RADARBANYUWANGI.ID – Ajang balap sepeda bergengsi Tour de Banyuwangi Ijen (TdBI) 2025 memasuki babak krusial.
Rabu (30/7), para pembalap akan melahap etape 3 sejauh 140,3 kilometer yang dimulai dari RTH Glenmore dan finis di Kantor Bupati Banyuwangi.
Etape ini menjadi salah satu yang paling dinamis, memadukan kontur datar dan tanjakan yang cukup menantang dengan lanskap pedesaan dan kota yang ikonik.
Sesuai jadwal, start akan dilakukan pukul 10.10 WIB usai roll call dan sign on di area RTH Glenmore.
Meski terdapat zona netral sepanjang 4,4 km, tensi balapan diyakini bakal langsung meningkat sejak bendera resmi dikibarkan.
Sprint pertama tercatat di kawasan Dasri, sebelum para rider menghadapi tantangan pertama di tanjakan Karangdoro yang menjadi Fun Zone (FZ) 1.
Tak berselang lama, para pembalap kembali akan beradu kecepatan menuju Sprint 2 di Jajag.
Baca Juga: Diperkuat Pembalap Prancis Villemin Alan, BRCC Siap Tampil Menyengat di TdBI 2025
Medan jalanan yang relatif lurus menjadi arena adu kecepatan bagi tim-tim spesialis sprinter.
Memasuki wilayah Srono, rute kembali mendatar di area kampus Universitas Bhakti Indonesia yang ditetapkan sebagai FZ 2. Di sini, stamina dan strategi tim kembali diuji.
Rombongan kemudian menghadapi tantangan teknis di FZ 3 Labansasem yang menyajikan tikungan tajam dan perubahan elevasi, sebelum menuju KOM (King of Mountain) di peguungan Pakel, Kecamatan Licin.
Tanjakan menuju Pakel menjadi titik penentu bagi para climber yang mengincar klasemen pegunungan.
Baca Juga: Bupati Ipuk: Banyuwangi Sound Yes, Horeg No! Polisi Siap Sanksi Hukum
Plt Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Banyuwangi, M. Alfin Kurniawan, menyebut, etape ketiga ini sebagai salah satu highlight dari TdBI 2025 yang tahun ini memasuki satu dekade pelaksanaan.
"Etape ini dirancang dengan variasi rute yang lengkap—ada sprint, tanjakan, dan jalur cepat di perkotaan. Sangat ideal untuk menonjolkan skill lengkap para pembalap," katanya.
Alfin menambahkan, TdBI tahun ini semakin istimewa karena kembali menjadi satu-satunya ajang road race di Indonesia yang masuk kalender resmi Union Cycliste Internationale (UCI).
“Itulah yang membuat TdBI banyak dinanti dan diminati tim-tim balap sepeda dari berbagai negara. Bahkan tahun ini, ajang ini diikuti 128 pembalap dari 24 negara di lima benua,” imbuhnya.
Lebih lanjut, Banyuwangi tak hanya dipercaya menggelar TdBI, tetapi juga dua ajang balap sepeda internasional lainnya, yakni Banyuwangi Ijen Geopark Downhill (20-21 September 2025) dan Banyuwangi BMX (15-16 November 2025).
Baca Juga: TdBI 2025 Tetap Digelar! Satu-Satunya Road Race UCI di Indonesia
Sebelumnya, daerah berjuluk The Sunrise of Java ini juga sukses menjadi tuan rumah Kejurnas Road Race dan Kejurnas BMX.
Sementara itu, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menyebut TdBI bukan sekadar event olahraga, tapi juga instrumen pemulihan ekonomi dan pembangunan infrastruktur.
"Dengan menjadi satu-satunya road race UCI di Indonesia, TdBI adalah representasi komitmen kita pada sport tourism dan pembangunan daerah yang berkelanjutan," tegasnya.
Etape 3 telah menjadi etalase sempurna bagi Banyuwangi dalam menyajikan perpaduan antara tantangan balap dan keelokan alam.
Kini, semua mata tertuju pada Etape 4 yang akan membawa para pembalap dari RTH Maron Genteng menuju tanjakan legendaris di Paltuding, Ijen—finale penuh drama yang akan menentukan sang juara sejati. (*)
Editor : Ali Sodiqin