Isu sensasional ini pertama kali diungkap oleh media Irak, UTV, yang menyebut JFA sudah sangat serius mempertimbangkan keputusan tersebut. Langkah ini disebut sebagai bentuk protes atas dugaan manipulasi, korupsi, dan dominasi pendanaan Qatar yang dinilai mencederai integritas AFC.
“Ada pergerakan dari Jepang untuk mundur dari AFC dan mendirikan Federasi Asia Timur. Mereka menolak manipulasi dan korupsi yang diduga terjadi di tubuh AFC. Jepang sudah kehilangan kepercayaan terhadap federasi tersebut,” tulis laporan UTV yang dikutip oleh Football Tribe Japan.
Akar Masalah: Ketidakadilan dalam Liga Champions Asia Elite
Baca Juga: Gandrung Sewu 2025 Digelar Kapan? Diawali Wisuda Penari, Cek Lokasi dan Jadwalnya di Sini!
Kekecewaan JFA memuncak setelah AFC dinilai gagal mengelola Liga Champions Asia Elite 2025/2026 dengan adil. Salah satu keputusan yang menuai kritik adalah penetapan babak perempat final di kawasan Timur Tengah, yang dianggap memberi keuntungan bagi klub-klub dari wilayah tersebut.
Masalah serupa juga terjadi pada musim sebelumnya. Klub Jepang Vissel Kobe merasa dirugikan oleh keputusan AFC yang dianggap tidak konsisten setelah Shandong Taishan (klub asal Tiongkok) menarik diri di tengah turnamen.
Berdasarkan Pasal 5 Ayat 6 regulasi kompetisi AFC, klub yang mundur setelah turnamen dimulai seharusnya membuat seluruh hasil pertandingannya dibatalkan. Namun, dalam kasus ini, keputusan tersebut justru membuat Vissel Kobe yang seharusnya finis di posisi ketiga Wilayah Timur turun ke peringkat kelima karena hasil melawan Shandong tidak dihitung.
Sanksi Ganda dan Tuduhan Standar Ganda
Baca Juga: Lokasinya di Muncar, Gus Ipul Pastikan Sekolah Rakyat Banyuwangi Siap Dibangun Permanen Tahun Ini
Kisruh tak berhenti di situ. Dalam pertandingan antara Vissel Kobe vs Shandong Taishan di Stadion Noevir, Kobe (2 Oktober 2024), sempat terjadi keributan antara pemain dan ofisial kedua tim.
Akibat insiden itu, AFC menjatuhkan denda sebesar 10.000 dolar AS (sekitar Rp155 juta) kepada Vissel Kobe. Namun, meski Shandong Taishan akhirnya didiskualifikasi, sanksi untuk Kobe tidak dicabut, yang menimbulkan tudingan adanya standar ganda dalam keputusan AFC.
Potensi Dampak Besar bagi Sepak Bola Asia
Jika JFA benar-benar memutuskan hengkang dari AFC dan membentuk konfederasi baru di Asia Timur, dampaknya akan sangat besar bagi sepak bola Asia. Jepang selama ini merupakan kekuatan utama di kawasan, baik di level tim nasional maupun klub.
Namun, langkah besar tersebut tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat. Pembentukan konfederasi baru akan melibatkan banyak aspek, termasuk pengaturan slot Piala Dunia serta afiliasi negara-negara anggota baru yang mungkin bergabung.
Meski masih berupa wacana, kabar ini telah mengguncang fondasi sepak bola Asia. Jika benar terjadi, langkah Jepang bisa menjadi titik balik besar dalam sejarah AFC, sekaligus membuka babak baru dalam peta kekuatan sepak bola di kawasan timur.
Apakah Jepang benar-benar akan meninggalkan AFC dan membangun “Federasi Asia Timur”? Waktu akan menjawab namun satu hal pasti, dunia sepak bola Asia kini sedang menahan napas menunggu keputusan bersejarah dari Negeri Sakura. (*)
Editor : Niklaas Andries