Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Suka Duka Liaison Officer Menemani Pembalap Tour de Ijen 2024: Selalu on Time, Pagi Hari Minta Dibelikan Martabak

Fredy Rizki Manunggal • Rabu, 24 Juli 2024 | 05:09 WIB

KOOPERATIF: Seorang LO menempel ketat pembalap usai finis di depan kantor Pemkab Banyuwangi Selasa (23/7).
KOOPERATIF: Seorang LO menempel ketat pembalap usai finis di depan kantor Pemkab Banyuwangi Selasa (23/7).
Radarbanyuwangi.id - Kiprah liaison officer (LO) tak pernah lepas dari penyelenggaraan International Tour de Banyuwangi Ijen (ITdBI). Pada event yang kesembilan ini, peran mereka tetap dibutuhkan untuk mendampingi pembalap yang berlaga di ITdBI.

Tidak ada yang lebih sibuk dari para LO ketika event balap sepeda level dunia itu dimulai. Anak-anak muda yang direkrut Pemkab Banyuwangi mendampingi para pembalap yang mayoritas berasal dari mancanegara, selalu menjadi bagian penting dari ITdBI.

Sejak pembalap menginjakkan kaki di Bumi Blambangan, para LO yang didominasi perempuan, selalu mendampingi aktivitas pembalap. Mulai dari persiapan sejak bangun pagi, balapan, hingga memenuhi kebutuhan selama tinggal di Banyuwangi.

Koordinator LO ITdBI Aekanu Haryono menceritakan, pihaknya sudah memberikan pembekalan kepada LO sejak bulan Mei lalu. Awalnya, ada 111 orang yang mendaftarkan diri sebagai LO. Setelah melalui tahapan seleksi dan wawancara, akhirnya terpilih 20 LO yang terdiri 17 perempuan dan 3 laki-laki.

”Syarat utama memiliki kemampuan bahasa dan kemampuan fisik. Menjadi LO ini melelahkan. Yang kami pilih adalah duta dari Banyuwangi yang akan dikenal oleh para pembalap asing,” kata Aekanu.

Setelah terpilih, para LO kemudian dibekali dengan berbagai materi tentang hospitality. Seorang LO harus menjadi penyambung. Tidak mudah panik saat menghadapi masalah di lapangan. Bahkan, tidak boleh takut darah. Sebab, ada kemungkinan LO harus melihat pembalap yang mungkin terluka selama balapan.

Banyaknya LO perempuan, menurut Aekanu, juga memiliki pertimbangan tersendiri. Perempuan cenderung lebih tenang. Apalagi, seluruh pembalap adalah laki-laki.

”Semua tim motivasinya menang. Kalau LO-nya perempuan, pembalap tidak mungkin menyuruh angkat-angkat. Pasti sudah sesuai tugasnya, hanya untuk mendampingi,” jelas Aekanu.

Aekanu selalu mengingatkan kepada LO untuk telaten menghadapi pembalap. Bahkan, tak jarang banyak pembalap yang mentalnya drop atau mood-nya buruk setelah balapan. LO inilah yang bertugas membantu para pembalap agar kembali bersemangat dan siap kembali turun di balapan selanjutnya.

”Ada beberapa pembalap yang mood-nya jelek karena kalah, tidak mau diajak bicara, tidak mau diajak foto. Setelah dibujuk sama LO akhirnya mau lagi. Ini salah satu kemampuan yang perlu dilatih LO,” imbuh Aekanu.

Berkat konsistensi menyiapkan LO sejak balapan tahun 2012, Aekanu kerap diingat manajer tim sepeda. Terutama tim yang tak pernah absen di ITdBI seperti Kinan dan St. George.

”Banyak pembalap yang terkesan dengan LO. Setelah datang lagi ke Banyuwangi, sebagian pembalap masih ingat dengan LO. Di tempat lain, LO hanya mengurus balapan saja, di sini kita mengurus mulai bangun pagi sampai menyiapkan lokasi toilet,” ungkapnya.

Salah seorang LO yang mendampingi tim St. George Continental, Nisa Zahrofa menceritakan, sebelum bertugas, dia sempat mendengar profil tim St. George yang terkenal cuek dan tidak kooperatif. Nisa juga sempat merasakan saat berusaha menghubungi pembalap lewat ponsel. Jawaban pembalap asal Australia sekenanya.

Nisa pun berpikir tugasnya akan semakin berat ketika bertemu di lapangan. ”Waktu saya chat saat landing dari Bandara Ngurah Rai Bali, jawabannya cuek sekali. Dari situ saya sempat berpikir, benar apa yang dikatakan teman-teman kalau tim St. George sering membuat LO menangis,” kisah Nisa.

Begitu tetap muka, ternyata manajer tim tidak sekaku yang dipikirkan. Justru mereka banyak meminta maaf ketika merepotkan LO. ”Yang paling saya perhatikan adalah mereka disiplin sekali masalah waktu. Sangat on time. Pernah dijadwal berangkat pukul 06.45, tapi patwalnya datang pukul 07.00. Mereka langsung berangkat saja, akhirnya patwal yang mengejar,” kata Nisa.

Dia juga mengingat salah seorang pembalap meminta dibelikan martabak mini untuk balapan di stage pertama. Padahal, tidak ada penjual martabak mini yang buka pada pagi hari.

”Manajernya juga punya waktu sendiri. Di atas pukul 21.00, dia tidak mau buka handphone sampai pukul 05.00. Itu sudah jadi ketentuan, jadi kita menyesuaikan,” imbuh mahasiswi Hubungan Internasional Universitas Negeri Jember itu.

Ada beberapa LO yang sudah beberapa kali ikut di ajang ITdBI. Salah satunya Hesti Dwi Septini. Alumnus Universitas Negeri Malang itu mengaku sudah sejak tahun 2019 menjadi LO.

Saat itu Hesti mendampingi timnas Malaysia. Tahun ini, Hesti mendampingi tim asal Jepang, yaitu Kinan Racing Team. ”Senang bisa kembali ikut, bertemu orang baru dan belajar banyak hal. Terutama kedisiplinan dan ilmu tentang balap sepeda,” kata Hesti.

Yang pasti, menurut gadis asal Kelurahan Kampung Mandar itu, menjadi LO Tour de Ijen harus memiliki fisik yang bagus. Sebab, tugasnya benar-benar menguras energi. Mendampingi agenda tim dan mobilitas mereka selama di Banyuwangi.

”Meskipun lelah, tapi senang. Ini juga bagian dari kontribusi saya sebagai warga Banyuwangi untuk Banyuwangi meskipun sedikit,” ucapnya.

Tahun ini, banyak tim-tim dari Jepang yang turun di ITdBI. Faktor penggunaan bahasa Inggris yang juga jarang digunakan orang Jepang, rupanya juga menjadi tantangan tersendiri bagi LO.

Mirsa, LO dari tim VC Fukuoka mengaku harus belajar memahami keinginan timnya karena banyak dari mereka yang juga tidak berbahasa Inggris. Meski demikian, Mirsa mengaku sangat senang karena orang-orang Jepang ini cukup welcome dengan dirinya. ”Manajemen waktu sangat disiplin. Cuma kalau belanja mereka ini irit sekali. Saya harus mencarikan barang dengan harga paling murah,” kata Mirsa sembari tertawa. (aif/c1)

Editor : Niklaas Andries
#Liaison Officer #pembalap #2024 #pemkab banyuwangi #Duta #LO #bandara ngurah rai #itdbi #pembalap asing #banyuwangi #australia