RADARBANYUWANGI.ID - Christian Horner akhirnya angkat suara setelah secara resmi digantikan dari jabatannya sebagai CEO dan Team Principal Red Bull Racing.
Dengan nada penuh emosi, Horner mengungkapkan bahwa ia meninggalkan tim dengan “hati yang berat” namun juga “kebanggaan yang luar biasa” atas perjalanan serta pencapaian Red Bull di ajang Formula 1 (F1).
Dikenal sebagai mantan pembalap dan manajer tim Formula 3000, Horner dipercaya untuk memimpin Red Bull saat mereka pertama kali masuk ke F1 pada tahun 2005. Kala itu, ia menjadi kepala tim termuda dalam sejarah F1, hanya berusia 31 tahun.
Kepemimpinannya membawa perubahan besar yang mengubah Red Bull dari tim papan tengah menjadi kekuatan dominan di lintasan balap.
Selama masa jabatannya, Red Bull mencatatkan 107 pole position, 124 kemenangan balapan, 287 podium, enam gelar Konstruktor, dan delapan gelar Juara Dunia Pembalap. Capaian ini menjadikan Red Bull sebagai salah satu tim paling sukses dalam sejarah F1 modern.
Pengumuman restrukturisasi manajemen pada Rabu lalu membawa nama Laurent Mekies sebagai pengganti Horner, sementara Alan Permane mengambil alih posisi Mekies sebelumnya di Racing Bulls.
Menanggapi kabar tersebut, Horner mengunggah pesan emosional melalui media sosial, mengungkapkan rasa terima kasih dan apresiasi yang mendalam terhadap seluruh anggota tim, mitra, dan penggemar.
“Setelah perjalanan luar biasa selama 20 tahun, dengan berat hati saya ucapkan selamat tinggal kepada tim yang saya cintai,” tulis Horner.
Ia juga menyampaikan penghargaan khusus kepada para pesaing Red Bull di lintasan yang, menurutnya, telah mendorong timnya untuk terus berkembang dan mencapai level yang tak pernah dibayangkan sebelumnya.
“Tanpa rival, tak akan ada balapan. Kalian telah menantang kami dan menjadikan setiap kemenangan lebih berarti.”
Horner menutup pernyataannya dengan harapan besar untuk masa depan F1, khususnya menjelang perubahan regulasi besar yang akan datang pada musim 2026.
Ia menyebut bahwa semangat, ambisi, dan rasa hormat antar tim telah menjadikan F1 sebagai puncak dari olahraga otomotif dunia. Kepergian Horner menandai akhir dari sebuah era gemilang di Red Bull Racing. (*)
Editor : Lugas Rumpakaadi