Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Adu Gengsi. Desa Glagahagung Pecah Rekor Jumlah Penyembelihan Hewan Kurban. Segini Jumlahnya

Zamrozi Wahyu • Sabtu, 7 Juni 2025 | 02:03 WIB
HEWAN KURBAN:  Deretan ekor sapi sebelum disembelih di halaman Masjid An Nur,  Dusun Jatiluhur, Desa Glagahagung, Kecamatan Purwoharjo Jumat (6/6).
HEWAN KURBAN: Deretan ekor sapi sebelum disembelih di halaman Masjid An Nur, Dusun Jatiluhur, Desa Glagahagung, Kecamatan Purwoharjo Jumat (6/6).

PURWOHARJO, Jawa Pos Radar Genteng - Desa Glagahagung, Kecamatan Purwoharjo memecahkan rekor jumlah hewan kurban dalam Idul Adha tahun ini. Seolah adu gengsi, warga desa setempat ”jor-joran” menuju kebaikan  berkurban sapi dan kambing. Tak tanggung-tanggung, jumlah sapi yang disembelih sebanyak 142 ekor, sedangkan kambingnya 96.

Setelah dijagal, terkumpul 23 ton total daging untuk selanjutnya dibagikan kepada warga. Rinciannya,  21 ton daging sapi dan 2 ton daging kambing. Hewan kurban tersebut berasal dari warga pribadi, iuran, dan tabungan warga. “Semua daging kita bagikan kepada warga Glagahagung, bila lebih dibagikan ke warga di desa tetangga,” ujar Kepala Desa Glagahagung, Mimin Budiati.

Menurut Mimin, Desa Glagahagung wilayahnya terbagi tiga dusun, yakni Dusun Jatiluhur, Desa Jatirejo, dan Dusun Jatimulyo dengan jumlah kepala keluarga (KK) 2.800. Dalam pembagian daging kurban, setiap KK mendapat bagian antara dua kilogram hingga empat kilogram. ”Hewan kurban berupa  142 ekor sapi dan 96 ekor kambing berasal dari warga Desa Glagahagung,” ungkapnya.

Untuk penyembelihan dan pembagian dagung kurban melibatkan hampir seluruh warga yang terpusatkan di setiap masjid di Desa Glagahagung. Di Desa Glagahagung ada 15 masjid. “Hewan kurban itu dibagi ke 15 masjid di Desa Glagahagung,” terangnya.

Lima belas masjid tersebut tersebar di Dusun Jatimulyo (6 masjid), Dusun Jatirejo (dua masjid), dan Dusun Jatiluhur ( tujuh masjid). “Penyembelihan hewan kurban paling banyak di Masjid An Nur di Dusun Jatiluhur dengan jumlah 38 ekor sapi, Masjid Al Amin di Dusun Jatirejo 18 ekor sapi dan dua ekor kambing,” ungkapnya.

Warga Desa Glagahagung, terang dia, tidak semua beragama Islam. Dalam pembagian hewan kurban, semua warga termasuk non-muslim juga mendapatkan bagian. Ini dilakukan bentuk kerukunan antarumat beragama. “Alhamdulillah, semua masyarakat bisa kebagian daging,” katanya.

Budaya menyembelih hewan kurban dengan jumlah banyak ini, lanjut dia, merupakan kegiatan masyarakat yang digelar setiap tahun. Budaya tersebut, sudah ada sejak sepuluh tahun lalu. “Ini seperti persaingan antarmasyarakat dalam hal yang baik, mereka beradu jumlah hewan kurban, jika tidak ikut maka akan malu,” kata Mimin.

Jumlah hewan kurban di desanya, jelas dia, yang terbanyak tingkat desa di Kecamatan Purwoharjo, bahkan hingga tingkat kabupaten. Dan ini wujud syukur dari warga bisa berkurban dengan jumlah banyak, sehingga bisa dibagi merata keseluruh warganya. “Keinginan masyarakat untuk berkurban sangat tinggi, mungkin menjadi yang terbanyak di Banyuwangi, masyakarat mengumpulkan serta menitipkan uang ke panitia dengan harapan bisa berkurban sapi maupun kambing,” ungkap Mimin.

Salah satu penyumbang hewan kurban terbanyak di Masjid An Nur, Dusun Jatiluhur dengan kurban 38 ekor sapi. Jemaah di masjid tersebut rutin menabung untuk membeli hewan qurban. “Dalam setahun, masyarakat menabung Rp 2,4 juta, kemudian dikumpulkan dengan masyarakat lain dan dibelikan sapi," kata ketua panitia hewan kurban masjid An Nur, Muryanto.

Untuk penyembelihan hewan kurban yang banyak ini, terang dia, dilakukan secara bersama-sama seluruh jemaah Masjid An Nur. Total ada 200 orang yang ikut menangani hewan kurban. “Kami ajak seluruh jemaah untuk ikut serta, sehingga pelaksanaan kurban berjalan tidak terlalu berat,” terangnya.

Sudah menjadi tradisi, kata dia, masyarakat menabung setiap tahunnya. Tabungan itu bertujuan mempermudah warga yang ingin berkurban. “Masyarakat yang tidak ikut biasanya akan merasa malu, karena mayoritas ikut berkurban,” terangnya. (cw3/abi)

Editor : Sigit Hariyadi
#idul adha #kurban #pecah rekor