RadarSitubondo.id - Nama Sebastien Haller mulai banyak diperbincangkan publik pencinta bola dunia.
Itu, setelah pemain Borussia Dortmund itu mencetak gol kemenangan ketika tuan rumah Pantai Gading merebut gelar Piala Afrika 2024 lalu.
Apalagi, gol ke gawang Nigeria saat gelaran Piala Afrika tersebut ia cetak sekitar sembilan menit menjelang pertandingan usai.
Dengan gol Sebastian Haller itu, kemenangan 2-1 atas Nigeria dalam partai final di Stadion Alassane Ouattara di Abidjan, Senin (12/2) dini hari berhasil dikunci.
Lalu, sejatinya, seperti apa profil Sebastian Haller tersebut?
Haller lahir Ris-Orangis, Essonne, Prancis pada 22 Juni 1994 yang lalu.
Ia lahir dari seorang ayah asal Prancis, dan ibu asal Pantai Gading.
Dengan darah dari Prancis itu, tak heran jika ia mengawali karier profesionalnya bersama tim asal Prancis pula, yakni Auxerre II.
Pada usia muda, Sebastian Haller membela Auxerre II sejak tahun 2010.
Auxerre II sendiri, pada dua tahun Sebastian Haller di sana, berhasil promsi ke tim utama pada 2012.
Sebastian Haller rupanya tak lama di Auxerre. Ia memutuskan mencari pengalaman di liga lain, yakni di FC Utrecht pada 2015.
Itu sebelum ia berkarir untuk Eintracht Frankfurt, West Ham, Ajax, dan Borussia Dortmund.
Sementara itu, di level internasional, Sebastian Haller rupanya sempat memperkuat tim kelompok umur Perancis dari U16 sampai U21.
Meski begitu, pada akhirnya Haller memutuskan untuk memperkuat Pantai Gading di level senior pada 2020 setelah bermain di level kelompok Umur untuk Prancis.
Meski sedang dalam perfoma bagus, karir Sebastian Haller rupanya bukan tanpa halang rintang.
Haller pernah didiagnosis menderita kanker testis tak lama setelah bergabung dengan Dortmund dari Ajax.
Striker berusia 29 tahun itu juga harus menjalani dua operasi dan kemoterapi pada bulan-bulan berikutnya.
Ia baru bisa kembali beraksi di lapangan hijau tak lebih dari dua tahun lalu.
Dikutip dari situs resmi Federasi Sepakbola Afrika, Haller pernah mengatakan, jika mengatasi penyakit kanker dan sorotan terus-menerus sempat membebaninya.
“Tentu saja 18 bulan terakhir ini merupakan masa yang penuh tantangan bagi saya dan keluarga. Saya sekarang mengambil segalanya selangkah demi selangkah dan mencoba menikmati setiap momen. Saya tidak ingin menyesal.” katanya.
“Mengingat apa yang telah terjadi selama beberapa bulan terakhir, sungguh luar biasa. Tetapi saya pikir mungkin perlu waktu berbulan-bulan atau bertahun-tahun untuk memahami semuanya, apa yang telah terjadi selama beberapa tahun terakhir.” tambahnya.
Untuk Pantai Gading, gelar Piala Afrika 2024 lalu menjadi yang ketiga kali setelah gelar yang diraih pada 1992 dan 2015.
Raihan juara Pantai Gading tersebut lahir dari keterpurukan ketika tim Pantai Gading terpuruk di penyisihan grup setelah dua kekalahan.
Termasuk kekalahan memalukan 0-4 dari Guinea Ekuatorial, sebelum menemukan performa terbaik mereka di babak sistem gugur dengan sikap pantang menyerah.
Dengan performa apik di Bundesliga, ia dipercaya mengisi slot striker di Timnas Pantai Gading pada Piala Afrika 2024.
Satu-satunya gol di semifinal melawan Republik Demokratik Kongo yang membawa tuan rumah ke final.
Dengan jalan terjal menuju final itu, Pantai Gading membuktikan masih menjadi salah satu kekuatan di Benua Afrika.
Dalam penampilannya di Piala Afrika 2024 lalu, Haller tampil heroik.
Ia sempat mencetak satu-satunya gol di semifinal melawan Republik Demokratik Kongo yang membawa tuan rumah ke final.
Padahal tim yang juga diperkuat Frank Kessie itu hampir tersingkir di babak penyisihan grup. (*)
Editor : Salis Ali Muhyidin