisinya dalam persaingan lini tengah.
Foden Sebagai Alternatif Kane? Tuchel Beri Sinyal
Baca Juga: Debit Sungai Badeng Naik! Fondasi Jembatan Misjah Kopong Tergerus, Warga Waswas Jembatan Ambrol
Di babak kedua, Harry Kane ditarik keluar dan digantikan oleh Phil Foden, yang kemudian berperan sebagai false nine. Perubahan ini terbukti efektif dan menghasilkan gol penutup melalui serangan balik cepat yang diselesaikan Eze.
Masuknya Foden sebagai striker menimbulkan pertanyaan, apakah ia bisa menjadi pelapis ideal untuk Kane?
Tuchel menjawab diplomatis, tetapi tidak menutup kemungkinan.
“Menyaingi Harry saat ini sangat berat, dia sedang dalam performa terbaiknya. Namun berbagi menit di laga-laga penting tentu sangat mungkin,” kata Tuchel.
Ia mengaku sudah lama mempertimbangkan opsi menempatkan Foden lebih dekat ke kotak penalti lawan.
“Foden berbahaya di ruang sempit, pergerakannya sulit dibaca. Jika kami menghadapi lawan yang bertahan dalam, dia bisa menjadi pilihan utama.”
Namun Tuchel menegaskan bahwa Inggris tetap memiliki opsi lainnya seperti Ollie Watkins dan beberapa penyerang murni lainnya.
Inggris Semakin Solid Menuju Piala Dunia
Dengan skuad yang semakin matang, kompetisi internal sehat, dan filosofi kolektivitas yang diperkuat Tuchel, Inggris tampak berada di jalur ideal menuju Piala Dunia musim panas mendatang.
Tuchel menutup pernyataannya dengan apresiasi:
“Phil kini penuh percaya diri. Sentuhan pertamanya, pergerakannya, semua menunjukkan ia siap menghadapi lawan mana pun. Saya suka melihatnya bermain di tengah, dikelilingi pemain lain. Ia tampil sangat baik.” (*)
Editor : Niklaas Andries