Hasil tersebut bukan hanya menambah luka bagi pasukan Arne Slot, tetapi juga mencatatkan rekor buruk: The Reds menjadi juara bertahan pertama yang kebobolan 17 gol dalam 11 laga awal liga sejak 2020–2021, rekor yang ironisnya juga pernah mereka buat sendiri lima tahun lalu.
Padahal, Liverpool datang ke Manchester dengan modal dua kemenangan beruntun disertai dua catatan nirbobol.
Namun, performa solid itu runtuh setelah Erling Haaland, Nico Gonzalez, dan Jeremy Doku masing-masing mencetak gol yang memastikan kekalahan kelima dari 11 laga bagi tim Merseyside tersebut.
Kini, Liverpool terdampar di posisi kedelapan klasemen sementara dengan 18 poin, tertinggal delapan angka dari pemuncak klasemen Arsenal dan empat poin di belakang Manchester City.
Pertahanan Runtuh, Kritik Mengalir untuk Arne Slot
Legenda Premier League seperti Roy Keane tak segan melontarkan kritik tajam terhadap performa Liverpool, terutama di lini belakang yang dianggap terlalu rapuh untuk ukuran tim juara bertahan.
Sejak awal musim, The Reds sudah kebobolan 17 gol, jumlah tertinggi bagi tim juara bertahan dalam 11 pertandingan sejak musim bencana 2020–2021, ketika mereka sempat dihajar Aston Villa 7-2 pada Oktober 2020.
Mengapa Liverpool Ketinggalan dari Arsenal dan Manchester City?
Salah satu penyebab utama merosotnya performa Liverpool adalah minimnya fisikalitas dan dominasi duel di lini tengah.
Dalam laga kontra Manchester City, trio Dominik Szoboszlai, Ryan Gravenberch, dan Alexis Mac Allister hanya mampu memenangkan 5 dari 22 duel, membuat mereka kalah bersaing di sektor tengah yang dikuasai total oleh pasukan Pep Guardiola.
Masalah tak berhenti di situ. Tekanan tinggi (pressing) yang selama ini menjadi senjata utama Liverpool kini tumpul. Barisan depan yang diisi oleh Florian Wirtz, Cody Gakpo, Hugo Ekitike, dan Mohamed Salah gagal menekan dengan efektif, membuat lawan leluasa membangun serangan.
Selain itu, kepergian Trent Alexander-Arnold ke Real Madrid memberi dampak besar terhadap kemampuan tim dalam membangun serangan dari lini belakang. Kini hanya Virgil van Dijk yang terlihat tenang ketika menguasai bola di bawah tekanan.
Masih Adakah Peluang Liverpool dalam Perburuan Gelar?
Secara matematis, peluang itu belum sepenuhnya hilang. Jika mampu menyapu bersih seluruh laga tersisa musim ini, Liverpool bisa menutup musim dengan 99 poin, atau 15 poin lebih banyak dibanding total mereka musim lalu.
Namun, tantangan besar menanti di empat laga berikutnya. The Reds akan menghadapi Nottingham Forest (peringkat 19), West Ham United (18), Sunderland (4), dan Leeds United (16). Hasil sempurna dari empat laga ini menjadi keharusan jika mereka ingin kembali ke jalur perebutan gelar.
Sementara itu, Arsenal akan melakoni rangkaian laga sulit menghadapi Tottenham Hotspur, Chelsea, Brentford, dan Aston Villa. Artinya, peluang Liverpool masih terbuka andai tim asuhan Mikel Arteta tergelincir.
Namun, dengan performa inkonsisten dan lini belakang yang masih rapuh, Liverpool harus menunggu hingga bursa transfer Januari untuk memperbaiki sejumlah kelemahan jika ingin benar-benar kembali bersaing di papan atas.
Kekalahan dari Manchester City menegaskan bahwa Liverpool sedang berada dalam masa transisi sulit di bawah Arne Slot.
Rekor buruk, lini pertahanan rapuh, dan pressing yang tak lagi efektif menjadi tanda bahwa sang juara bertahan butuh perubahan besar. Jika tidak segera berbenah, mimpi mempertahankan gelar Premier League bisa sirna lebih cepat dari yang diperkirakan. (*)
Editor : Niklaas Andries