Dua insiden kecelakaan menimpa rider marshall pada etape kedua ITdBI. Dari insiden tersebut masyarakat bisa melihat sendiri bagaimana peran dan risiko marshall selama menjaga kelancaran event balap sepeda tersebut. Para marshall di Banyuwangi sudah bertugas sejak awal event Tour de Ijen tahun 2012 silam.
Koordinator Marshal ITdBI 2024 John Eva mengatakan, ada delapan marshall nasional dan 32 marshall Banyuwangi yang ikut bertugas dalam ITdBI tahun ini. Jumlah itu sudah sesuai dengan standar yang sudah ditetapkan oleh organisasi balap sepeda internasional (UCI).
Mayoritas marshall yang turun pernah bertugas sejak Tour de Ijen edisi pertama. Mereka terbagi sesuai dengan tugas masing-masing.
Mulai dari marshal hazard yang bertugas memberikan tanda pada pembalap, terutama untuk mengenali ada halangan apa pun di jalan. Seperti tikungan, rel kereta, jalan rusak atau kendaraan mogok. Termasuk memastikan jalan tak dimasuki penonton.
”Ada marshall media untuk membantu tugas media. Menjadi pilot fotografer dan videografer selama balapan. Ada marshal pilot commisaire yang membawa juri perlombaan. Lalu ada juga bertugas membantu live streaming,” papar John.
Dengan berbagai tugas ini, para marshall harus benar-benar fokus dan serba bisa. Sejak Banyuwangi rutin menggelar event balap sepeda, kemampuan para marhsall terus di-upgrade.
Baca Juga: Dewan Sahkan Raperda RPJPD Tahun 2025–2045, Visi Banyuwangi Harmoni, Maju, dan Berkelanjutan
Di samping belajar di workshop untuk memperdalam ilmu tentang balap sepeda dan pengamanannya, para marshall juga belajar dari setiap kasus yang ada. Beruntung, sejak awal anggota marshall tak banyak berubah sehingga mereka bisa memberikan pelayanan yang optimal.
”Kami ini awalnya dari satu komunitas motor Banyuwangi Tiger Rider (BTR). Dispora mengajak kami mendampingi event balap sepeda. Setelah itu baru kami belajar menjadi marshall. Awalnya dari komunitas kemudian jadi profesi,” tutur John.
Selain di Tour de Ijen, John kerap ikut menjadi marshall di event balapan di luar daerah, termasuk luar negeri seperti di Thailand dan Malaysia. Pengalaman itulah yang terus dikembangkan dan ditularkannya agar tim marshall di Banyuwangi semakin profesional.
”Tahun ini dari marhsall nasional ada delapan orang termasuk saya yang membantu di ITdBI. Yang asli Banyuwangi hanya saya, jadi kami terus bekerja sama,” tandasnya. (aif/c1)
Editor : Niklaas Andries