RADARBANYUWANGI.ID - Performa gemilang ditunjukkan pembalap muda Inggris, Ollie Bearman, pada F1 Grand Prix Singapura 2025.
Ia berhasil finis di posisi kesembilan dan mempersembahkan poin berharga untuk Tim Haas.
Ini menjadi raihan pertama mereka sejak GP Zandvoort.
Bearman memulai balapan dengan solid setelah berhasil menembus sesi kualifikasi Q3 untuk pertama kalinya sejak GP Silverstone.
Namun, balapan di sirkuit jalan raya Marina Bay tak berjalan mulus sejak awal.
Ia sempat bersenggolan dengan Isack Hadjar di tikungan pertama, yang memberi celah bagi Fernando Alonso dari Aston Martin untuk menyalipnya.
Meski demikian, Bearman mampu menjaga fokus dan menahan tekanan dari rekan setimnya, Nico Hulkenberg, yang terus membayangi di belakang.
Ia mengakui sempat kesulitan menjaga keseimbangan mobil pada stint pertama.
Namun, strategi pit stop dan penyesuaian setelan mobil membuat performanya meningkat signifikan pada stint kedua.
“Setelah insiden di lap pertama, saya turun ke posisi 10 dan harus bertahan dari tekanan Nico di belakang. Pada stint pertama saya banyak kesulitan dengan keseimbangan mobil, tetapi setelah pit stop, kami membuat kemajuan besar,” ujar Bearman usai balapan, dikutip F1.
Pembalap berusia 20 tahun itu bahkan sempat mengincar posisi kedelapan sebelum akhirnya kembali disalip Alonso, yang memiliki kecepatan lebih baik.
Meskipun kecewa tak mampu mempertahankan posisi, Bearman mengakui hasil ini merupakan pencapaian besar bagi tim.
Ia menyebut poin yang didapat sebagai “super penting”, mengingat pertarungan ketat di papan tengah klasemen konstruktor.
Haas kini berada di posisi kesembilan, hanya terpaut sembilan poin dari Kick Sauber yang menempati posisi kedelapan.
Setiap poin sangat berarti dalam perebutan posisi dan peningkatan hadiah uang di akhir musim.
“Di lintasan seberat Singapura, kami mengeksekusi akhir pekan dengan sangat baik,” tambahnya dengan rasa puas.
Sementara itu, hasil berbeda dialami Esteban Ocon dari Alpine.
Ia harus puas finis di posisi ke-18 setelah mengalami masalah sabuk pengaman saat kualifikasi, yang membuatnya tersingkir lebih awal di Q1.
Start dari posisi belakang di lintasan yang sulit untuk menyalip menjadi tantangan besar bagi Ocon.
Strategi balapan Alpine pun tidak berjalan efektif.
Ocon menjalani stint pertama yang terlalu panjang, kehilangan peluang untuk melakukan undercut, dan akhirnya terjebak di belakang rombongan pembalap dengan DRS train yang membuatnya sulit menyalip.
“Balapan ini berjalan sulit. Kami sempat mendapatkan posisi di awal, tapi kehilangan semuanya setelah pit stop,” ungkap Ocon.
“Ini akhir pekan yang mengecewakan, dan kami harus mengevaluasi semuanya sebelum balapan berikutnya,” pungkasnya.
Editor : Lugas Rumpakaadi