RADARBANYUWANGI.ID - Kabarnya Timnas China datang ke Jakarta menghadapi Timnas Indonesia dalam kondisi yang jauh dari ideal. Di atas kertas, mereka unggul dalam rekor pertemuan. Namun, jika menilik performa terkini, Dragon Team tengah berada di titik nadir. Kualifikasi Piala Dunia 2026 menjadi panggung yang justru memperlihatkan betapa lemahnya mental dan produktivitas tim yang dulu disegani ini.
Tiga Kekalahan Beruntun, Mental Terjun Bebas?
China menempati posisi juru kunci Grup C, dengan 6 poin dari 8 pertandingan (2 menang, 6 kalah, 0 imbang). Kekalahan 0-2 di laga terakhir melawan Australia menjadi tamparan keras, menyusul dua kekalahan sebelumnya dari Arab Saudi dan Jepang.
Ini menandai tiga kekalahan beruntun, sebuah rekor yang makin menggerus kepercayaan diri tim dan publik sepak bola mereka.
Sejak ditangani Branko Ivanković, China memang tidak menunjukkan kestabilan performa. Dari total 12 laga sejak 2024, mereka hanya mencatat 3 kemenangan, 2 imbang, dan menelan 7 kekalahan. Problem mendasar mereka bukan hanya pada pertahanan yang mudah kebobolan, tetapi juga serangan yang kehilangan ketajaman.
Lini Serang Tumpul, Gagal Manfaatkan Peluang
Statistik mencolok dari China adalah jumlah gol yang minim. Hanya 6 gol dari 8 pertandingan di babak ketiga ini. Bahkan, dalam beberapa laga terakhir, China nyaris tidak memberi ancaman berarti ke gawang lawan. Wu Lei masih jadi andalan utama, tapi jelas tidak cukup. Zhang Yuning, sang target-man, kerap terisolasi karena buruknya suplai bola dari lini tengah.
China juga sangat bergantung pada momen individu, bukan permainan kolektif. Saat lawan bermain rapat dan disiplin seperti Indonesia, China kesulitan menciptakan ruang dan kerap mengulang pola serangan yang sama.
Generasi Muda Minim Pengalaman, Naturalisasi Belum Klik
Salah satu penyebab goyahnya performa China adalah transisi skuad. Ivanković banyak memanggil pemain muda dengan jam terbang internasional minim. Ini memang langkah jangka panjang, tapi dalam laga penentu seperti melawan Indonesia, kurangnya pengalaman bisa jadi bumerang.
Di sisi lain, proyek naturalisasi China juga belum membuahkan hasil maksimal. Nama-nama seperti Serginho (Brasil) dan Jiang Guangtai (eks Inggris) belum mampu memberi dampak besar. Chemistry mereka dengan pemain lokal masih lemah, dan adaptasi ke ritme permainan Asia Timur tampak belum sempurna.
China juga dikenal punya rekor tandang yang buruk di kualifikasi ini. Dari empat laga tandang, mereka selalu kalah. Bahkan di beberapa laga, mereka tampil tanpa arah, seolah kehilangan ide dan semangat begitu lawan mencetak gol lebih dulu.
Bertanding di Stadion Utama Gelora Bung Karno yang akan dipenuhi 70 ribu suporter Garuda, tekanan akan berlipat ganda. Untuk tim yang mentalnya sedang rapuh, SUGBK bisa berubah menjadi tempat mimpi buruk.
Editor : Agung Sedana