Turnamen Shanghai Masters 2025 menghadirkan kisah luar biasa yang jarang terjadi di dunia tenis modern. Dua sepupu asal Prancis, Arthur Rinderknech dan Valentin Vacherot, akan saling berhadapan dalam final bersejarah pada Minggu (5/10).
Rinderknech melangkah ke final setelah mengalahkan Daniil Medvedev lewat pertarungan tiga set dramatis. Sementara itu, Vacherot tampil mengejutkan dengan menyingkirkan Novak Djokovic yang tengah mengalami cedera pinggul.
Duel Keluarga yang Langka di Tenis Putra
Pertandingan antara dua anggota keluarga memang bukan hal baru di tenis putri — siapa yang bisa melupakan rivalitas Serena dan Venus Williams? Namun di dunia tenis putra, pertemuan seperti ini adalah peristiwa amat langka.
Final Rinderknech vs Vacherot menjadi final ATP Masters 1000 pertama dalam sejarah yang mempertemukan dua petenis pria dari keluarga yang sama. Ini juga merupakan final keempat di level profesional antara kerabat sejak awal abad ke-20.
Terakhir kali hal serupa terjadi adalah pada tahun 1991, saat John McEnroe menghadapi adiknya Patrick McEnroe di Grand Prix Chicago. Setelah 34 tahun, sejarah itu kembali terulang di Shanghai — menghadirkan kisah luar biasa bagi dunia tenis modern.
Perjalanan Menuju Final: Keteguhan dan Keajaiban
Usai menaklukkan Medvedev 4-6, 6-2, 6-4, Rinderknech langsung mendapat pelukan hangat dari sepupunya, pertanda bahwa hubungan darah tetap erat meski kini mereka jadi rival di final.
Petenis berusia 30 tahun itu sebelumnya juga menumbangkan nama-nama besar seperti Alexander Zverev, Jiri Lehecka, dan Felix Auger-Aliassime.
Kemenangan atas Medvedev menjadi tonggak penting, mengingat ini adalah kali pertama Rinderknech melampaui babak ketiga turnamen ATP 1000.
Kini, petenis berperingkat 54 dunia tersebut hanya berjarak satu langkah dari gelar ATP Masters pertamanya — setelah gagal di final Adelaide 2022 melawan Thanasi Kokkinakis.
Valentin Vacherot: Petenis Peringkat 204 Dunia yang Menggebrak Dunia
Sementara itu, Valentin Vacherot menjadi kisah dongeng nyata di Shanghai. Berperingkat 204 dunia, ia tampil impresif dengan menyingkirkan Alexander Bublik, Tallon Griekspoor, dan Holger Rune, sebelum mengalahkan Novak Djokovic di semifinal.
Kemenangan 6-3, 6-4 atas Djokovic mengukuhkan Vacherot sebagai:
Finalis ATP Masters berperingkat terendah sepanjang sejarah.
Pemain pertama asal Monako yang berhasil mencapai final turnamen Masters 1000.
Dalam laga semifinal, Vacherot memenangkan 78% poin dari servis pertamanya, menegaskan kekuatannya sebagai petenis yang tangguh meski tak diunggulkan.
Final ini juga mencatat sejarah lain: untuk pertama kalinya dua petenis nonunggulan (unseeded) bertemu di final Shanghai Masters — momen langka di turnamen sekelas ini.
Rekor Pertemuan: Rinderknech Unggul
Kedua sepupu ini baru pernah bertemu satu kali sebelumnya, yakni di turnamen ITF France F13 tahun 2018, di mana Rinderknech menang 6-2, 6-4.
Saat itu, Rinderknech mencatat 11 ace, memenangkan 81% poin dari servis pertamanya, dan sama sekali tidak menghadapi break point. Sebaliknya, ia mampu mematahkan servis Vacherot sebanyak tiga kali dari tujuh kesempatan.
Prediksi: Rinderknech Unggul dalam Tiga Set
Pertarungan ini sulit diprediksi — keduanya saling mengenal gaya permainan dan karakter satu sama lain. Meski Vacherot tengah dalam performa terbaik, pengalaman dan ketenangan Rinderknech di level tertinggi menjadi keunggulan tersendiri.
Dengan tinggi badan 196 cm dan servis keras yang mematikan, Rinderknech diprediksi akan memanfaatkan keunggulan tersebut untuk menekan sejak awal.
Arthur Rinderknech menang dalam tiga set dan mengangkat trofi ATP Masters pertama dalam kariernya, sekaligus menciptakan sejarah keluarga tak terlupakan di Shanghai Masters 2025. (*)
Editor : Niklaas Andries