Musim 2024–2025 sempat berakhir manis bagi Crystal Palace setelah secara mengejutkan menaklukkan Manchester City di final Piala FA. Capaian itu membuat mereka berhak tampil di Liga Europa.
Sementara itu, Nottingham Forest finis di peringkat ketujuh Premier League berhak lolos ke Liga Konferensi. Namun, Palace kemudian didegradasi ke kompetisi kasta ketiga Eropa tersebut karena dianggap melanggar regulasi UEFA terkait kepemilikan ganda klub.
Mantan pemilik saham mayoritas Palace, John Textor, diketahui juga memiliki kepemilikan dominan di klub Ligue 1 Prancis, Lyon yang juga lolos ke Liga Europa.
Bulan lalu, Nottingham Forest sempat mengajukan kekhawatiran kepada UEFA mengenai kelayakan Palace tampil di Liga Europa. Namun, Pearce menilai bahwa kemarahan fans atau pihak Palace terhadap Forest tidak berdasar.
“Sejauh yang saya pahami sebagai orang luar, UEFA punya aturan yang jelas terkait kepemilikan ganda, dan Palace tampaknya melanggar aturan itu, terutama soal waktu,” ujar mantan bek kiri timnas Inggris itu.
“Saya tidak melihat kaitannya dengan Forest. Mungkin mereka hanya melaporkan, tetapi secara esensial ini sama sekali bukan urusan Forest.”
Sebagai perbandingan, pemilik Forest, Evangelos Marinakis, yang juga memiliki Olympiacos yakni klub raksasa Liga Yunani juga telah mengantisipasi potensi konflik kepentingan dengan menempatkan saham Forest ke dalam blind trust sebelum tenggat waktu 1 Maret 2025.
Baca Juga: Gempa Dahsyat Guncang Rusia Timur, Tsunami Ancam Jepang dan Alaska
Langkah tersebut membuat Forest tetap patuh pada aturan UEFA. Sebaliknya, Crystal Palace dinilai gagal melakukan penyesuaian serupa tepat waktu. Meski kini Textor telah menjual sahamnya kepada Woody Johnson.
Proses akuisisi tersebut baru rampung pekan lalu. UEFA sendiri meyakini bahwa Textor masih memiliki pengaruh signifikan di kedua klub saat batas waktu UEFA berlaku.
Sementara itu, keputusan UEFA untuk tidak mendiskualifikasi Lyon yang sempat terancam degradasi dari Ligue 1 karena mismanajemen keuangan juga memperburuk posisi Palace.
Ketua klub, Steve Parish, sebelumnya sempat menyalahkan Forest atas pencoretan mereka dari Liga Europa. Namun Pearce tetap berkeyakinan Forest tidak bisa memengaruhi keputusan UEFA.
“Saya tidak mengerti kenapa Palace harus marah. Jika sudah ada aturan dan tenggat waktu yang jelas, dan Anda melanggarnya, UEFA punya hak untuk menegakkan hukum itu,” katanya.
“Kalau tidak, klub bisa seenaknya sendiri dan mengabaikan aturan. Saya akan kecewa jika fans Forest dan Palace berseteru karena ini murni keputusan UEFA. Forest tidak bisa dan tidak boleh memengaruhi keputusan UEFA. Mereka bisa melaporkan, tapi tidak bisa menentukan hasil.”
Saat ini, Crystal Palace telah resmi mengajukan banding ke Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS) atas keputusan tersebut. Hasil akhir banding diperkirakan akan diumumkan sebelum atau tepat pada 11 Agustus mendatang. (*)
Editor : Niklaas Andries