Malaysia di Ujung Tanduk Usai Sanksi FIFA
Buntut dari sanksi FIFA terhadap Federasi Sepak Bola Malaysia (FAM) kian meruncing. Timnas Malaysia kini berisiko gagal tampil di Piala Asia 2027 karena terancam didiskualifikasi dari babak kualifikasi yang sedang berlangsung.
Masalah bermula saat Malaysia memainkan tujuh pemain keturunan ilegal dalam laga kontra Vietnam pada 10 Juni 2025 di Stadion Nasional Bukit Jalil.
Ironisnya, laga itu dimenangkan Malaysia dengan skor telak 4-0, sekaligus membawa Harimau Malaya memuncaki klasemen grup F dengan enam poin dari dua kemenangan atas Nepal (2-0) dan Vietnam (4-0).
Namun, kemenangan tersebut kini berada di ujung tanduk. Jika banding FAM ke FIFA ditolak, maka hasil kontra Vietnam dan Nepal bisa dibatalkan. Sebagai gantinya, tiga poin otomatis akan diberikan kepada lawan.
Bukan Kasus Pertama: Timor Leste & Bolivia Pernah Alami
FIFA sebelumnya juga pernah menjatuhkan hukuman serupa pada negara lain.
Timor Leste (2015–2017): Kedapatan memainkan sembilan pemain Brasil secara ilegal di Kualifikasi Piala Dunia 2018. Akibatnya, FIFA mendiskualifikasi mereka dari Kualifikasi Piala Dunia 2018 dan Piala Asia 2023.
Bolivia (2016): Memainkan Nelson Cabrera yang tidak sah di Kualifikasi Piala Dunia 2018. FIFA menghukum Bolivia dengan kekalahan 0-3 serta denda besar untuk federasi mereka.
Kasus Malaysia kini berpotensi masuk daftar hitam yang sama jika terbukti bersalah tanpa celah banding.
Vietnam Paling Diuntungkan
Jika diskualifikasi resmi dijatuhkan, maka Vietnam akan menjadi pihak yang paling diuntungkan. The Golden Star otomatis mengantongi enam poin dari dua laga awal.
Dengan posisi lebih unggul dari Nepal dan Laos di Grup F, peluang Vietnam melenggang ke Piala Asia 2027 di Arab Saudi kian terbuka lebar.
Skandal pemain ilegal benar-benar menjadi mimpi buruk bagi sepak bola Malaysia. Alih-alih memperkuat skuad dengan pemain keturunan, langkah FAM justru bisa membuat Harimau Malaya kehilangan tiket ke Piala Asia 2027.
Kini, semua mata tertuju pada keputusan akhir FIFA: apakah Malaysia masih bisa bertahan di kualifikasi, atau harus mengubur mimpi di tengah jalan. (*)
Editor : Niklaas Andries