RADARBANYUWANGI.ID - Akhir pekan lalu, dunia balap kembali diguncang oleh sosok Max Verstappen.
Saat Formula 1 memasuki jeda sepekan, juara dunia empat kali ini memutuskan turun di ajang GT3 untuk pertama kalinya.
Hasilnya luar biasa, Verstappen berhasil merebut kemenangan di Nurburgring, salah satu trek paling ikonik sekaligus menantang di dunia.
Helmut Marko, penasihat motorsport Red Bull, mengaku terkesan dengan pencapaian ini.
Menurutnya, apa yang ditunjukkan Verstappen adalah bukti nyata betapa besar komitmen pembalap asal Belanda tersebut terhadap dunia balap.
“Ya, itu sangat mengesankan. Dan itu menunjukkan betapa berkomitmennya dia,” kata Marko dalam wawancara dengan Viaplay, dikutip Motorsport.
Ia menambahkan, tidak semua pembalap memilih mengisi waktu luang dengan cara serupa.
“Yang lain pergi ke, entahlah, peragaan busana atau semacamnya. Verstappen justru ke Nordschleife, salah satu sirkuit paling menuntut yang kami miliki,” ungkapnya.
Pernyataan Marko ini dianggap sebagai sindiran halus, meski tanpa menyebut nama.
Publik pun menilai arah pernyataannya bisa jadi ditujukan kepada Lewis Hamilton, rival utama Verstappen di lintasan Formula 1.
Kontras dengan Hamilton di Dunia Fashion
Sementara Verstappen sibuk menaklukkan GT3, Lewis Hamilton justru kerap menjadi sorotan karena aktivitasnya di dunia fashion.
Juara dunia tujuh kali asal Inggris itu dikenal aktif hadir di berbagai acara mode, mulai dari New York hingga Milan.
Bahkan, pada tahun 2025, Hamilton dipercaya menjadi pembawa acara Met Gala, ajang bergengsi yang mempertemukan para ikon mode global.
Meski begitu, akhir pekan lalu Hamilton tidak hadir di Milan Ferrari Fashion Show.
Bukan tanpa alasan, ia sedang mendampingi anjing kesayangannya, Roscoe, yang tengah sakit.
Sayangnya, bulldog Inggris berusia 12 tahun tersebut akhirnya meninggal dunia akibat komplikasi pneumonia.
Dua Dunia, Dua Fokus
Perbedaan jalan yang ditempuh Verstappen dan Hamilton semakin menyoroti karakter unik keduanya.
Verstappen terlihat memilih fokus sepenuhnya pada balapan, bahkan ketika kalender Formula 1 tengah kosong.
Di sisi lain, Hamilton menyeimbangkan karier balapnya dengan dunia fashion dan aktivisme sosial.
Dua pendekatan ini menggambarkan bagaimana para pembalap top dunia memiliki cara berbeda dalam mengekspresikan diri, baik di dalam maupun di luar lintasan.
Editor : Lugas Rumpakaadi