RADARBANYUWANGI.ID - Pembalap Racing Bulls, Yuki Tsunoda, mengungkapkan rasa frustrasinya setelah kesalahan perhitungan waktu dari tim Red Bull membuatnya gagal melanjutkan ke fase berikutnya dalam F1 Sprint Qualifying (SQ1) di Circuit of The Americas (COTA), Austin, Amerika Serikat.
Pada detik-detik terakhir SQ1, lintasan dipenuhi kekacauan.
Banyak pembalap berusaha mencari posisi terbaik sekaligus memastikan diri melewati garis start tepat waktu agar bisa memulai putaran terakhir.
Namun, Tsunoda bersama Esteban Ocon, Ollie Bearman, dan Gabriel Bortoleto gagal melakukannya.
Akibatnya, keempat pembalap tersebut tersingkir lebih awal dari sesi kualifikasi hari Jumat.
Kesalahan itu membuat Tsunoda harus memulai Sprint Race hari Sabtu dari posisi ke-18, sementara Bearman, Ocon, dan Bortoleto masing-masing menempati posisi 16, 19, dan 20.
Tsunoda: Saya Tidak Tahu Apa yang Terjadi
Dalam wawancara seusai sesi, Tsunoda tampak kesal atas situasi yang menurutnya berada di luar kendalinya.
“Saya tidak tahu. Kami harus meninjaunya lagi,” ujar Tsunoda.
“Ini sangat membuat frustrasi, karena saya tidak bisa mengontrolnya. Semua bergantung pada tim yang mengatur waktu. Ini cukup mengejutkan,” ungkapnya.
Kekacauan di lintasan juga hampir berujung insiden antara Tsunoda dan Liam Lawson, rekan satu timnya di Racing Bulls.
Keduanya hampir bersenggolan di Tikungan 2, situasi yang membuat Tsunoda tampak kesal.
“Itu gaya khasnya,” ujarnya singkat.
“Saya tidak berharap lebih dari itu. Tapi yang paling mengecewakan adalah waktu keluar dari garasi yang benar-benar tidak tepat. Ada sesuatu yang salah di sana,” katanya.
Red Bull Akui Kesalahan dan Minta Maaf
Kepala tim Red Bull, Laurent Mekies, langsung mengakui kesalahan strategi tim yang membuat Tsunoda gagal mencatatkan putaran terakhirnya.
“Kami memang salah,” kata Mekies kepada Sky Sports F1.
“Kami sudah meminta maaf kepada Yuki. Program kami terlalu ketat. Kami harus memilih antara tetap di lintasan untuk mendinginkan ban atau masuk ke garasi untuk pendinginan yang lebih baik. Kami kira waktunya cukup, tapi ternyata hanya beberapa mobil yang bisa keluar lagi, dan kami gagal. Itu kesalahan kami,” terangnya.
Tantangan Sprint Qualifying di COTA
Format Sprint Qualifying memang dikenal lebih singkat dibandingkan sesi kualifikasi reguler, sehingga memberi ruang yang jauh lebih sempit bagi tim untuk bereksperimen dengan strategi.
Di sirkuit sepanjang COTA, waktu menjadi faktor krusial yang bisa menentukan lolos atau tidaknya seorang pembalap ke fase berikutnya.
Bagi Tsunoda, insiden ini menjadi pelajaran berharga sekaligus pengingat bahwa di Formula 1, satu detik bisa menjadi perbedaan antara peluang emas dan kekecewaan mendalam.
Meskipun kecewa, banyak penggemar berharap pembalap asal Jepang tersebut mampu bangkit dan menunjukkan performa terbaiknya di Sprint Race berikutnya.
Editor : Lugas Rumpakaadi