Opta Analyst mencoba mengurai penyebab di balik menurunnya produktivitas sang Egyptian King. Liverpool kembali diselimuti rasa deja vu yang tak diinginkan.
Setelah terbiasa mencetak gol penentu di menit akhir, kini tim asuhan Arne Slot justru dua kali beruntun kalah di London dengan skor identik 1–2 akibat kebobolan di masa tambahan waktu.
Kekalahan di markas Chelsea terasa lebih menyakitkan bagi Salah. Mantan pemain The Blues itu gagal memanfaatkan dua peluang emas, menambah daftar kekecewaannya musim ini.
Padahal, Salah sempat memulai musim dengan apik dengan dua gol penentu kemenangan di masa injury time, termasuk dari titik putih melawan Burnley.
Bahkan ia masih sempat menunjukkan kilasan magis lewat gol indah kontra Atletico Madrid di Liga Champions. Namun, momen seperti itu kini semakin langka.
Yang lebih mengejutkan, Salah hanya menempati urutan keempat dalam perolehan suara Ballon d’Or 2025, meski musim lalu ia mencatat 57 kontribusi gol di semua ajang (34 gol dan 23 asis) menjadi terbanyak di antara pemain dari lima liga top Eropa.
Meski Liverpool membuka musim dengan tujuh kemenangan beruntun di semua kompetisi, performa mereka jauh dari kata meyakinkan.
Pertanyaan besar pun muncul: apakah hasil atau performa yang akan berubah lebih dulu? Sayangnya, hasil yang lebih dulu menurun. Dalam delapan hari, The Reds menelan tiga kekalahan beruntun dari Crystal Palace, Galatasaray, dan Chelsea.
Salah gagal mencetak gol di ketiga laga tersebut. Bahkan, performanya terlihat jauh dari karakter pemain tajam yang biasa kita kenal.
Penurunan performa Salah tak hanya terlihat dari jumlah gol, tapi juga dari keterlibatannya dalam permainan.
Sentuhan dan Dribel Turun Tajam:
Rata-rata sentuhan per 90 menit: turun dari 48,6 menjadi 42,6
Sentuhan di kotak penalti: turun dari 9,6 menjadi 5,5 (terendah sejak datang ke Liverpool)
Rata-rata dribel: turun dari 3,5 menjadi 1,6 per laga
Keberhasilan dribel: anjlok dari 39% menjadi 20%
Efektivitas Serangan Merosot:
Rata-rata tembakan: dari 3,4 yakni 2,0 per 90 menit
Expected Goals (xG): dari 0,63 yakni 0,32
Konversi gol: dari 20,2% yakni 15,8%
Dalam 24 laga terakhir di semua ajang, Salah hanya mencetak empat gol non-penalti dari 52 tembakan merupakan angka yang sangat rendah bagi pemain sekelasnya.
Penurunan performa ini tak sepenuhnya kesalahan Salah. Liverpool memang mengalami perubahan besar dalam struktur permainan dan personel inti.
Meski kreativitasnya sedikit menurun (1,6 peluang tercipta per laga dari 2,1 musim lalu), statistik Expected Assist (xA 0,23) dan big chance created (0,65) miliknya tetap stabil.
Salah bahkan masih menunjukkan kualitasnya melalui asis brilian untuk Ryan Gravenberch saat melawan Everton, serta umpan trivela luar biasa kepada Alexander Isak kontra Chelsea, meski gagal berbuah gol.
Namun, kehilangan Trent Alexander-Arnold tampaknya menjadi faktor terbesar. Selama delapan musim, keduanya membentuk duet mematikan di sisi kanan. Kini, setelah Trent hijrah ke Real Madrid, Salah kehilangan mitra kreatif utamanya.
Statistik Dampak Absennya Trent:
Dengan Tren: 33 laga, 27 Gol, 3,5 tembakan per laga, 0,48XG non-pen per la
Tanpa Trent: 12 laga, 4 gol, 2 tembakan per laga, 0,3xG non-pen per laga
Tanpa suplai umpan tajam dari Trent, Salah harus menyesuaikan diri dengan peran baru — seringkali lebih melebar dan jauh dari area berbahaya.
Musim ini, Salah lebih sering menerima bola di dekat garis tepi kanan ketimbang di dalam kotak penalti. Ia mencatat 13 sentuhan per laga di zona sayap kanan lawan menjadi yang tertinggi di antara semua area.
Pola ini membuat pergerakannya lebih mudah ditebak oleh bek lawan, sehingga mengurangi peluang eksplosif yang biasa ia ciptakan.
Selain itu, jumlah umpan progresif yang diterimanya juga menurun tajam. Jika musim lalu ia menjadi penerima terbanyak di Premier League (297 kali), kini hanya peringkat keenam (41 kali).
Jangan lupakan juga konteks awal musim. Dari tujuh lawan pertama Liverpool, lima di antaranya adalah tim delapan besar klasemen, termasuk Chelsea, Newcastle, dan Arsenal. Dengan jadwal sesulit itu, penurunan angka individu Salah bukan hal yang terlalu mengejutkan.
Selain itu, faktor emosional turut berperan besar. Salah kehilangan sahabat dan rekan setimnya, Diogo Jota, yang meninggal mendadak pada Juli lalu. Air matanya seusai laga pembuka kontra Bournemouth menjadi bukti betapa dalam duka yang ia rasakan.
Salah sudah berulang kali membuktikan kemampuannya bangkit dari keterpurukan.
Ingat musim 2023-2024? Setelah hanya mencetak satu gol non-penalti di sembilan laga terakhir, ia kemudian melesakkan 29 gol musim berikutnya dan mengantar Liverpool juara.
Kini, situasi serupa terulang. Ia hanya butuh waktu, ritme, dan dukungan taktik yang kembali menonjolkan kekuatannya. Arne Slot harus menemukan formula terbaik untuk mengembalikan sang ikon ke level tertinggi.
Bagaimanapun, julukan “Raja Mesir” bukan diberikan tanpa alasan. Dan jika sejarah menjadi acuan, maka Mohamed Salah akan kembali bersinar. (*)
Editor : Niklaas Andries