RadarBanyuwangi.id - Team Principal McLaren, Andrea Stella, menyatakan bahwa sejumlah faktor di luar kendali tim menjadi penyebab utama kegagalan mereka dalam mencoba strategi alternatif untuk mengalahkan Max Verstappen di Grand Prix Jepang 2025, meski memiliki dua pembalap potensial, Lando Norris dan Oscar Piastri.
Verstappen mengamankan pole position pada hari Sabtu dan hal ini praktis menjadi modal kuat untuk meraih kemenangan di Suzuka, mengingat karakteristik lintasan yang menyulitkan proses overtaking serta minimnya degradasi ban selama balapan berlangsung.
McLaren Main Aman, Tak Ambil Risiko Strategi
Satu-satunya peluang untuk mengubah posisi di barisan depan adalah dengan strategi yang berani. Namun, McLaren justru memilih strategi konservatif, Piastri masuk pit di Lap 21, sementara Norris mengikuti Verstappen satu lap kemudian.
Hal ini menutup kemungkinan bagi Norris untuk mencoba overcut melalui clean air (ruang kosong tanpa lalu lintas) di lintasan.
Saat ditanya mengapa McLaren tidak langsung mengubah strategi ketika Verstappen masuk pit, Stella menjelaskan, “Masalahnya, jika Lando tetap di lintasan, dia berpotensi kehilangan posisi terhadap pembalap lain, termasuk Oscar yang sudah lebih dulu masuk pit dan memiliki kecepatan lebih tinggi karena ban baru. Sulit bersaing dengan mobil yang menggunakan ban baru hard, sementara kita masih di atas medium bekas.”
Karakter Ban Jadi Penentu
Stella juga menekankan bahwa ban hard bekerja sangat efektif di Suzuka, berbeda dengan beberapa trek lain seperti Barcelona, di mana overcut masih memungkinkan karena adanya perbedaan performa ban yang lebih signifikan setelah beberapa lap.
“Di Suzuka, ban hampir tidak mengalami degradasi dari satu lap ke lap berikutnya. Bahkan hingga lap terakhir, pembalap masih mencetak purple sectors (waktu tercepat). Ini adalah balapan dengan degradasi rendah,” ujarnya.
Mengapa Tidak Coba Undercut?
Alternatif lain yang sempat dipertimbangkan adalah strategi undercut, yakni dengan memasukkan Norris ke pit lebih awal. Bahkan tim sempat memberi isyarat lewat radio pada Lap 19. Namun strategi tersebut juga mengandung risiko besar.
“Kami akan tinjau kembali selisih waktunya. Mungkin saja ada peluang untuk melakukan undercut terhadap Max,” tambah Stella.
“Tapi kami juga tak boleh lupakan risiko kehilangan posisi trek. Jika terjadi Safety Car, maka pembalap yang baru masuk pit bisa sangat dirugikan. Dalam situasi seperti ini, kehilangan posisi bisa berarti kehilangan peluang secara permanen.”
Baca Juga: Korban Ternyata Dilindas Roda Bus Harapan Baru jurusan Banyuwangi-Trenggalek
Perdebatan Soal Perintah Tim
Salah satu pertanyaan strategis lainnya adalah mengapa McLaren tidak memberikan perintah tim kepada Norris untuk memberikan posisi kepada Piastri, yang dinilai memiliki kecepatan lebih baik di stint kedua. Namun Stella membantah klaim tersebut.
“Saya tidak yakin Oscar lebih cepat secara keseluruhan. Lando mencoba mendekati Verstappen dan masuk ke slipstream, tapi setiap kali dia terlalu dekat, cengkeraman bannya menurun drastis. Jadi dia memainkan ritme elastis, menjauh sedikit untuk mendinginkan ban, lalu kembali menekan. Situasinya tidak bisa dinilai secara sederhana dari data lap time saja.”
Stella juga menegaskan bahwa di Suzuka, untuk bisa menyalip pembalap lain secara bersih, diperlukan selisih performa sekitar tujuh hingga delapan persepuluh detik per lap, yang tidak dimiliki oleh McLaren pada hari itu. (*)
Editor : Lugas Rumpakaadi