RADARBANYUWANGI.ID - Pertandingan antara Jepang dan Indonesia pada laga terakhir ronde ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026 tampak tidak lagi menentukan nasib kedua tim. Laga ini akan digelar 10 Juli di Osaka nanti.
Faktanya, Jepang sudah mengunci posisi juara grup, sementara Indonesia memastikan satu tempat di ronde keempat. Namun, di balik situasi ini tersimpan skenario menarik.
Terbaru, Jepang akan menurunkan tim pelapis dan Indonesia justru datang dengan kepercayaan diri tinggi.
Pelatih Jepang Hajime Moriyasu telah mengumumkan skuad yang sebagian besar diisi oleh pemain muda dan debutan.
Nama-nama besar seperti Takefusa Kubo (Real Sociedad), Daichi Kamada (Lazio), hingga Ao Tanaka tidak dipanggil.
Sebagai gantinya, Moriyasu memberi kesempatan bagi pemain lokal dari J-League dan beberapa yang belum punya pengalaman internasional penuh.
Langkah ini bukan tanpa alasan. Jepang sudah tidak memiliki kepentingan klasemen dan tengah bersiap menghadapi jadwal padat di level klub dan persiapan jangka panjang Piala Asia.
Situasi ini membuat pertandingan kontra Indonesia akan menjadi eksperimen besar, sebuah keuntungan tak langsung bagi skuad Merah Putih.
Di sisi lain, Indonesia justru berada di kondisi psikologis terbaik. Kemenangan atas Tiongkok mengamankan tiket ke ronde berikutnya, dan tekanan sudah berkurang drastis.
Dengan status “nothing to lose”, skuad asuhan Patrick Kluivert bisa bermain lepas dan berani.
Meskipun Indonesia juga akan melakukan rotasi, seperti mengistirahatkan Egy Maulana Vikri dan Ivar Jenner (absen karena akumulasi), komposisi pemain pengganti tetap menjanjikan.
Nama-nama seperti Marselino Ferdinan, Rafael Struick, dan Rachmat Irianto bisa memberi perlawanan sengit, apalagi jika Jepang benar-benar menurunkan skuad muda yang belum teruji secara kolektif.
Kluivert Punya Rencana
Kluivert dikenal sebagai pelatih yang menyukai skenario seperti ini. Ia akan mencoba menggabungkan rotasi pemain dengan taktik eksplosif saat momen datang.
Dalam laga sebelumnya melawan Tiongkok, ia menurunkan formasi tiga bek yang sukses membungkam lawan. Taktik serupa bisa diterapkan untuk meredam Jepang lalu menyerang lewat serangan balik cepat.
Apalagi secara peringkat, Indonesia punya potensi besar untuk meraih tambahan poin FIFA jika mampu menahan imbang atau bahkan mengalahkan Jepang.
Situasi inilah yang bisa mendorong Kluivert tetap menurunkan tim kompetitif meskipun tidak full starter. Demi hasil nyata, bukan hanya formalitas laga penutup.
Jepang memang tetap unggul di atas kertas. Mereka punya kedalaman skuad dan tradisi dominasi di Asia.
Tapi tim pelapis, sekuat apa pun, tetap rawan goyah jika menghadapi lawan yang sedang dalam tren positif dan bermain tanpa tekanan. Itu yang dimiliki Indonesia saat ini.
Peluang Indonesia untuk mencuri poin di Osaka lebih terbuka dari biasanya. Kuncinya ada pada kedisiplinan taktik, fokus selama 90 menit, dan memanfaatkan peluang sekecil apa pun. Jika Garuda berhasil tampil solid, bukan mustahil kita akan melihat hasil yang melampaui ekspektasi.
Editor : Agung Sedana