RADARBANYUWANGI.ID - Kekalahan Timnas Indonesia dari Irak pada laga terakhir Kualifikasi Piala Dunia 2026 bukan hanya membuat para pendukung Garuda kecewa, tetapi juga mendapat perhatian langsung dari Presiden Prabowo Subianto.
Menurutnya, hasil tersebut harus menjadi bahan evaluasi menyeluruh, bukan sekadar kenangan pahit yang dilupakan begitu saja.
Melalui pernyataan resmi yang disampaikan oleh Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, Presiden Prabowo menegaskan perlunya evaluasi total terhadap sepak bola nasional.
“Bapak Presiden menyampaikan agar dilakukan evaluasi menyeluruh dan pembahasan yang lebih luas, tidak hanya soal sepak bola,” ujar Prasetyo di Jakarta, Rabu (15/10/2025).
Selain menyoroti kinerja tim nasional, Prabowo juga menekankan pentingnya pembinaan jangka panjang bagi atlet muda Indonesia.
Ia berencana membentuk akademi olahraga nasional untuk mencetak talenta berbakat dari berbagai cabang olahraga.
“Presiden ingin kita memiliki akademi khusus untuk membina talenta muda agar mereka bisa berprestasi di Olimpiade dan membawa medali untuk Indonesia,” lanjutnya.
Dua kekalahan beruntun dari Arab Saudi dan Irak menjadi pukulan berat bagi publik sepak bola Tanah Air.
Meski begitu, Prabowo mengajak seluruh pihak untuk tetap optimistis dan tidak larut dalam kekecewaan.
“Bapak Presiden tentu secara pribadi merasa berat hati menerima kenyataan bahwa kita belum berhasil lolos,” ungkap Prasetyo.
Ia menilai para pemain telah berjuang maksimal di lapangan, namun masih terdapat pekerjaan besar dalam hal pembinaan, infrastruktur, dan mentalitas pemain.
Tiga aspek ini disebut krusial untuk dibenahi jika Indonesia ingin benar-benar bersaing di tingkat Asia, bahkan dunia.
Sementara itu, Pelatih Timnas Indonesia Patrick Kluivert tetap memberikan dukungan moral kepada para pemainnya meski hasil belum sesuai harapan.
“Ya, memang sulit setelah kekalahan itu, tapi kami tetap profesional. Kami harus melihat apa yang salah dan segera memperbaikinya,” ujar Kluivert setelah laga melawan Arab Saudi di Jeddah.
Kluivert mengakui tekanan besar dari publik, namun menegaskan bahwa perubahan besar membutuhkan waktu dan proses panjang.
Pertandingan melawan Irak disebutnya sebagai momentum bagi para pemain Garuda untuk menunjukkan karakter sejati mereka.
Menanggapi arahan Presiden, Ketua Umum PSSI Erick Thohir menyambut baik dan langsung menyiapkan langkah konkret.
Ia menegaskan perlunya reformasi sistem pembinaan pemain muda di Indonesia.
“Kami akan menata ulang sistem pembinaan agar ke depan Indonesia tidak hanya berharap pada naturalisasi, tetapi juga mencetak bintang dari dalam negeri,” tegas Erick.
Pemerintah bersama PSSI juga berencana menyiapkan peta jalan (roadmap) pengembangan sepak bola nasional yang terintegrasi dengan pendidikan usia dini.
Tujuannya agar bibit-bibit lokal dapat berkembang sejak muda dan siap bersaing di level internasional.
Meski gagal melaju ke Piala Dunia 2026, semangat tim Garuda tidak boleh padam. Justru dari kegagalan ini muncul harapan baru untuk menatap Piala Asia 2027 dan SEA Games 2025.
Presiden Prabowo menutup pesannya dengan seruan penuh semangat.
“Inilah saatnya bangun dari dasar,” tegasnya.
Jika langkah-langkah besar yang direncanakan benar-benar dijalankan, bukan tidak mungkin suatu hari nanti lagu “Indonesia Raya” akan berkumandang di panggung sepak bola dunia.
Penulis: Kholaf Moh Ab’ha Ulinnuha | Mahasiswa Magang Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam UIMSYA Banyuwangi
Editor : Lugas Rumpakaadi