Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Carter Kejutkan Persaingan, Meijers Cetak Rekor Yellow Jersey Tiga Hari Beruntun

Fredy Rizki Manunggal • Kamis, 31 Juli 2025 | 13:09 WIB
Pembalap dari Australia, Carter Bettles, yang tergabung dalam tim Roojai Insurance Thailand, memenangi etape tiga TdBI dengan catatan waktu 3 jam, 13 menit, 7 detik, Rabu (30/7).
Pembalap dari Australia, Carter Bettles, yang tergabung dalam tim Roojai Insurance Thailand, memenangi etape tiga TdBI dengan catatan waktu 3 jam, 13 menit, 7 detik, Rabu (30/7).

RADARBANYUWANGI.ID – Pembalap dari Australia, Carter Bettles, yang tergabung dalam tim Roojai Insurance Thailand bikin kejutan.

Dalam balapan Tour de Banyuwangi Ijen (TdBI) etape ketiga, Rabu (30/7), Carter keluar sebagai pemenang dengan catatan waktu 3 jam, 13 menit, 7 detik.

Disusul Nicolo Petiti dari Swatt dan pembalap Prancis, Lucas De Rossi dari China Anta Mentech Cycling Team.

Meski finis awal, Carter maupun tim Roojai belum mampu menggeser posisi klasemen. Jeroen Meijer masih menjadi penguasa green jersey. Dia meraih yellow jersey selama tiga etape berturut- turut.

Hal ini sekaligus memecahkan rekor yang belum pernah dipegang pembalap lain sebelumnya. Tim Swatt juga masih menjadi tim yang menguasai general classification time.

Carter mengaku senang bisa menjadi yang tercepat di etape ketiga. Sejak semalam, dia sudah memikirkan cara untuk bisa memenangkan etape ketiga.

Ternyata, etape tersebut semakin sulit karena dirinya nyaris tak bisa melihat apa-apa karena lebatnya hujan.

"Rutenya sangat berat, apalagi di awal hujan. Kami berusaha menciptakan selisih waktu dan tim mendukung dengan baik,’’ kata Carter.

Pembalap asal Australia itu akan berusaha menjaga performanya. Dia akan berjuang sekuat tenaga untuk bisa merebut podium di etape keempat. Ijen bukan rute yang mudah, bahkan untuk pembalap profesional sekalipun.

”Balapan ini adalah balapan favorit saya di Asia. Saya sangat bersemangat untuk mendaki Ijen, dan tempat itu sangat indah. Saya akan beristirahat yang cukup agar bisa segera pulih,’’ tegasnya.

Pembalap spesialis climber dari tim Swatt, Nicolo Pettiti mengaku kecewa karena gagal menjadi yang tercepat saat adu sprint. Dia merasa ada penurunan performa yang dirasakan. "Aku benar-benar berterima kasih dengan teman satu timku yang benar-benar support,’’ ujarnya.

Jalannya balapan kemarin berlangsung seru. Sejak start dari RTH Glenmore, sebanyak 96 pembalap sudah disambut hujan deras. Mereka beradu cepat dengan finis di depan kantor Pemkab Banyuwangi. Pembalap menempuh rute sepanjang 140,3 kilometer.

Namun, hujan lebat memberikan tantangan bagi pembalap untuk mempertahankan konsentrasi dan kondisi fisik mereka. Belum lagi ada bebera kontur jalan rolling (naik turun) yang harus dilalui menjelang titik King of Mountain (KOM).

Selama balapan, rombongan pembalap terbagi dalam dua kelompok. Sejak awal start dimulai, pembalap dari tim Rojaai  Insurance, Peerapong Landgern, langsung breakaway dari peloton. Disusul pembalap dari Seoul Cycling Team, Kyeongho Min.

 Keduanya terus memimpin perlombaan, meninggalkan peloton di belakangnya. Landngern berhasil mengamankan sprint intermediate pertama di KM 26 (Dasri)

Pada di kilometer 52, mereka berhasil dikejar tiga pembalap lainnya, Bernard Benyamin Van Aert (Anonymous Cycling Team Indonesia), Nur Amirull Fakhruddin Mazuki (Terengganu Cycling Team Malaysia), dan Martti Lenzius (Quick Pro Team Estonia). Breakaway pun bertambah menjadi lima rider.

Lima pembalap terus memimpin lomba.  Bernard berhasil memenangi intermediate sprint kedua di KM 58 (Jajag) dan ketiga di KM 95 (Rogojampi). Dua rombongan bertahan hingga melewati kawasan Macan Putih dengan beberapa pembalap tercecer di belakangnya.

Menjelang dua kilometer sebelum titik tanjakan KOM) di kilometer 114 Pakel, peleton meningkatkan kecepatan dan berhasil mengejar lima pembalap terdepan. Namun, kuallifikasi para pembalap akhirnya mulai tampak di dekat titik KOM.

Dengan tanjakan sepanjang 14 km, gradien tanjakan mencapai 15 persen, dan elevasi mencapai 527 Mdpl, endurance pembalap diuji. Tanjakan ini masuk kategori 2 dan tampak cukup menguras energi para pembalap.

"Hujan yang sangat deras membuat kondisi sangat sulit. Kadang jalannya seperti hilang tertutup air. Etape tiga ini lebih sulit daripada dua etape sebelumnya," kata pembalap dari Victoria Sports Pro Cycling Filipina, Jeroen Meijers.

Akibat jalan yang licin, pembalap Indonesia yang memperkuat ASC Monsterm, Syelhan Nurahmat Muhammad, sempat terjatuh. Di sisi lain, tim Swatt menunjukkan kualitas para climber-nya. S

eorang pembalapnya, Nicolo Petiti dari Australia, berhasil melakukan solo break dan menguasai tanjakan. Nicolo bahkan mencatatkan diri sebagai juara KOM dan mendapat polkadot jersey.

"Menjelang tanjakan, lima rider yang berada di depan mulai menurunkan kecepatannya. Kesempatan ini langsung saya ambil. Saya bersyukur bisa menang. Ini semua berkat kerja sama tim Swatt yang berhasil mengontrol peleton, sehingga saya bisa unggul di tanjakan," kata Petiti. 

Selepas tanjakan, formasi peleton terpecah. Sebanyak 19 pembalap melepaskan diri dan beradu  sprint hingga titik finis di depan kantor Bupati Banyuwangi. Sedangkan di belakangnya ada peloton yang membawa puluhan pembalap lainya.

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengatakan, ajang TdBI mulai menemukan ruhnya sebagai sebuah event yang menjadi bagian dari masyarakat Banyuwangi.

Selama tiga hari, Ipuk merasakan bagaimana masyarakat yang berusaha untuk bisa menyaksikan para pembalap melintas meskipun dalam kondisi hujan dan harus menunggu dalam waktu lama.

"Saya yang naik kendaraan juga capek, apalagi yang menunggu. Ini yang membuat saya terus terpacu untuk bisa menyelenggarakan dan membuat event ini terus ada dan semakin baik," kata Ipuk. (fre/aif)

Editor : Ali Sodiqin
#TDBI 2025 #belanda #tour de banyuwangi ijen #balap sepeda #australia