Tidak itu saja, UEFA juga menurunkan keikutsertaan Crystal Palace ke Liga Konferensi. Dimana awalnya skuad asuhan Oliver Glasner berhak tampil di Liga Europa usai menjuarai Piala FA pada Mei lalu.
Piala FA merupakan gelar domestik utama pertama sepanjang sejarah klub. Namun, UEFA kemudian menghukum The Eagles karena pelanggaran aturan kepemilikan multi-klub.
Pengusaha asal Amerika, John Textor, diketahui memiliki saham di Crystal Palace sebesar 43 persen. Dimana dia juga merupakan pemilik mayoritas Olympique Lyonnais yakni 90 persen melalui perusahaannya, Eagle Football Holdings.
Kedua klub itu sama-sama lolos ke Liga Europa. Yang ini artinya ada dugaan pelanggaran regulasi UEFA soal kepemilikan ganda.
Meski saham Textor di Palace kini sedang dalam proses dijual ke pengusaha Amerika lainnya, Woody Johnson, senilai sekitar £190 juta. UEFA tetap memutuskan untuk menjatuhkan sanksi.
Keputusan UEFA memberikan keuntungan langsung bagi Lyon. Dimana klub tersebut posisinya di Liga Europa tetap aman. Di sisi lain, Nottingham Forest yang finis di peringkat ketujuh Premier League musim lalu berpotensi naik kasta dari Liga Konferensi ke Liga Europa untuk menggantikan Palace.
Meskipun hal ini belum dikonfirmasi secara resmi oleh UEFA. Namun, apabila banding Palace diterima, maka mereka akan kembali ke Liga Europa dan situasi Lyon serta Forest bisa berubah drastis.
Lyon terancam didepak dari kompetisi Eropa, sementara Forest harus puas kembali ke Liga Konferensi.
Dalam pernyataannya pada Selasa (22/7), CAS mengonfirmasi telah menerima permohonan banding dari Crystal Palace terhadap keputusan UEFA, Nottingham Forest, dan Lyon.
“Banding ini bertujuan untuk membatalkan keputusan UEFA pada 11 Juli 2025 yang menyatakan Crystal Palace dan Lyon melanggar regulasi kepemilikan multi-klub dan menjatuhkan Palace ke Liga Konferensi,” demikian isi pernyataan CAS.
“Crystal Palace meminta pengembalian hak tampil di Liga Europa 2025–2026 dan menolak keikutsertaan Nottingham Forest. Jika tidak memungkinkan, mereka meminta penggantian tempat dengan menolak keikutsertaan Lyon."
CAS juga menyatakan bahwa proses banding akan dilakukan secara cepat (expedited procedure), dengan keputusan awal tanpa rincian alasan (operative decision) akan diumumkan paling lambat pada 11 Agustus 2025.
Sementara itu Ketua Crystal Palace, Steve Parish, melontarkan kritik keras terhadap keputusan UEFA.
“Kami hancur, terutama untuk para pendukung kami. Kami memenangkan piala untuk pertama kalinya dalam sejarah klub—seperti menang lotre tapi tak bisa mencairkan hadiahnya,” ujar Parish.
Ia juga menilai regulasi UEFA sebagai aturan “gila” dan tidak relevan dengan kondisi Palace.
“Semua orang tahu John atau siapa pun dari Eagle Football tidak memiliki pengaruh menentukan di Palace. Tidak ada pemain, staf, atau transaksi dengan Lyon. Kami hanya terjebak dalam aturan yang tidak dibuat untuk kami.”
Baca Juga: Naik DAMRI ke Kawah Ijen Cuma Rp 8.800! Begini Cara Pesan Tiketnya Lewat Aplikasi
Parish yakin bahwa aturan ini akan diubah karena dianggap tidak adil dan tidak masuk akal.
Jika banding Palace dikabulkan, maka Lyon berisiko didepak dari kompetisi Eropa, sementara Forest tetap bermain di Liga Konferensi. Namun, jika banding ditolak, Lyon dan Forest akan melanjutkan perjalanan mereka di Liga Europa bersama Arsenal dan wakil-wakil lainnya.
Nottingham Forest sudah dipastikan akan tampil di Eropa musim depan, tetapi level kompetisinya masih bergantung pada keputusan akhir CAS.
Begitu pula Lyon, yang sempat dilarang tampil karena masalah keuangan, namun sanksi itu telah dibatalkan. Kini, mereka menghadapi potensi pencoretan kedua—kali ini karena konflik kepemilikan.
Keputusan CAS pada 11 Agustus mendatang akan menjadi penentu akhir nasib ketiga klub dalam pentas Eropa musim 2025–2026. (*)
Editor : Niklaas Andries