RadarBanyuwangi.id – Jembatan berusia 45 tahun di Dusun Sungai Lembu, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, ambrol pada Selasa (15/7) malam. Akibatnya, akses utama penghubung Desa Sumberagung dengan Desa Sarongan dan Desa Kandangan, Kecamatan Pesanggaran putus.
Untungnya saat jembatan yang dibangun pada 1980 itu ambrol, tidak ada warga yang melintas. Tapi, suara gemuruh saat jembatan itu roboh membuat warga panik. “Sekitar pukul 22.00 ambrolnya (jembatan). warga langsung menyebar info dan menutup jalan agar tidak ada yang melintas,” ujar Kepala Dusun (Kadus) Sungai Lembu, Desa Sumberagung, Sasmito, Rabu (16/7).
Dari informasi warga yang tinggal tidak jauh dengan jembatan, terang dia, sebelumnya jembatan itu ambruk ada dua orang yang hendak melintas dan nyaris jadi korban. Tapi saat sampai di jembatan, tiba-tiba terdengar suara gemuruh yang membuat kedua warga itu berhenti. “Saat dicek ternyata jembatan sudah ambles. Itu yang bagian sebelah barat,” katanya.
Camat Pesanggaran, Andik Basuki mengatakan langsung mendatangi lokasi untuk mengecek kondisi jembatan yang ambruk. Saat tiba di lokasi, jembatan dengan panjang 15 meter dan lebar 4.5 meter itu 100 persen tidak bisa dilalui. “Ini akses utama warga dari Desa Kandangan, Desa Sarongan, dan dari sini (Dusun Sungailembu, Desa Sumberagung), lewatnya sini kalau mau ke pusat keramaian,” katanya.
Mantan Sekcam Sempu itu menyampaikan, saat ini yang urgen memastikan roda ekonomi dan aktivitas warga tidak terganggu. Masalahnya, upaya restorasi berupa penyambungan kembali, sepertinya tidak memungkinkan. Adapun opsi pemulihan, paling aman membangun kembali struktur jembatan yang itu membutuhkan waktu cukup lama. “Karena ini akses utama anak sekolah dan warga yang bekerja di kebun, kami mengebut untuk membuat jalur alternatif,” cetusnya.
Selain itu, terang dia, Jembatan Sungailembu yang ambruk itu, satu-satunya akses bagi truk logistik yang akan mengirim bahan pokok menuju daerah terpencil di Desa Kandangan dan Sarongan. Jika tidak segera ada tindakan, dikhawatirkan akan menimbulkan kelangkaan bahan pokok. “Ada satu jalur alternatif untuk kendaraan roda empat dan truk. Satu lagi sedang diusahakan, dicari sungai yang dangkal,” katanya.
Jajaran Dinas Pekerjaan Umum Cipta Karya Perumahan dan Pemukiman (DPUCKPP) Banyuwangi juga sudah datang ke lokasi jembatan yang ambrol tersebut. Dari observasi mereka, faktor utama jembatan itu roboh usia kontruksi yang sudah tua. “Jembatan ini dibangun tahun 1980, memang sudah tua, strukturnya tak kuat menahan beban setiap hari dilewati kendaraan,” jelas Kepala Direksi Teknik Lapangan, DPUCKPP Banyuwangi, Rustam Effendi.
Selain itu, kata dia, pondasi jembatan juga sering dihantam material kayu dan bebatuan saat banjir. “Kalau yang ini tidak sedang banjir, menurut warga gerimis pun tidak. Tapi sebelumnya sering ditendang material kayu yang terbawa banjir,” pungkasnya.(sas/abi)
Editor : Agus Baihaqi