Kartu merah yang diterima Jackson di Philadelphia menjadi batas kesabaran terakhir. Di musim pertamanya, ia bahkan menjadi bahan lelucon karena mengoleksi lebih banyak kartu kuning daripada gol.
Dalam enam laga pertama Premier League, Nicolas Jackson mengantongi lima kartu kebanyakan akibat protes berlebihan atau memperlambat jalannya pertandingandengan satu-satunya gol datang saat menang 3-0 atas Luton Town.
Namun sejak itu, Jackson berhasil mencetak 23 gol non-penalti di liga dengan total 24 gol dari 65 penampilan plus 10 assist. Jumlah tersebut layak diapresiasi apalagi mengingat pengalaman top-level-nya masih minim saat datang ke London Barat.
Baca Juga: Launching Kantor Baru, Ir Wahyudi Sebut untuk Wadah Konsultasi dan Kajian Multidisipliner
Dia harus beradaptasi dengan beberapa pergantian pelatih serta dinamika tim yang tak stabil. Namun, ada statistik lain yang cukup mengkhawatirkan yaknipeluang emas yang terbuang.
Jackson mencatatkan 24 big chances missed pada musim 2023–2024 dan 19 pada musim 2024–2025. Jika menilik angka Expected Goals (xG), performanya dinilai kurang maksimal. Pada musim 2023–2024, xG-nya sebesar 18,6, namun ia hanya mencetak 14 gol.
Sementara pada musim berikutnya, dari xG 12,3, ia hanya mengkonversi 10 gol. Hal ini memperkuat pandangan bahwa meski Jackson kerap berada di posisi yang tepat, ketajamannya masih belum bisa diandalkan dan mungkin inilah saatnya Chelsea mencari striker baru.
Dan Manchester United dan Newcastle United dilaporkan tertarik untuk merekrut Jackson. Padahal sang pemain baru saja menandatangani kontrak jangka panjang pada September 2024 yang mengikatnya hingga 2033.
Meski Chelsea terbuka untuk berbisnis dengan rival di Premier League. Keputusan melepas Jackson ke klub pesaing seperti Newcastle atau Manchester United yang kini dilatih Ruben Amorim bisa menjadi boomerang.
Memang, kegagalan Jackson dalam menyelesaikan peluang bersih kerap membuat frustrasi. Tapi di sisi lain, ia juga memperlihatkan kualitas yang menjanjikan terutama saat mencetak dua gol dalam Derby London melawan West Ham United, gol di Anfield saat melawan Liverpool, serta gol cantik dengan sisi luar kaki di kandang Leicester City.
Tambahan gol di Derby London kontra Brentford dan tembakan jarak jauhnya ke gawang Everton juga menunjukkan progres positif.
Sayangnya, penurunan performa di paruh kedua musim, ditambah cedera hamstring dan kartu merah kontra Newcastle, kembali memunculkan keraguan soal masa depannya di Stamford Bridge.
Namun, yang tak bisa diabaikan adalah mentalitasnya: Jackson mampu mengatasi tekanan sebagai striker utama klub besar dan terus menunjukkan perkembangan, meski berganti-ganti pelatih.
Jackson sangat berbahaya saat serangan balik dan cukup kuat dalam menahan bola, meskipun belum terlalu efektif dalam merepotkan bek lawan di kotak penalti atau saat bermain di ruang sempit.
Kelemahan ini kini bisa ditutupi oleh kehadiran Liam Delap dan Joao Pedro, yang memberi lebih banyak opsi taktik bagi pelatih Enzo Maresca.
Kehadiran tiga tipe striker berbeda membuat lini serang Chelsea semakin fleksibel dan dinamis, tergantung lawan yang dihadapi.
Dibenci warganet atau tidak, Jackson dan Chelsea telah melewati dua musim penuh pelajaran. Melepas sang pemain saat ini bisa menjadi keputusan yang disesalkan di masa depan.
Yang ia butuhkan hanyalah dukungan dan tandem yang tepat di lini depan bukan pintu keluar dari London Barat. (*)
Editor : Niklaas Andries