Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Strategi Balapan F1 Dinilai Membosankan, Apakah Dua Pitstop Jawabannya?

Lugas Rumpakaadi • Selasa, 4 November 2025 | 22:55 WIB
FIA dan Pirelli pertimbangkan aturan dua pitstop wajib di F1.
FIA dan Pirelli pertimbangkan aturan dua pitstop wajib di F1.

RADARBANYUWANGI.ID - Formula 1 (F1) tengah menghadapi perdebatan menarik mengenai kemungkinan penerapan aturan dua pitstop wajib dalam setiap balapan.

Ide ini muncul setelah serangkaian Grand Prix baru-baru ini memperlihatkan pola strategi yang hampir seragam, dengan mayoritas tim memilih strategi satu pitstop yang dianggap terlalu konservatif.

Seperti diungkapkan pembalap Mercedes, George Russell, banyak balapan F1 kini bergantung pada momen awal di Tikungan 1.

Setelahnya, posisi pembalap sulit berubah karena faktor udara kotor (dirty air) yang menghambat mobil di belakang untuk menyalip.

Tim-tim pun lebih memilih strategi aman, hanya sekali berhenti di pitstop dan menjaga ban hingga garis finis.

Ban Pirelli musim ini memang lebih kuat dan memiliki tingkat degradasi yang rendah.

Kondisi tersebut memungkinkan pembalap untuk menekan lebih keras, tetapi ironisnya mengurangi variasi strategi yang sebelumnya menjadi daya tarik utama balapan F1.

Manajer motorsport Pirelli, Mario Isola, mengakui dilema yang dihadapi.

“Jika degradasi tinggi, orang mengeluh ban tidak realistis. Jika degradasi rendah, balapan disebut membosankan,” ujarnya kepada Motorsport.com.

Menurut Isola, keseimbangan ideal adalah ban yang dapat digeber penuh selama beberapa putaran, lalu mulai kehilangan performa setelah sekitar 15 lap.

Namun, kondisi itu sulit dicapai tanpa mengorbankan aspek keselamatan dan performa.

Gagasan untuk mewajibkan dua pitstop mulai mendapat dukungan dari beberapa pihak di paddock.

Isola menilai, dua kali pemberhentian dapat meningkatkan ketidakpastian strategi dan memberi tontonan lebih menarik bagi penonton.

Hal ini juga disuarakan oleh Max Verstappen, yang menilai bahwa dua pitstop lebih baik dibandingkan penggunaan ban super keras (C6) yang dianggap tidak relevan untuk balapan modern.

Namun, Isola menegaskan bahwa aturan baru ini harus dikaji matang.

“Anda tidak bisa memaksa tim tanpa regulasi yang jelas. Tapi dua pitstop bisa membuat balapan lebih seru.”

FIA bersama tim-tim dan Pirelli telah melakukan beberapa simulasi strategi dengan kombinasi ban berbeda.

Hasilnya menunjukkan bahwa mayoritas tim tetap memilih strategi yang mirip, bahkan ketika diberikan opsi kompon yang lebih lunak.

Menurut Isola, masalah bukan hanya pada jumlah pitstop, tetapi juga cara tim mengoptimalkan peluang di setiap kondisi lintasan.

“Ketika semua orang memilih arah yang sama, variasi strategi sulit terjadi,” tambahnya.

Diskusi mengenai dua pitstop wajib kini masuk dalam agenda Komite Penasihat Olahraga (SAC) dan Komisi F1.

Meski masih jauh dari keputusan final, FIA dan Liberty Media terbuka untuk mengeksplorasi opsi ini demi meningkatkan kualitas balapan.

Dua hal menjadi pertimbangan utama.

Efektivitas aturan baru ketika mobil generasi 2026 sudah dirancang untuk mengurangi efek udara kotor.

Risiko perubahan berlebihan, yang bisa mengganggu keseimbangan kompetisi yang sudah menarik saat ini.

“Kita memiliki kejuaraan yang bagus sekarang. Jangan sampai perubahan yang terburu-buru justru merusak apa yang sudah berjalan baik,” pungkas Isola.

Editor : Lugas Rumpakaadi
#formula 1 #pirelli #fia #f1