Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Perjalanan Cinta Yurike Sanger dan Soekarno: Dari Istora Senayan hingga Tanah Kusir

Lugas Rumpakaadi • Selasa, 7 Oktober 2025 | 18:04 WIB
Yurike Sanger, istri ke-7 Presiden Soekarno.
Yurike Sanger, istri ke-7 Presiden Soekarno.

RADARBANYUWANGI.ID - Jenazah Yurike Sanger, istri ketujuh Presiden pertama Republik Indonesia Soekarno, tiba di Tanah Air pada Minggu (5/10/2025) sore setelah diterbangkan dari Amerika Serikat.

Pesawat yang membawa jenazah mendarat di Bandara Internasional Soekarno-Hatta sekitar pukul 15.35 WIB.

Kapospol Kargo Bandara, Ipda Feri Susanto, menyampaikan bahwa jenazah langsung dibawa menuju Rumah Duka Sentosa RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta Pusat, untuk disemayamkan.

Prosesi ibadah tutup peti digelar pada Senin (6/10/2025) pagi, sebelum pemakaman di TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan.

Upacara pemakaman berlangsung khidmat dan penuh doa.

Keempat anaknya, Batara Bahyu, Eka Putri, Lintar Wardana, dan Tjahyadi, tampak tegar mendampingi kepergian sang ibu tercinta.

Prosesi rohani Kristen diiringi nyanyian lembut menutup perjalanan panjang hidup perempuan yang pernah menjadi bagian dari sejarah bangsa.

Perjalanan Hidup dan Cinta Sang Istri Presiden

Yurike Sanger lahir di Manado, 22 Mei 1945, dari keluarga berdarah Jerman–Manado.

Ia dikenal sebagai sosok tenang, sederhana, dan jarang tampil di publik.

Namun di balik ketenangan itu, tersimpan kisah cinta yang pernah mengguncang hati sang Proklamator.

Pertemuan Yurike dengan Soekarno terjadi pada 1963 di Istora Senayan.

Saat itu, Yurike yang masih duduk di bangku SMA tampil sebagai anggota Barisan Bhinneka Tunggal Ika dalam acara kenegaraan.

Pesona gadis muda itu menarik perhatian Presiden Soekarno.

Ia bahkan memberi nama panggilan “Yuri” dan kerap mengajaknya berbincang hangat.

Kedekatan itu berkembang hingga akhirnya Soekarno datang melamar secara resmi.

Pada 6 Agustus 1964, keduanya menikah secara Islam di Istana Negara.

Saat itu, Soekarno berusia 63 tahun, sementara Yurike baru 19 tahun.

Pernikahan sederhana itu menandai babak baru dalam kehidupan Yurike sebagai istri ke-7 Presiden Soekarno, setelah Hartini dan Ratna Sari Dewi.

Ujian Rumah Tangga di Tengah Gejolak Politik

Menjadi istri presiden bukan berarti hidup dalam kemewahan tanpa duka.

Yurike tinggal di rumah pemberian Bung Karno di Cipinang Cempedak, Jakarta Timur.

Meski istana tampak megah, kehidupan di dalamnya sunyi.

Yurike harus menyesuaikan diri dengan kehidupan baru, jauh dari keluarga dan sorotan publik.

Di tengah kehamilan yang sulit dan tekanan politik nasional yang meningkat, hubungan keduanya menghadapi tantangan besar.

Setelah kejatuhan Soekarno pada 1967, Yurike menerima pesan sederhana dari sang suami.

“Dik, lebih baik tinggalkan rumah itu, toh bukan rumah kita.”

Pesan yang ditulis di bungkus rokok itu menjadi penanda perpisahan mereka yang penuh haru.

Atas saran Bung Karno, Yurike mengajukan perceraian demi melanjutkan hidupnya.

Meski berpisah, ia tetap menyimpan rasa hormat dan kasih mendalam kepada sang Proklamator hingga akhir hayat.

Menjalani Kehidupan Baru di Amerika Serikat

Usai berpisah dari Soekarno, Yurike menikah dengan Subekti dan dikarunai empat anak.

Setelah reformasi 1998, keluarga kecil itu pindah ke Amerika Serikat, mencari kehidupan baru jauh dari sorotan sejarah dan politik Tanah Air.

Di negeri Paman Sam, Yurike dikenal bukan sebagai istri seorang presiden, melainkan sebagai ibu dan oma penyayang.

Ia hidup sederhana di California, menghabiskan waktu bersama anak, cucu, dan cicitnya.

Yurike Sanger menghembuskan napas terakhir di San Gorgonio Memorial Hospital, California, pada Rabu (17/9/2025) waktu setempat, setelah berjuang melawan kanker payudara.

Ia meninggal dunia di usia 81 tahun, meninggalkan empat anak, empat menantu, 13 cucu, dan tiga cicit.

Akhir yang Tenang di Tanah Air

Keputusan keluarga untuk memulangkan jenazah Yurike ke Indonesia menjadi penutup perjalanan panjang hidupnya.

Ia dimakamkan di TPU Tanah Kusir Blad Khusus Pahlawan, bersebelahan dengan makam para tokoh dan perintis bangsa.

Editor : Lugas Rumpakaadi
#presiden soekarno #tanah kusir #yurike sanger