Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Kisah Sumiati, Penjual Gorengan di Situbondo yang Antarkan Tiga Anaknya Bergelar Sarjana

Redaksi • Selasa, 22 April 2025 | 15:35 WIB
PEJUANG KELUARGA: Sumiati berada di warungnya, menjual gorengan dan kopi di kawasan Terminal Kota Situbondo, Senin (21/4).
PEJUANG KELUARGA: Sumiati berada di warungnya, menjual gorengan dan kopi di kawasan Terminal Kota Situbondo, Senin (21/4).

RADARBANYUWANGI.ID - Usianya sudah 62 tahun. Namun Sumiati masih terus berjuang demi memenuhi kebutuhan ekonominya.

Dulu dia masih kuat menjaga warungnya hingga 24 jam. Namun tidak untuk saat ini. Kegigihannya mampu mengantarkan anak-anaknya selesai mengenyam pendidikan hingga perguruan tinggu.

Sumiati mulai merantau sejak usia 19 tahun. Dia rela meninggalkan tanah kelahirannya, Kepulauan Madura karena mengalami kesulitan ekonomi yang cukup ekstrem. 

Dia pun memutuskan mencari nafkah di Kabupaten Situbondo bersama suaminya.

Setelah 47 tahun berlalu, Sumiati kini tinggal sendirian di terminal, berjualan kopi dan gorengan. Sang suami meninggal dunia.

“Sejak ditinggal suami, saya sendirian berjualan di terminal hingga waktu magrib tiba. Setelah itu, anak saya membantu menggantikan saya sampai pagi,” ujarnya.

Menjalani hidup sendirian bagi Sumiati bukanlah perkara yang mudah. Namun, dia tidak pernah menyerah. Suamiati tetap bersemangat menjalankan warungnya, meski hanya menjual kopi dan gorengan.

"Ini yang bisa saya jual, kalau rejeki saya, pasti akan datang ke saya. Saat suami masih ada, saya dulu menjaga warung hingga 24 jam, namun kini hanya bisa sampai jam delapan malam (20.00). Setelah itu, anak pertama saya yang menjaga warung hingga menjelang pagi," katanya.

Sumiati bersyukur dengan penghasilannya menjual kopi dan gorengan, dia mampu menyekolahkan anak-anaknya hingga selasai di perguruan tinggi. Mereka saat ini juga telah telah memiliki keluarga.

“Meski anak saya belum menjadi orang penting, namun saya bahagia karena sudah menyelesaikan tanggung jawab sebagai orang tua,” jelasnya.

Kisah Sumiati bisa jadi merupakan inspirasi bagi banyak orang tentang ketangguhan dan semangat seorang perempuan dalam menghadapi kesulitan hidup.

Dia adalah pahlawan bagi keluarganya. Meski usia sudah lanjut, Sumiati tetap produktif, berjuang menyambung hidup.

“Semangatnya yang tak pernah padam patut menjadi contoh bagi kita semua, mengingat hari ini (kemarin) kita memperingati Hari Kartini yang menulis buku ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’,” tegas Ervan Hidayatullah salah satu warga yang sekali waktu berkunjung ke warung Sumiati. (m rifai/pri)

Editor : Ali Sodiqin
#kartini #sarjana #situbondo #Penjual Gorengan #hari kartini #s1 #terminal #penjual kopi