RADARBANYUWANGI.ID - Nama Janice Tjen belakangan terus mencuri perhatian publik. Petenis berusia 23 tahun itu berhasil menorehkan prestasi gemilang di panggung internasional dengan menembus final WTA 250 Sao Paulo 2025.
Namun, di balik pencapaian terbarunya, sosok Janice menyimpan kisah perjalanan panjang yang menarik untuk ditelusuri.
Janice Tjen lahir di Jakarta pada 6 Mei 2002. Sejak kecil, ia sudah akrab dengan olahraga tenis dan kerap mengikuti kejuaraan junior di dalam negeri maupun kawasan Asia Tenggara.
Bakatnya kian menonjol saat tampil di ASEAN School Games 2019, di mana ia berhasil membawa pulang gelar juara.
Karier akademiknya juga berjalan beriringan dengan dunia tenis. Pada 2020, Janice sempat membela University of Oregon, Amerika Serikat, dalam kompetisi tenis perguruan tinggi. Setahun kemudian, ia pindah ke Pepperdine University.
Di kampus barunya ini, Janice makin berkembang, baik secara akademis maupun di lapangan, hingga akhirnya lulus pada 2024 dengan jurusan sosiologi.
Selepas masa kuliah, Janice serius meniti jalur profesional. Ia turun di berbagai turnamen ITF dan mencatat sejumlah gelar, baik di nomor tunggal maupun ganda.
Kerja kerasnya mulai terbayar ketika perlahan menembus turnamen WTA, yang membuat namanya dikenal luas di level internasional.
Puncaknya terjadi pada 2025. Janice sukses menembus babak utama US Open 2025, Grand Slam pertamanya, setelah melewati jalur kualifikasi.
Tidak berhenti di situ, ia langsung membuat kejutan dengan menumbangkan unggulan ke-24, Veronika Kudermetova, di putaran pertama.
Kemenangan ini menorehkan sejarah, karena menjadikannya petenis Indonesia pertama dalam 22 tahun terakhir yang bisa memetik kemenangan di Grand Slam.
Dengan rangkaian prestasi itu, peringkat WTA Janice Tjen melonjak pesat. Per September 2025, ia resmi menduduki posisi 102 dunia, ranking tertinggi dalam kariernya sejauh ini.
Status itu membuatnya kini sejajar dengan para petenis top dunia yang sudah lebih dulu malang melintang di turnamen elit.
Di balik performa apiknya, Janice dikenal memiliki gaya bermain agresif dengan forehand kuat dan slice backhand yang variatif. Mental bertandingnya juga semakin terasah setelah lama berkompetisi di level internasional.
Tak heran, banyak pengamat menilai Janice sebagai simbol kebangkitan tenis putri Indonesia, meneruskan jejak legenda seperti Yayuk Basuki dan Angelique Widjaja.
Meski sempat kalah di final São Paulo, Janice mengaku bangga dengan pencapaiannya dan menjadikannya pengalaman berharga.
Ia kini menargetkan untuk menembus 100 besar dunia dan memperkuat posisinya di turnamen-turnamen besar mendatang.
Dengan usia yang masih muda dan karier yang sedang menanjak, Janice Tjen diyakini bisa membawa harum nama Indonesia di panggung tenis dunia.
Editor : Agung Sedana