RADARBANYUWANGI.ID - Dalam ajang balap motor, kecepatan bukan satu-satunya hal yang penting.
Keselamatan juga menjadi aspek vital yang selalu diperhitungkan.
Seperti yang dijelaskan oleh Benny Siswanto, seorang pengamat balap MotoGP, dalam Podcast Satu Trek Jawa Pos Radar Banyuwangi, Jumat (29/8).
“Setiap pembalap harus memiliki teknik khusus untuk mengurangi risiko cedera saat terjadi kecelakaan di lintasan,” katanya.
Ketika pembalap mengalami crash di area gravel, cara paling aman adalah dengan mengikuti arah laju tubuhnya.
“Melawan arah justru dapat memperbesar risiko cedera,” tegasnya.
Posisi tangan juga menjadi perhatian penting.
Dalam kondisi tertentu, pembalap akan menyilangkan kedua tangan di dada.
“Teknik ini berfungsi untuk melindungi tubuh, khususnya lengan, agar tidak mengalami patah saat benturan,” terangnya.
Jenis kecelakaan yang paling ditakuti pembalap adalah high side.
Dalam situasi ini, motor dapat melempar pembalap ke arah yang sulit diprediksi.
Insiden yang pernah dialami Marc Marquez di Mandalika menjadi contoh nyata betapa berbahayanya high side.
Untuk mengurangi dampak benturan, pembalap MotoGP kini dibekali teknologi airbag yang otomatis mengembang saat gerakan tubuh melebihi batas tertentu.
“Indikator aktifnya airbag biasanya terlihat di bagian lengan baju balap,” ungkap Benny.
Banyak penonton yang bertanya-tanya, mengapa ada pembalap yang tetap berusaha memegang motor setelah terjatuh?
Ternyata, tujuan utamanya bukan sekadar insting, melainkan strategi untuk menjaga mesin agar tidak mati.
Dalam ajang MotoGP, motor tidak dilengkapi starter manual.
“Jika mesin mati, pembalap harus mengandalkan alat khusus di pit untuk menghidupkannya kembali, yang tentu saja mengurangi peluang melanjutkan balapan,” pungkasnya.
Editor : Lugas Rumpakaadi