RADARBANYUWANGI.ID – Suasana rumah milik Nur Efendi di Perum Puri 2 Giri, Banyuwangi, tampak berbeda pada Minggu (25/8). Rumah sederhana itu dipenuhi anak-anak hingga orang dewasa. Riuh tawa dan keceriaan terdengar dari para peserta yang mengenakan kostum ala pesenam lantai.
Puluhan anak tersebut tengah mengikuti Gymnastic Open 2025 yang digelar Gimnastik Klub Jenggirat Giri Banyuwangi. Sementara para orang tua memadati area sekitar rumah untuk mendampingi putra-putri mereka yang berlomba.
Kejuaraan ini mempertandingkan dua nomor, yakni meja lompat dan alat lantai, dengan tiga kategori kelompok umur (KU). KU level 1 diikuti anak usia 5–8 tahun, KU level 2 usia 9–10 tahun, dan KU level 3 usia 11–12 tahun.
Motor Penggerak Gymnastic Banyuwangi
Di balik semarak lomba, ada sosok Nur Efendi. Ia menjadi motor penggerak terselenggaranya kejuaraan ini. Selain sebagai pendiri Gymnastic Club Jenggirat Giri Banyuwangi, pria kelahiran 18 Juni 1990 itu juga menjabat Ketua Federasi Gymnastic Indonesia (FGI) Banyuwangi.
Sebagai penggiat sekaligus pelatih, Nur Efendi bukan orang baru di dunia senam. Sejak 2018, guru sekolah dasar di Rogojampi ini telah aktif melatih atlet muda. Ia masih ingat betul perjuangannya saat mulai memperkenalkan olahraga ini.
“Dulu awalnya hanya punya lima atlet. Sekarang, jumlahnya sudah lebih dari 30 anak yang aktif berlatih,” kenangnya.
Sebagai mantan atlet, Nur Efendi paham betul tantangan memperkenalkan gimnastik di Banyuwangi. Meski popularitasnya kalah dibanding olahraga lainnya, semangatnya tak pernah padam. Ia bahkan rela mendatangi sekolah-sekolah untuk menjaring bibit atlet baru.
Keterbatasan Sarana dan Improvisasi
Baca Juga: Alhamdulilah Jalur Gumitir Akan Dibuka Awal September, Tapi Khusus Kendaraan Kecil! Truk Berat?
Namun, perjuangan itu tidak selalu mudah. Kendala terbesar terletak pada ketersediaan peralatan. Harga sarana penunjang yang mahal membuatnya harus berimprovisasi. Salah satunya, ia menggunakan pegas motor bekas sebagai penyangga matras latihan.
Beberapa alat lain seperti balok keseimbangan, palang bertingkat, dan meja lompat pun kondisinya banyak yang rusak dan membutuhkan perbaikan.
Selain peralatan, lokasi latihan juga menjadi kendala. Dalam sepekan, jadwal latihan hanya tiga kali, berpindah-pindah antara Banyuwangi, Cluring, rumah wali atlet, hingga halaman Kantor KONI Banyuwangi. Bahkan, sesekali rombongan harus menumpang berlatih ke Probolinggo dan Surabaya demi bisa merasakan fasilitas yang lebih layak.
“Kalau latihan di luar kota tujuannya supaya anak-anak bisa merasakan fasilitas lengkap,” terangnya.
Prestasi Menggembirakan
Kerja keras itu membuahkan hasil. Anak-anak asuhannya sukses meraih prestasi di berbagai ajang resmi. Pada Popda 2024, kontingen Gymnastic Banyuwangi meraih medali perak nomor artistik putri balok keseimbangan.
Di Porprov 2023, mereka menyumbang medali perunggu dari nomor artistik putri alat lantai. Prestasi berlanjut pada Porprov 2025 dengan medali perunggu di nomor meja lompat putri.
Tak hanya di tingkat regional, atlet gymnastic Banyuwangi juga bersinar di level internasional. Pada International Gymnastic 2024, mereka merebut medali emas nomor all around kelompok umur putri. Kini, ajang Zasis International 2025 menjadi target berikutnya.
Pengorbanan Tak Terlihat
Baca Juga: Festival Bambu Gintangan 2025: Ribuan Warga Tumpah Ruah, Kostum Unik Bambu Jadi Sorotan
Di balik sederet prestasi itu, ada pengorbanan besar yang dilakukan Nur Efendi. Salah satunya soal pendanaan. Ia tak jarang harus menggadaikan BPKB kendaraan pribadinya demi memastikan anak didiknya bisa tampil di kejuaraan.
“Soal dana, BPKB kadang keluar masuk bank. Tujuannya agar atlet bisa tetap bertanding dan berprestasi,” ungkapnya.
Semua itu dilakukan demi satu tujuan: mengibarkan nama Banyuwangi di kancah olahraga gimnastik, baik di tingkat regional maupun internasional. (*)
Editor : Niklaas Andries