RADAR BANYUWANGI - Berdiri sejak Juni 2023, komunitas bernama Sadtrue Bike Club (SBC) Banyuwangi, Jawa Timur, masih tetap eksis hingga sekarang.
Setiap Minggu pagi, puluhan orang dari berbagai latar belakang berkumpul untuk bersepeda. Rute yang dikayuh bervariasi tiap pekannya, mulai dari 20 kilometer hingga 60 kilometer.
Berdirinya komunitas SBC bermula dari tujuh orang yang merasa depresi akibat tekanan pekerjaan. Untuk mengatasi stres, dipilihlah kegiatan bersepeda.
Kebetulan, dari tujuh orang itu masing-masing punya unit sepeda. Stress release begitu komunitas ini menyebutnya.
”Komunitas ini terbentuk dari orang-orang yang sering kena stres. Karena itu kita butuh stress release, akhirnya memilih aktivitas bersepeda,” ujar Furkon Islam Ramadhan, 31, Ketua SBC.
Untuk mempermudah komunikasi, Rama—panggilan akrab Furkon Islam Ramadhan, mengatakan bahwa tujuh sekawan itu kemudian membentuk grup percakapan di WhatsApp.
Satu, dua, tiga kali mereka mengikat janji bertemu untuk bersepeda setiap pekannya. Hingga akhirnya menemukan kenyamanan bersama dan memutuskan untuk mengambil nama resmi sebagai komunitas.
Nama Sadtrue Bike Club merupakan plesetan dari ungkapan ”satru” yang dalam bahasa Jawa bermakna ’bertengkar’.
Aktivitas bersepeda ini awalnya sangat membosankan. Mereka hanya berbaris dan tidak ada interaksi apa pun antarsesama anggotanya saat di jalan.
”Krik-krik itu sudah, semua hanya fokus dengan jalan dan sepedanya. Hanya saling pandang tanpa bicara. Akhirnya ada yang nyeletuk, kayak orang satru saja. Di situlah nama komunitas ini diadopsi,” jelas Rama.
Lambat laun komunitas ini terus berkembang, Banyak khalayak dengan kondisi ”sejenis” mulai bergabung untuk sekadar melepaskan stres.
Total saat ini ada sekitar 30 orang yang telah bergabung ke dalam SBC. Anggota komunitas ini didominasi oleh kaum laki-laki. Adapun berbagai profesi yang bergabung di antaranya pengusaha, pekerja kantoran, PNS, guru, sales, petani, dan profesi lainnya.
Tidak hanya melepas stres saja, komunitas ini berkembang menjadi media untuk bercerita seputar beban kerja yang sedang dihadapi.
Terkadang, dari obrolan bersama dapat tercetus gagasan baru dan solusi yang cemerlang.
”Semua profesi ada, paling muda usia 30 tahun dan paling tua umur 50 tahunan. Kalau sudah kumpul semua ada cerita, berbagi pengalaman dan sering banyak ide-ide gagasan bermunculan,” jelas Rama.
Komunitas ini kerap menggelar event kebersamaan. Seperti event rutin ”paepae” yang diadopsi dari game Alleycat, yakni bersepeda dengan aturan main.
Pada intinya, ada dua hal yang harus diperhatikan, yaitu cek poin dan kecepatan. Pembalap dengan waktu tercepat dan berhasil melewati semua cek poin adalah pemenangnya.
”Bebas mau cari rute mana saja, lewat jalan terabasan juga boleh. Asalkan cepat dan sampai di cek poin,” katanya.
Selain kecepatan, kemampuan berpikir dan analisis sangat dibutuhkan, demi efektivitas dan efisiensi jarak tempuh. Menurut Rama, game paepae ini memberikan keseruan bagi semua anggota.
Selain itu, jiwa kompetitif akan terasah, dengan hadiah utamanya adalah hiburan.
Selain rutinitas setiap Minggu pagi pukul 06.00 WIB, anggota SBC terkadang juga bersepeda di malam hari. Ini dilakukan semata untuk menantang adrenalin para anggotanya. Suatu ketika, event malam ini dilakukan dengan aturan semua anggota wajib berkostum hantu.
Rute yang dilalui pun menyesuaikan tema horor. Akhirnya dipilih rute kuburan, tepian hutan, dan tempat-tempat yang jauh dari permukiman.
”Karena sudah ramai dan bareng-bareng sehingga tidak ada kata takut atau perasaan cemas di malam hari. Yang ada malah semuanya tertawa,” katanya.
Rama menyatakan, bagi masyarakat di Banyuwangi yang ingin bergabung komunitas Sadtrue Bike Club caranya cukup gampang. Pertama, siapa pun harus terlebih dahulu ikut berkegiatan selama beberapa kali.
Setelah itu, imbuh Rama, akan dimasukkan ke dalam grup obrolan dan telah dianggap resmi bergabung.
”Datang saja setiap hari Minggu pagi di RTH Maron, Genteng. Coba dulu ikut beberapa kali, jika nyaman dan bisa beradaptasi baru nanti kita masukkan ke grup,” tandasnya. (cw4/aif/c1)
Editor : Ali Sodiqin