RADARBANYUWANGI.ID - Paruh kedua musim Formula 1 2025 resmi dimulai akhir pekan ini dengan seri Grand Prix Belanda di Sirkuit Zandvoort.
Ajang ini akan menjadi spesial karena menandai balapan ke-500 Pirelli dalam sejarah Kejuaraan Dunia F1, sejak pertama kali hadir di Silverstone pada 1950.
Untuk balapan kali ini, Pirelli mengonfirmasi akan membawa pilihan ban C2 (hard, putih), C3 (medium, kuning), dan C4 (soft, merah).
Kombinasi ini satu tingkat lebih lembut dibandingkan yang digunakan pada GP Belanda 2024.
Setiap pembalap akan mendapat dua set ban hard, tiga set ban medium, serta delapan set ban soft.
Selain itu, tersedia pula ban intermediate (hijau) dan full wet (biru) untuk kondisi hujan.
Menurut pernyataan resmi Pirelli, keputusan menghadirkan pilihan ban lebih lembut dibuat bersama FIA dan promotor balapan.
Tujuannya adalah untuk meningkatkan kemungkinan strategi dua kali pit stop, menggantikan dominasi strategi sekali berhenti yang terjadi sejak Zandvoort kembali ke kalender F1 pada 2022.
Faktor lain yang memengaruhi adalah kenaikan batas kecepatan pit lane dari 60 km per jam menjadi 80 km per jam.
Hal ini mengurangi waktu yang hilang saat pit stop, sehingga tim lebih berani mengambil strategi tambahan.
Meski demikian, simulasi tim masih menunjukkan strategi satu pit stop berpotensi menjadi yang tercepat, mengingat sulitnya menyalip di lintasan sempit Zandvoort.
Sirkuit Zandvoort memiliki panjang 4,259 kilometer dengan 14 tikungan, terdiri dari 4 tikungan ke kiri dan 10 tikungan ke kanan.
Dua tikungan ikonik, yakni tikungan ketiga dan terakhir, memiliki kemiringan ekstrem hingga 19 dan 18 derajat, bahkan lebih curam dibandingkan tikungan di Indianapolis.
Karakter unik ini membuat ban bekerja ekstra keras karena menerima beban vertikal dan lateral yang tinggi.
Tim harus cermat mengatur setelan mobil agar ban mampu bertahan tanpa kehilangan performa.
Tingkat downforce yang dibutuhkan sangat tinggi, mirip dengan yang terlihat di Hungaroring, Budapest.
Selain itu, kondisi lintasan sering menantang.
Pasir dari pesisir pantai kerap terbawa angin dan menurunkan grip permukaan aspal.
Dengan lokasi hanya beberapa ratus meter dari Laut Utara, cuaca juga sulit diprediksi.
Di akhir musim panas, suhu udara biasanya sudah di bawah 20 derajat Celcius, sehingga menambah kompleksitas bagi para pembalap.
Dengan kombinasi ban lebih lembut, pit stop lebih cepat, serta karakter sirkuit yang sempit, strategi akan menjadi faktor penentu dalam GP Belanda 2025.
Apakah dua kali berhenti di pit bisa memberi keunggulan, atau strategi sekali berhenti masih tak tergoyahkan?
Semua akan terjawab di Zandvoort akhir pekan ini.
Editor : Lugas Rumpakaadi