RADARBANYUWANGI.ID - Sirkuit jalan raya Kota Baku kembali menjadi pusat perhatian Formula 1.
Setiap tahunnya, trek yang terkenal dengan lintasan lurus terpanjang ini menghadirkan drama dan kejutan.
Salah satu kisah terbesar datang dari Charles Leclerc, yang meski mendominasi kualifikasi, masih belum berhasil meraih kemenangan di Azerbaijan.
Leclerc Sang Raja Kualifikasi Baku
Sejak 2021, Leclerc tak pernah terkalahkan dalam sesi kualifikasi di Baku.
Empat kali berturut-turut ia mengamankan pole position, sebuah catatan yang menegaskan keahliannya menaklukkan jalanan sempit kota tua dan trek lurus panjang nan berbahaya.
Bahkan pada debutnya bersama Ferrari tahun 2019, peluang pole position terbuka lebar andai tidak terjadi kecelakaan.
Namun, kisah manis kualifikasi tidak berlanjut ke balapan utama.
Pada 2021, Ferrari kesulitan menjaga kecepatan di jarak penuh.
Tahun berikutnya, masalah keandalan mesin memaksa Leclerc mundur, sementara pada 2023 ia hanya mampu bertahan di podium ketiga.
Musim 2024 pun menjadi antiklimaks setelah Oscar Piastri berhasil menyalipnya dengan aksi spektakuler.
McLaren di Ambang Gelar Konstruktur
Selain cerita Leclerc, GP Azerbaijan tahun ini juga bisa menjadi panggung sejarah McLaren.
Dengan keunggulan 337 poin dari Ferrari setelah 16 seri, McLaren hanya butuh hasil maksimal di Baku untuk memastikan gelar konstruktor ke-10.
Jika sukses finis 1-2, tim asal Woking ini akan melewati Williams dalam daftar peraih gelar terbanyak sepanjang masa, hanya tertinggal enam dari Ferrari.
Daftar juara konstruktor terbanyak saat ini:
- Ferrari: 16
- Williams dan McLaren: 9
- Mercedes: 8
- Lotus: 7
- Red Bull: 6
Red Bull Bangkit, Verstappen Masih Jadi Faktor
Meski peluang gelar sudah menjauh, Max Verstappen kembali menunjukkan kualitasnya di Monza.
Dengan strategi low-downforce yang berisiko, ia meraih kemenangan dominan.
Walau tertinggal hampir 100 poin dari Oscar Piastri, Verstappen tetap bisa menentukan arah persaingan gelar juara.
GP Azerbaijan menjadi ujian penting bagi Red Bull, terlebih setelah tahun lalu Verstappen kesulitan dan kalah dari rekan setimnya, Sergio Perez.
Hasil di Baku bisa menjadi penentu arah momentum tim jelang putaran terakhir musim ini.
Ollie Bearman di Bawah Tekanan
Di sisi lain, pembalap rookie Haas, Ollie Bearman, menghadapi tekanan besar.
Setelah insiden dengan Carlos Sainz di Monza, ia hanya terpaut dua poin penalti dari larangan balapan.
Ironisnya, tahun lalu ia sempat menggantikan Kevin Magnussen di Baku, yang kala itu menjalani skorsing.
Kini, Bearman dituntut tampil bersih agar tidak mengulang sejarah serupa.
Menanti Jawaban di Baku
Dengan Leclerc yang masih mencari kemenangan perdananya, McLaren memburu sejarah, Red Bull mencoba bangkit, dan Bearman berusaha bertahan dari ancaman sanksi, GP Azerbaijan 2025 menjanjikan pertarungan penuh intrik.
Perhatian akan tertuju ke Baku, akankah kutukan Leclerc berakhir, atau cerita kejutan lain yang tercipta?
Editor : Lugas Rumpakaadi