Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Wadahi Klub Tradisional dan Pemanah Baru

Ali Sodiqin • Kamis, 14 Desember 2017 | 14:34 WIB
wadahi-klub-tradisional-dan-pemanah-baru
wadahi-klub-tradisional-dan-pemanah-baru

BLIMBINGSARI – Suasana di lapangan AIL Rogojampi terasa cukup terik, Minggu (10/12) siang. Meski hawa terasa cukup panas, namun hal tersebut terlihat tidak menghalangi semangat ratusan pemanah yang mengikuti Kejurkab Perpani yang digelar selama satu hari penuh itu.

Ada lebih dari 150 pemanah, mulai dari usia pelajar hingga dewasa yang terlihat turun di kejuaraan yang pertama kali digelar secara mandiri oleh Persatuan Panahan Indonesia (Perpani) Banyuwangi itu. Di awal kejuaraan, puluhan pemanah berusia dewasa dengan menggunakan alat panah tradisional terlihat membuka pertandingan. Mereka tampak sigap melesakkan anak panah yang sebagian terbuat dari kayu dan paralon itu menuju tiga titik sasaran yang dipasang di tengah lapangan.

”Ini Kejurkab pertama yang diselenggarakan secara mandiri dari dana Perpani. Ada sekitar 22 kelas yang kita pertandingkan, mulai dari standar bow, tradisional bow, dan compound,” ujar Ketua Perpani Banyuwangi Budi Wijayanto. Dia juga menambahkan, Kejurkab ini menjadi ajang untuk mengevaluasi hasil latihan bagi puluhan siswa yang menjadi anggota baru mereka setelah mulai membuka ekskul panahan tiga bulan lalu.

Tak hanya itu, beberapa klub panahan tradisional yang juga mulai dirangkul Perpani Banyuwangi juga ikut diberi kesempatan menunjukkan hasil latihan mereka selama ini. ”Kita coba wadahi semua kelas. Untuk di level provinsi dan nasional, memang belum ada kelas untuk tradisional secara resmi. Tapi untuk di kabupaten, rata-rata sudah mulai mewadahi. Kebetulan ada klub-klub di sini yang memiliki alat-alat berupa busur tradisional. Dan alat-alat itu dibuat oleh pengrajin lokal. Makanya ada yang terbuat dari fiber, paralon dan bamboo. Semua kita wadahi,” jelas pria yang akrab disapa Totok Panahan itu.

Sedangkan untuk di kelas compound, Budi mengatakan jika hanya ada sekitar tujuh atlet yang memiliki alat tersebut di kejuaraan ini. Karena itu untuk kelas compound diselenggarakanya di pertandingan eksebisi.

“Yang standar bow paling banyak. Untuk alat ini nomornya ada hingga PON. Ada sekitar 40 unit busur yang kita miliki dan semuanya kita sediakan. Jadi jangan sampai ada atlet yang datang tapi tidak bisa main hanya gara-gara alat. Ini juga menjadi ajang evaluasi untuk semuanya yang ada di bawah naungan perpani,” tegasnya.

Sementara itu, perwakilan dari klub Lare Islam (Laris) yang turun membawa sekitar 12 orang pemanahnya mengatakan, bahwa meski mereka menggunakan alat tradisional namun hal itu tidak menghalangi skill mereka untuk melesakan alat panah. Bahkan dia mengaku terbiasa menggunakan sasaran dengan jarak 25 meter, sehingga dengan jarak lebih pendek yang diberikan panitia di kejuaraan tersebut, timnya mengaku lebih mampu.

Editor : Ali Sodiqin