RADARBANYUWANGI.ID – Tour de Banyuwangi Ijen (TdBI) 2025 memanas tak hanya karena tanjakan maut, tapi juga insiden mengerikan yang terjadi di Desa Sarimulyo, Cluring.
Puluhan pembalap bergelimpangan setelah terjadi crash massal 134 kilometer sebelum garis finis, Kamis (31/7/2025).
Insiden terjadi tepat di depan SDN 1 Sarimulyo, Jl. Banyuwangi, Dusun Cempokasari.
Benturan antar-sepeda, jeritan panik, hingga tubuh-tubuh yang tersungkur ke aspal jadi pemandangan mengerikan.
Suasana mendadak kacau balau. Lomba etape keempat ini langsung berubah menjadi medan luka.
Beberapa pembalap tampak tak bergerak sesaat setelah terjatuh. Petugas medis segera meluncur ke titik kejadian, memberikan perawatan cepat di pinggir jalan.
Beruntung, tidak ada korban luka serius maupun pingsan, meski banyak pembalap mengalami luka gores dan memar parah.
Asal Muasal Crash
Menurut pantauan di lapangan, crash dipicu oleh kecepatan tinggi menjelang tikungan tajam, ditambah lintasan aspal yang basah akibat guyuran hujan.
Salah satu pembalap kehilangan kendali, lalu terjadi efek domino yang melibatkan hampir seluruh peleton tengah.
Beberapa pembalap tetap bisa melanjutkan lomba, meski kondisi sepedanya mengalami kerusakan ringan. Mereka langsung tancap gas, mengejar waktu dan posisi.
Etape Neraka, Mental Diuji
Etape keempat ini memang bukan untuk yang lemah. Dengan jarak 150 kilometer, para peserta ditantang untuk menaklukkan tiga titik King of Mountain (KOM), termasuk tanjakan Erek-Erek menuju Paltuding, yang dikenal sebagai tanjakan paling brutal di Asia Tenggara.
Start dimulai dari RTH Maron Genteng, melewati jalur flat sekitar 30 kilometer, sebelum masuk ke tanjakan di wilayah Songgon.
Di KM 43,8, KOM pertama hadir menyambut pembalap. Tapi sebelum sempat merasakan tanjakan, drama besar justru terjadi di Cluring, KM ke-16, yang seharusnya menjadi rute transisi.
Tim Swatt di Atas Angin, Climbers Siap Unjuk Gigi
Meski dihantui insiden, tim Swatt tetap menunjukkan dominasi. Diperkuat para climber tangguh, mereka mengincar kemenangan GC (General Classification).
Peraih polkadot jersey di etape kedua, Nicolo Pettiti, bahkan sudah memprediksi bahwa etape ini akan jadi ajang “survival of the fittest”.
Absennya Metkel Eyob dari Trengganu Team karena pulang ke negaranya, disebut tidak terlalu berpengaruh.
Pasalnya, semua tim kini menghadapi musuh yang sama: tanjakan, cuaca, dan rasa sakit.
Penentu Juara di Paltuding
Setelah melewati Kalibendo dan Erek-Erek, para pembalap akan menyentuh garis finis di Paltuding, kaki Gunung Ijen.
Inilah momen penentu. Siapa yang tangguh mental dan fisik, dialah juara sesungguhnya.
Namun satu hal pasti: TdBI 2025 etape keempat ini tak akan dilupakan.
Bukan hanya karena tanjakannya yang sadis, tapi juga karena crash massal di Cluring yang menguji keberanian dan ketangguhan sejati para peserta dari 24 negara. (*)
Editor : Ali Sodiqin