Begitu bendera dikibarkan, sorak sorai masyarakat dan santri Mabadi’ul Ihsan, Desa Karangdoro, mengiringi kayuhan pedal pembalap dari 20 tim.
Yang menarik, sebelum balapan dimulai, sebanyak 99 pembalap mengenakan sarung dan kopiah. Mereka mengenakan busana khas pesantren ketika mengenalkan diri sebelum race dimulai.
Begitu lepas dari jalur start, para pembalap tak ingin berlama-lama menahan diri. Mereka langsung mendorong peloton besar untuk mempercepat genjotan pedal.
Sejak di titik jalur Karetan, pembalap dari St. George Continental Cycling Team langsung memisahkan diri dari rombongan. Di belakangnya berjajar beberapa pembalap dari tim Kinan, Nusantara, CCACHE x Par Küp, Terengganu, Roojai, dan Aisan.
Di titik sprint awal di daerah Kalipait, ujung balapan sudah didominasi sembilan pembalap dari tim-tim yang berbeda.
Pembalap Australia Ryan Canavagh dari Kinan Cycling Team Jepang merebut sprint kedua, tepatnya di kilometer 66,8 yang berada di depan kantor Kecamatan Srono.
Disusul Boris Clark dari St. George Continental Cycling Team Australia yang berada di posisi kedua. Kemudian ada Tali Lane Welsh dari CCACHE x Par Küp Australia dan Metkel Eyob dari Terengganu Cycling Team Malaysia di posisi keempat.
Selepas dari titik sprint kedua, beberapa pembalap melakukan break away hingga melebarkan jarak mencapai 1 menit 30 detik dari peloton di belakangnya.
Mereka terus melesat sampai di sprint ketiga yang berada di kilometer 97,2, tepatnya di kawasan Karangsari, Sempu. Hingga kilometer ke-97 sembilan pembalap terdepan yang memimpin lomba terus melebarkan jarak dengan peleton.
Pembalap Australia Ryan Cavanagh dari Kinan Cycling Team Jepang yang memimpin sejak di titik sprint Srono terus mempertahankan performanya sehingga berhasil finis tercepat di etape pertama ITdBI 2024.
Ryan menjadi yang tercepat dengan catatan waktu 2 jam 45 menit 28 detik. Ryan menang adu sprint dengan Boris Clark dari St. George Continental Cycling Team Australia dan Muh. Imam Arifin dari Nusantara Cycling Team Indonesia yang berada di posisi kedua dan ketiga.
Ryan menguasai jalannya lomba sejauh 132,2 kilometer. Sejak kilometer ke-50, dia sudah melakukan break away bersama 8 pembalap lainnya. Selain memenangkan perlombaan, Ryan juga merebut sprint kedua dan ketiga sehingga berhasil mengumpulkan poin terbanyak.
”Etape pertama sudah sesuai dengan strategi dari tim. Waktu break away, saya berada di rombongan itu. Begitu adu sprint menjelang finis, saya berhasil memenangkan balapan,” ungkap Ryan.
Pembalap yang sudah tiga kali turun di Tour de Ijen itu terlihat bersemangat saat menjadi bagian dari comeback event yang sudah sempat terhenti selama empat tahun.
”Boris Clark dari St. George tadi cukup kuat mengikuti saya. Saya tidak mengira mereka (para pembalap lain) akan beradu begitu keras,” tegasnya.
Di kelas Best Indonesian Rider, pembalap asal Nusantara, M. Imam Arifin menjadi yang terbaik setelah berhasil mencatatkan waktu 2 jam, 45 menit 24 detik.
Disusul Angga Dwi Wahyu dari tim DR. J di peringkat kedua dengan selisih waktu 1 menit 15 detik dan Aiman Cahyadi dari Trengganu Cycling Team dengan selisih waktu 1 menit 16 detik.
Sedangkan untuk tim terbaik, tim asal Indonesia yaitu Nusantara Pro Cycling, menempati posisi teratas. Disusul CCACHE X Par Küp dari Australia di urutan kedua. Selanjutnya, di peringkat ketiga menjadi milik Kinan Racing Team dari Jepang.
Wakil Ketua PB Ikatan Sport Sepeda Indonesia (ISSI) Silmy Karim memuji jalannya balapan di etape pertama. Dia melihat bagaimana keseriusan Pemkab Banyuwangi dalam mempersiapkan kembali event yang sempat terhenti selama pandemi Covid-19.
”Saya bangga bahwa pemerintah daerah Banyuwangi konsisten dalam menyelenggarakan International Tour de Banyuwangi Ijen 2024. Yang membuat saya bangga lagi, bagaimana kita semua, termasuk para peserta, pakai sarung dan peci,” kata Silmy.
Pria yang menjabat sebagai Direktur Jenderal Imigrasi Kementerian Hukum dan HAM itu berharap, ITdBI bisa digelar rutin setiap tahunnya.
Apalagi, event ini tak hanya sebuah kompetisi olahraga, tapi juga pemaduan budaya lokal dalam sebuah event internasional.”Semoga kegiatan ini menjadi perhatian di dunia internasional dan menjadi yang terbaik,” harap Silmy.
Ketua Pelaksana ITdBI 2024 Guntur Priambodo mengatakan, etape pertama dengan jarak 132,2 kilometer didominasi rute yang relatif datar (flat). Rute ini dianggap sebagai surga bagi pembalap sprinter.
Pada etape pertama ini pembalap melintasi areal persawahan di sekitar Kecamatan Tegalsari, perkebunan buah naga di Bagorejo, dan melintasi hutan jati di kawasan Purwoharjo.
”Kalau rute datar pemenangnya adalah pembalap sprinter, menjelang finis ada adu sprint untuk menentukan pemenang etape ini,” ungkap Guntur.
Suhu udara Banyuwangi cukup tinggi selama balapan etape pertama. Kondisi ini ikut menguras stamina para pembalap, terutama yang biasa bertanding dalam kondisi cuaca dingin.
Terkait dengan performa BRCC, Guntur mengatakan timnya tetap berupaya menjaga barisan dalam peloton di etape pertama. Kombinasi BRCC yang banyak diisi climber membuat tim harus memanfaatkan etape dengan banyak tanjakan untuk mencuri poin.
”Setelah Wariski cedera, strategi kami berubah. Karena di etape satu dan dua banyak rute flat kami harus pertahankan posisi dalam barisan. Mungkin nanti di etape kedua kami coba ambil posisi di KOM Songgon,” tegas Guntur.
Sementara itu, animo masyarakat tampak luar biasa selama berlangsung balapan. Tak hanya di titik start, di sepanjang jalan mulai dari pelajar sampai masyarakat umum ikut meramaikan jalannya balap sepeda. ”Siswa juga sangat antusias. Sudah lama tidak ada balapan Tour de Ijen,” ujar salah seorang guru SD, Sinta. (fre/aif/c1)
Editor : Niklaas Andries